DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PERTUNJUKAN DI MULAI


__ADS_3

Rapat yang di nantikan seluruh pemilik saham telah tiba.


Papa Surya murka kepada semua anak buahnya. Karna dengan waktu yang cukup lama penyelidikannya tidak berbuahkan hasil.


***


Bella memasangkan dasi pada leher Glen.


Bella menepuk nepuk bahu Glen. "Pertunjukan di mulai. Bersiaplah Glen." senyum menawan Bella menggiring semangat Glen.


Glen mantap mengangguk.


"Kini giliran mu berjuang Glen." Tante Rina masuk kedalam kamar. "Akan tiba saatnya giliranmu hadir Bell." Tante menepuk bahu Bella.


Bella mengangguk.


Reza bersandar pada pintu kamar.


Melipatkan tangan di dadanya.


"Bekal sudah ku berikan untukmu sejak lama Glen, tujuanmu sudah jelas, kini saatnya tekadmu bersatu. Langkah yang pasti, suara yang lantang. Tunjukan kamu pantas memimpin Ocfar factory." Reza memberi wejangan untuk Glen.


Ya sekarang waktunya Glen hadir. Merebut kembali milik Mamanya.


Setelah Glen berhasil duduk, giliran Bella yang akan hadir. Bella sudah menyiapkan kaki tangannya. Hanya tinggal wajahnya yang muncul di dalam perusahaan.

__ADS_1


Papa Surya kalut, Davina di jadikan pelampiasannya. Di bentak, di caci karna belum mampu menaklukkan Reza.


"Dasar gak becus, cuma lelaki kaya Reza aja gak mampu. Untuk apa wajah dan tubuhmu di rawat hingga cantik dan mulus." bentaknya.


Davina hanya diam.


Selama ini Davina hanya mengikuti Reza dan Bella. Dia merasa nyaman dengan mereka. Tujuannya tidak lagi dia pikirkan. Karna dari awal memang dia tak ingin melakukannya.


"Apa kamu tau, sang waris sialan itu sekarang akan hadir Dav, di Ocfar factory Dan Aku masih harus menjadi si waris waris sialan lainnya untuk Effort fact." Bentaknya lagi.


"Aku harus kehilangan 40% sahamku di Ocfar sekarang. Aku gak mau kehilangan lagi sahamku di Effort fact." Papa Surya mengacak ngacak rambutnya.


Davina memberanikan berbicara."Tapi Pah, mereka kan anak Papa. Gak mungkinkan memecat Papa." isakan Davina.


Mata Papa Surya membulat.


"Jika kamu mau jadi miskin, kamu aja. Aku gak mau Dav." Papa pergi meninggalkan Davina. Dia bersiap untuk rapat dewan direksi yang di hadiri oleh sang waris itu.


Tanpa sengaja Davina menelpon Bella.


Bella mengangkat nya tapi tak ada suara melainkan suara tangisan Davina di ujung telponnya.


Bella paham betul keadaan Davina saat ini.


Bella sengaja mengirimkan pesan agar Davina membaca, mengajaknya bertemu di rumah Reza.

__ADS_1


Bella mengantar Glen ke depan rumahnya.


Seakan Glen hendak pergi berperang. Reza, Tante Rina dan Bella berdoa agar Glen mampu menghilangkan rasa nervous nya.


Papa dan Mama Abraham yang sedang berada di luar negeri ikut Vidio call untuk melepas Glen.


Bella panik. Khawatir dengan Glen dan dengan Davina.


Reza mendekati Bella yang sedang mondar mandir di depan pintu.


"Kamu kenapa sayang ?." Reza menoleh kanan kiri melihat siapa yang di tunggu istrinya.


"Aku nunggu Davina mas". Menggenggam kedua tangannya.


Reza terkejut. "Untuk apa nunggu dia?"


Bella menceritakan tentang Davina yang tadi menelponnya.


Bella meminta Davina untuk datang kerumahnya.


Reza mengerti maksud Bella. Mengangguk dan merangkul Bella.


Menantikan kehadiran Davina di depan pintu bersama suaminya.


Setelah beberapa saat akhirnya terparkir mobil PW putih milik Davina.

__ADS_1


Sungguh membuat sepasang suami istri yang menunggunya dengan perasaan cemas menjadi sedikit lega.


Di tatap seseorang yang turun dari mobil tersebut. Wajah sembab, Mata merah jelas terlihat walau dari kejauhan.


__ADS_2