DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

Mas Reza bilang malam ini akan di adakan makan malam keluarga kedua kalinya.


Semoga kali ini tidak terjadi kesalahan.


Aku sudah memberi kabar kepada Tante Rina.


Kami bergegas menuju tempat yang sudah di reservasi oleh Mas Reza.


"Bismillah, sayang. Malam ini adalah malam baik untuk kita ya." Tante menepuk bahuku. Aku mengangguk.


Malam ini Glen tak hadir alasannya sibuk dengan pekerjaan. Padahal aku sangat yakin dia enggan bertemu dengan Papa.


KREET ...


Di depan meja sudah tersedia makanan dan Papa serta Davina sudah hadir.


Ku lihat juga Mas Reza sudah ada.


Aku berjalan mendekat Mas Reza.


Mengecup punggung tangannya seperti biasa.


"Duduk sini, sayang." pintanya menggeser kursi.


"Tan, ada yang mau di tambah gak menunya ?" tanya Mas Reza pada Tante Rina seraya menyodorkan menu.


Tante menolak, "Cukup Za, kamu pikir makanan segini banyaknya akan habis kita makan." menunjuk meja yang penuh dengan hidangan.


"Ya gak apa, Tan. Kan jarang kita kumpul gini, si "biang kerok" gak datang juga kan." ucapnya.


"Siapa ?" aku memperjelas maksud dari biang kerok.


"Glen, sayang. Siapa lagi yang suka rusuh." tawa riangnya membuatku mencubit perutnya.


AW ...


Jeritnya membuat papa serta Davina yang sedari tadi memainkan ponselnya melirik ke arah kami.

__ADS_1


Membuatku malu di tatapnya, "hmm. Apa kabar, Dav ?"


"Baik." ucapnya ketus.


Aku mengangguk.


"Hmm. Om, sehat ?" aku melirik papaku.


Aku merasakan tatapan dari arah kanan kiri ku. Ya Mas Reza dan Tante Rina sedang menatapku dengan pandangan aneh. Mungkin karna aku memanggil Papa dengan panggilan "Om".


Davina mengangkat alisnya dan membuat pandangannya.


"Baik, terimakasih." jawaban dari papa hanya segitu. Pikirku akan ada pertanyaan lain untukku.


Aku menunduk diam, Mas Reza mengucap pahaku di bawah meja.


"Sudah, sayang. Pelan pelan ya." bisiknya.


"Karna sudah kumpul semua yuk kita mulai, makanya." ajakan Mas Reza dianggukan semua orang.


Kami makan dengan keheningan.


Hanya bunyi sendok dan piring saling beradu.


Setelah selesai Mas Reza mengutarakan langsung tujuan kami.


Meminta restu dan kehadiran Papa dalam pernikahan kami.


"Om, saya mengenal Bella sudah cukup lama. Waktu tiga tahun ini bukan waktu yang singkat. Mungkin terlambat saya meminta ini dari om tapi, ada beberapa hal yang tanpa di sengaja terjadi pada kami saat itu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada om, saya meminta izin meminang anak Om Bella Saphira. Walau dalam keadaan seperti ini, kami ingin om memberi restu serta doa untuk kami." Mas Reza menggenggam tanganku.


"Maaf jika saya lancang om, melamar putri om tanpa kehadiran orang tua saya. Dan juga sebenarnya kami sudah menikah setahun yang lalu." pernyataan ini membuat Davina dan papa Surya membulatkan matanya menatap kami.


"Ya, om mungkin kaget karna baru mendengar ini. Kami sudah menikah resmi setahun yang lalu saat Bella belum mengetahui siapa ayah kandungnya."


Kini wajah papa sedikit muram. Ada sedikit kekecewaan di wajahnya.


"Maaf, jika kenyataan ini melukai hati om sebagai ayah dari Bella, istri saya. Saya juga yakin betul om tahu keadaan yang sebenarnya, benar ?."

__ADS_1


Papa Surya mengangguk.


"Jadi bagaimana, om bisa hadir di acara pesta kami ?"


Keheningan sesaat sampai tiba, "Ya, aku hadir nanti. Entah sebagai tamu undangan atau sebagai, wali. Apapun itu aku paham kondisinya." pernyataan papa Surya membuatku mengenggam erat tangan Mas Reza.


Bukan ini yang ku mau, aku mau beliau tegas menyebut dirinya wali untukku, Papaku.


"Saya bukan meminta om sebagai tamu, tapi sebagai wali untuk Bella, putri om." aku tahu hanya Mas Reza yang mengetahui keinginanku tanpa harus aku berteriak.


"Iya."


"Apa om yakin bisa hadir sebagai, wali ?" Mas Reza meminta penjelasan dari kata "iya" yang di ucapakan papa.


"Iya, aku akan hadir sebagai, walinya."


"Wali dari siapa om ?" Mas Reza mempertegas ucapannya.


Membuat Davina dan Tante Rina kebingungan.


"Dari putriku, Bella Saphira."


DEG .. DEG .. DEG ..


Lemas seluruh tubuhku.


Kata yang ingin sekali ku dengar akhirnya keluar dari mulut beliau.


PUTRIKU ...


Ah ya Allah terimakasih.


Davina menatap Papanya, begitupun Tante Rina menatap Papa Surya.


Papa Surya menundukkan kepalanya.


Mas Reza mengenggam erat tanganku.

__ADS_1


Dengan senyuman puas di wajahnya.


__ADS_2