
Pernikahan yang ku nanti malah terasa hambar.
Tatapan mata kedua keluargaku seakan menyimpan iba dan rahasia untukku.
Malam ini kami menginap di kamar hotel yang sudah di pesan.
Mas Reza sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.
Ada perasaan mengganjal di hatiku, entah apa.
Apa karna ini malam pertama pernikahan kita, tapi ini bukan yang pertama untuk kita.
Lantas kenapa perasaan ini bukan perasaan yang ku harapkan.
Mas Reza keluar dengan mengusap rambutnya yang basah, mendekatiku dan mengecup kepalaku.
"Sayang, kok melamun. Kenapa, sayang ?" menatapku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Ada apa, sayang ?" dia duduk di hadapanku dan mengenggam erat tanganku.
__ADS_1
Ada perasaan sakit dan kecewa terbesit di hatiku. Tapi, kenapa!!!
Apa yang dia lakukan sehingga ada perasaan, ini.
Dia menatapku dengan tatapan lembut, mengecup telapak tanganku membuatku tersadar.
"Ah gak, mas. Kamu kenapa gak pake baju, baju sudah disiapkan di atas tempat tidur." aku melirik baju tidur yang sudah ku siapkan di atas kasur.
Dia tersenyum devil, menurun naikan alisnya.
"Kamu kenapa ?" aku bertanya bukan berarti tak mengerti maksudnya, entah kenapa aku enggan melakukan itu bersamanya malam ini.
Aku beranjak meninggalkannya di balkon tempat kami duduk.
"Pakailah, Mas. Aku lelah hari ini dengan atribut pernikahan dan segala sesinya aku mau, tidur." aku segera meninggalkannya yang masih menatapku penuh tanya.
Ku raih selimut ku tutup hingga ke dadaku.
Dengan segera ku pejamkan mataku, walau sebenarnya mata ini belum ini terlelap.
Mas Reza mendekatiku. Meraih pinggangku dan mendekap ku dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tidurlah, sayang. Jika malam ini kamu lelah, aku tidak akan memaksa." mengecup kepalaku dan mengeratkan pelukannya.
Perkataannya menyakitkan untukku, entah bagian mana hatiku sakit dan pedih. Adakah yang salah dengan diriku atau dirimu, Mas.
***
Ada apa dengan, Bella. Semenjak hari pernikahan sikapnya sedikit, ralat bukan sedikit tapi berubah. Dia yang hangat menjadi dingin. Dia yang lembut menjadi acuh. Ada apa dengannya? Apa karna kehadiranku yang terlambat, tapi itu hanya beberapa menit dan alasanku cukup karna memang jalanan macet.
Walau sebenarnya ada alasan lain.
Aku termenung saat dia datang memberiku baju ganti dan berkata jika dia lelah.
Pernikahan ini dialah yang selalu antusias, bahkan sampai mendesain sendiri gaunnya. Lantas kenapa semenjak duduk di pelaminan, wajahnya muram bahkan tak sedikit dia menghindari ku.
Aku tau dia belum tidur, karna aku hafal raut wajahnya yang benar bener sudah tidur.
Ku naik ke atas tempat tidur, ku raih pinggangnya dan ku bawa dia dalam dekapanku.
"Tidurlah, sayang. Jika malam ini kamu lelah, aku tidak akan memaksa." ucapku agar Bella merasa tenang. Mungkin benar dia lelah, ya pasti lelah karna prosesi pernikahan kami yang panjang.
Aku mengecup kepalanya dan mendekapnya erat.
__ADS_1
Aku berharap semoga besok dia akan kembali seperti dulu, gadis hangat, lembut dan pengertian. Gadis yang penuh cinta dan yang ku cintai. Bella Saphira dia, istriku.
Semoga malam ini terlewati dengan indah, walau tanpa ada proses penyatuan. Lagi pula ini bukan malam yang pertama untukku, lantas untuk apa aku kecewa. Hanya saja, malam ini adalah malam pernikahan kami yang di saksikan seluruh keluarga yang menjadi spesial. Aku sedikit, kecewa.