DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
ANCAMAN


__ADS_3

Aku memutuskan mengikuti semua saran Mas Gaga. Aku ikut Miranda berlibur, meninggalkan kekacauan disana untuk Mas Gaga. Edward bertanya kenapa harus berlibur pada waktu sekolah, tapi dengan jawaban yang sedikit berbohong dia hanya diam. Aku tau putraku, seorang anak yang penuh pengertian. Dan aku juga tau, dia tidak akan tinggal diam selama rasa penasarannya belum hilang.


Sudah dua hari berjalan selama aku sampai di tempat Miranda.


Mas Gaga selalu memberi kabar perkembangan kasus pencemaran nama baik yang di lakukan Reza kepada kami.


Bahkan katanya Mama dan Papa Abraham berulang kali kerumah. Aku bingung harus percaya bahwa mereka tidak terlibat atau tidak. Lalu kenapa mereka diam saat tau anaknya terus menyakitiku dan bahkan cucunya. Tapi jika mereka tidak tahu, mungkin saat ini mereka juga ingin merebut Edward dariku. Mereka telah kehilangan Mikola bukan tidak mungkin mereka menginginkan Edward.


"Mbak, sudah dong. Jangan di pikirkan terus, Mbak juga harus mikirin si cabang bayi di kandungan. Mbak tenang saja, aku yakin Mas Gaga pasti akan berhasil dan semua akan berjalan sesuai keinginan kita. Yang salah akan dapat hukuman, sudah ya Mbak. Lagipula mereka tidak layak menjadi fokus Mbak." aku kaget saat Miranda mengusap bahuku. Aku mengangguk tapi tetap saja, hati ini resah dan takut.


Reza dan Clara terlalu gila, sampai harus menyebarkan segalanya kedalam ranah publik. Bayangkan saham perusahaannya yang terus merosot, bahkan banyak kerjasama yang putus karna ini. Mereka telah menghalalkan segalanya agar mendapat dukungan.


Tapi aku yakin itu tidak membuat mereka dapat simpatik malah sebaliknya. Aku hanya takut, orang yang sudah terlanjur gila itu membuat hal yang tidak tidak.


Apa mereka tidak berpikir bagaimana kehidupan Edward setelah masalah ini?.


Apa mereka tidak berpikir bagaimana mentalnya, Edward?.


Anak sekecil ini mereka lempar dengan masalah besar dan menanggung akibat dari kami semua. Ini kesalahanku yang fatal karna memilih lelaki yang salah, ini salahku, semua salahku!!!.


Entah bagaimana aku harus bersikap di depan putraku, nanti. Jawaban apa yang harus ku jelaskan padanya. Kepalaku di penuhi pertanyaan yang berakhir dengan jawaban buntu.

__ADS_1


Apa senyumnya yang manis itu akan terus terukir? Betapa hancur hatiku melihatnya tertawa lepas saat ini, setelah mengingat masalah yang sedang kami hadapi. Kenapa harus Edward yang menanggung?.


Melihatnya bercanda dengan Mikola, senyumnya terukir indah. Guratan bibirnya menghias pipinya yang gembul. Keceriaannya akankah terus ada?.


"Maafkan Mommy, Nak..." lirihku.


Air mataku terus mengalir, padahal aku tidak memintanya keluar.


"Mbak..." tepuk Miranda pada bahuku.


"Sudahlah, Mbak. Percayalah pada Tuhan dan teruslah meminta kepadaNya agar semua ini segera selesai dengan akhir yang kita inginkan. Mbak harus ingat, Edward adalah putra dari Mas Gaga. Dia bukan anak lelaki yang cengeng, gampang di pengaruhi atau penakut. Ingatlah, Mbak. Anakmu itu lelaki tanggung, kuat dan berpikir luas." Miranda menasehati ku, memang benar Edward berbeda dari anak seusianya. Tapi dia tetaplah anak kecil bagiku.


"Semoga saja, aku takut pertumbuhannya terganggu." jawabku.


"Yakinlah pada anakmu, Mbak. Dia bukan lelaki lemah." Miranda tersenyum padaku dengan sekuat tenaga aku membalas senyumannya.


