
Reza yang melangsungkan pertunangan di hotel Royal Garden dengan megah.
Seluruh karyawan di bawah naungan perusahan yang Reza pimpin di beri hadiah.
"wah gilanya,, hadiah pertunangan bos kita bisa rasain Broo.. tapi sayang ya,, bos sudah sold.. padahal gw udah ngincar." celoteh Sisi.
Bella yang enggan menanggapi ucapan Sisi hanya tersenyum.
"bagai langit dan bumi Si.. Mana bisa kita ma seorang Ceo.. ketemu aja belum kan lu.." tertawa asisten manajer meledek Sisi.
Mereka tertawa bersama menikmati cake yang di bagikan oleh asisten Bos yaitu Glen.
Ntah alasan apa, tapi Bella merasa begitu sakit hati mendengar berita pertunangan ini.
Seperti dia yang dikhianati.
Bella pindah ke balkon kantornya.
Bella duduk dan menyeruput es kopi di tangannya.
Bella mencoba mencari kenapa perasaannya sakit.
"Permisi.."
Bella menoleh ke pusat suara.
"Boleh ikut duduk, kebetulan cape habis muter kantor.." ujar lelaki tinggi bersih dan lumayan tampan. Dia tersenyum kepada Bella. Bella mengangguk kepalanya.
__ADS_1
" kok sendirian disini ?" tanya Glen.
" akh iya lagi istirahat aja.." jawab Bella yang menatap arah luas pandangannya.
" kenalin aku Glen, asisten pribadi bos.." mengulurkan tangannya. Bella menanggapinya, karna tidak sopan jika mengabaikan orang yang lebih tinggi jabatannya di kantor.
" aku Bella.." singkat Bella melepas jabatan tangannya.
" senang kenalan sama kamu cantik.." Bella menoleh karna sedikit tak nyaman dengan sapaan dari Glen. Bella mengangguk pelan.
Terasa canggung Bella berduaan dengan Glen.
Karna Bella Sadar dia sudah menikah dan sangat menjunjung nilai pernikahan.
Bella hendak bangkit, Glen membuka pembicaraan. Bella duduk kembali.
" kamu pernah ketemu sama bos kita Bell ?" tanya Glen
Glen bertanya seolah-olah dia tak tau, jika di perusahaan cabang ini sulit sekali menjumpai bos. Bella hanya menggelengkan kepalanya.
Glen tersenyum dan melanjutkan ucapannya.
" tapi kita patut bersyukur, di saat pesta pertunangannya ini kita makan enak, dan di kasih free satu hari santai.." tawa riang Glen.
Sekali lagi Bella hanya mengangguk karna dia malah merasakan sakit hati di saat mendengar ucapan "pertunangan" itu.
Seolah Glen ingin terus mengorek lebih dalam tentang Bella.
__ADS_1
Glen terus menahan Bella yang sebenarnya sudah tak nyaman.
Lama terdiam di suasana yang canggung.
Karna Bella enggan berbicara dengan pria lain.
" akhir pekan ada acara Bell ?" Glen membuka pembicaraan.
" ada.." Bella menjawab dengan berbohong.
" oh iya pasti ya, namanya akhir pekan pasti di habiskan dengan keluarga atau orang tersayang.." senyum Glen. Di anggukan Bella tanpa menjawab.
"kapan kapan kita makan bareng yaa, aku yang teraktir sebagai salam perkenalan.." ucap Glen bangkit, melambaikan tangannya kepada Bella.
Bella mendecak. Dia sama sekali tidak terbiasa bergaul dengan lelaki lain semenjak pernikahan mereka. Walaupun sampai saat ini mereka belum bertemu kembali.
" Cieee, abis ketemu secara personal ma asisten bos ya.." ledek Sisi yang melihat Glen keluar dari balkon.
Bella mendengus kesal.
Sisi tertawa, karna Sisi tau Bella sedang tidak mood dengan lelaki. Dia sudah menikah.
" Siapa namanya Bell.." penasaran Sisi.
" Glen " ketus Bella.
" Okey, punya nomor nya gak ? " lirik Sisi.
__ADS_1
Bella memicingkan matanya. Sisi tertawa dan mengangguk anggukan kepalanya, dia paham dengan maksud Bella.
Semenjak hari itu, Glen terus berusaha seolah mereka bertemu tidak sengaja di setiap harinya. Bella yang terpaksa menanggapi Glen karna tak enak hati.