
Tanpa di sadari, mobil yang di kendarai Papa Surya terparkir di depan pemakaman umum Caringin.
Papa duduk di dalam mobil memperhatikan setiap gundukan tanah pemakaman.
Air mata Papa tiba tiba menyusup keluar.
"Ngapain aku disini." mengusap air matanya.
Papa langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya.
Deg
"Kartika." Tangisnya pecah.
Kartika adalah wanita mandiri, gigih dan tangguh. Wanita dengan paras cantik dan lembut. Kulitnya bersih rambutnya hitam terawat. Bola mata yang indah. Kecil tapi sangat mempesona. Tubuhnya ramping dan tinggi. Kartika adalah wanita yang pernah di cintai Surya.
Semua orang mereka pasangan yang sangat serasi. Dengan Sikap Surya yang baik di mata orang tua Kartika. Sehingga mereka menyetujui putri semata wayangnya menikah dengan lelaki yang datang dari kalangan biasa.
Kisah yang di ingat seluruh kawan serta karyawan effort hingga kini. Kebersamaan mereka dalam membangun effort menjadi lebih kuat hingga sekarang.
Mereka saling mencintai satu sama lain, namun akhirnya berpisah dan Surya lebih memilih Melati. Entah angin apa yang merubah Surya pria tangguh dan baik hati hingga menjadi pria egois dan tak berperasaan.
Hanya Tuhan dan dialah yang tau.
Papa Surya turun mendatangi sebuah toko bunga. Di belinya bunga mawar putih kesukaan Kartika. Papa Surya melangkah memasuki pemakaman.
"assalamualaikum"
Papa duduk di pusaran makam.
__ADS_1
"Kartika, aku datang." Air mata terus berderai.
"Aku gak tau kamu suka atau tidak aku datang ke peristirahatan terakhirmu." Mengusap batu nisan bertuliskan nama Kartika.
"Kartika, aku bawa bunga kesukaanmu. Bunga yang biasanya aku bawakan setiap hari." Mengusap air matanya.
"Mungkin sekarang bunga ini sudah tidak bisa membuatmu tersenyum bahagia ya sayang. Luka yang ku berikan begitu besar untukmu."
"Aku sudah membuat kamu, Papa dan Mama kecewa. Aku sudah membuat kalian menderita."
Meletakkan bunga di tangannya.
"Sayang, bolehkan aku memanggilmu dengan kata itu. Aku rindu padamu." Tangisan pecah Papa membuat beberapa orang menoleh.
Sungguh cinta yang dalam, lihatlah sudah usia mulai renta mereka masih saling merindu.. Kata kata yang di lontarkan seseorang melihat Papa yang mengangis.
"Kamu selalu tercantik di hatiku sayang, kamu yang terbaik. Andai kamu tak setulus itu melepas semua aku mungkin akan lebih menyakiti mu."
"Kamu selalu sabar menanti aku menjelaskan semua ini, tapi sampai kamu menutup mata aku blm bisa mewujudkannya. Sayang maafkan aku."
Papa ambruk di sisi pusaran. Duduk bersimpuh memohon ampun di hadapan makam Mama Kartika.
"Melati sudah menyusul mu, apa dia sudah jelaskan sayang ? Sepertinya tidak mungkin." Papa menggelengkan kepalanya.
"Dia begitu keras Sayang, dia tidak pernah mendengar apapun ucapku. Dia begitu nekat. Maafkan aku yang salah membawanya malah menimbulkan kehancuran keluarga kita."
"Aku sangat senang mendengar anak kita masih hidup, terimakasih sayang kamu sudah berjuang membesarkannya sendiri."
"Aku berjanji padamu, belenggu ku sudah hilang. Aku akan berusaha menjadi pria yang kau cintai dulu. Semoga anak kita mau menerima ku."
__ADS_1
"Aku yakin dia mempunyai hati setulus dirimu sayang." Papa Surya yang terus menatap nisan.
"Sayang, anak Sinta masih hidup dan selama ini kami berdampingan. Terimakasih kembali kepadamu yang merawat Sinta dengan baik. Aku yang selalu menyusahkan kamu, tapi kamu yang selalu membereskan semuanya. Maafkan aku sayang, hanya itu yang bisa ku lakukan."
"Aku selalu berharap dan takut. Jika Davina anakku dengan Melati memiliki sifat yang sama dengan Melati. Aku takut untuk menunjukan sisi kemahku padanya. Tapi kamu tau sayang, tadi pagi aku melihat sosoknya jauh berbeda dengan Melati. Aku harap anak anak kita bisa kumpul ya sayang, walau telat aku bisa merasakan memilikinya dan memberinya sepenuh rasa kasih sayang."
Papa mengusap air matanya.
Bangkit berjongkok.
"Sayang, aku memang selalu menyusahkan mu ya, tolong bantu aku dari jauh. Agar anak anak kita mau menerima ku ya. Semoga tidak ada lagi hal yang membuat pecah keluarga kita lagi."
Mencium batu nisan Mama Kartika.
Bangkit setengah berdiri.
"Sayang terimakasih atas semua, terimakasih sudah mendengar curhatku. Sayang nanti aku kembali kesini bersama semua anak kita ya."
"Doakan aku."
Papa meninggalkan makam Mama Kartika.
Di usap air matanya.
Mata dan hidup yang merah.
Baju yang basah.
Pertanda hati pada begitu rindu dengan Mama.
__ADS_1