"Oh iya, Mbak ingatkan saat Edward membantu Mas Gaga untuk mendapatkan proyek di Kalimantan waktu itu. Freddy yang cerita padaku, betapa hebatnya Edward di dalam rapat itu. Mas Gaga yang sedang sakit, di dampingi Edward di sisinya berhasil memenangkan proyek itu. Padahal lawannya luar biasa, bahkan Freddy tidak mampu mendapatkannya. Dalam waktu singkat Edward mempelajari materi dan presentasi di depan semua orang. Anak usia empat tahun Loch, Mbak. Aku sendiri belum tentu sanggup." ucapnya antusias. Mungkin maksudnya menghiburku tapi hatiku tetap tidak tenang.


"Itu hanya keberuntungan, Miranda. Karna mereka tidak menyangka Edward berani tampil, mereka mungkin hanya terpukau sehingga memberikan proyek itu kepadanya, karna percaya pada Mas Gaga." ucapku.


"Iya bisa anggap seperti itu, Mbak. Tapi kita bisa ambil positifnya, Mbak. Anak sekecil itu berani tampil di depan banyak orang yang memiliki kharisma yang kuat. Mungkin anak seumurannya akan takut bahkan menangis."

__ADS_1


Aku tidak bisa membantu itu, karna Edward memang berdiri di tengah tekanan para pebisnis besar. Aku sendiri belum tentu berani berdiri sendiri, tapi dia begitu gagah di depan sana. Aku teringat jelas perkataanya waktu itu.


"Daddy jangan khawatir, ini proyek penting untuk perusahaan kita, kan? Aku tidak akan melepasnya, ini hadiah untuk Daddy yang sudah bersusah payah hingga jatuh sakit." ucapan itu bukan ucapan anak kecil usia empat tahun. Tapi memang itu yang ku dengar dengan jelas di telinga.


Bahkan dia melarang ku membantunya. Di tekan beberapa lawan, dia tetap tenang duduk di sisi Daddy-nya. Aku harus yakin, bahwa anakku luar biasa. Dia tidak akan mudah goyah hanya dengan masalah, bahkan dia sudah bisa membedakan yang benar dan salah. Bahkan mahir negosiasi.


Aku menarik nafas panjang dan membuangnya. Hatiku sedikit tenang, aku harus menjelaskan segera mungkin pada Edward masalah ini. Jangan sampai dia kaget pas sidang nanti. Kami harus membantu Mas Gaga mengatasi masalah ini dengan benar. Aku yakin Edward bisa, aku yakin itu!!!.


"Terimakasih, Miranda. Hatiku sedikit lega mengingat peristiwa langka itu. Ya kamu benar, Edward bukan sekali dua kali memenangkan proyek. Walaupun proyek kemarin benar benar menggemparkan dunia bisnis dan mungkin karna itu Reza ingin merebut Edward dan ingin menyandang nama sebagai "Ayah kandung Pangeran Bisnis" yang mereka juluki untuk Edward."


"Iya, Mbak. Mbak harus percaya pada Edward. Dia bisa mengatasinya." dia mengenggam erat tanganku.


"Tapi apakah Edward akan memihak Reza, Miranda?. Apalagi setelah dia tau kalau Reza adalah ayah kandungnya." pikiranku memang menjalar ke segala arah. Membuat hati dan tubuhku hancur perlahan.


"Mbak... Mbak gak usah banyak berpikir. Dari kecil Edward selalu bersama Mas Gaga. Tidak mungkin dia memilik ayah yang menelantarkan dia, bahkan sekarang menyebarkan aib dirinya. Tenang saja Mbak, dia anak pintar." ucapnya. Aku mengangguk.


"Semoga saja.. Semoga semua kembali tenang, biarkan Edward menikmati masa kecilnya dengan baik." ucapku tulus dari dalam hati. Aku pilu mengingat di saat mengandung Edward harus berpisah dengan Mas Reza. Dan bahkan hidup sendirian di tempat asing. Untungnya selalu ada Mas Gaga di sisiku menemaniku dan menjaga Edward dengan baik.


Aku tak perlu takut, aku yakin anak dan suamiku akan tetap bersamaku. Aku harus belajar tenang dan tegar seperti mereka, agar aku tidak selalu membuat mereka khawatir.


Edward perlu dukungan dan perhatian dariku, aku tak seharusnya malah menjadi lemah di sisinya. Mas Gaga juga sudah sangat direpotkan dengan masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2