
Semua keluh kesah Papa Surya meluap.
Davina sengaja diam dan terus memancing sisi lain dari Papanya.
Dan dengan sengaja merekam semua ocehan Papa.
"Aku gak tahan seperti ini Mel. Apa aku sudah bisa menyerah Mel ? Aku ingin hidup santai menikmati masa tuaku."
"Kau liat Mel, anak Sinta sudah besar. Dia yang pernah ku anggap anak angkat ku, ternyata anak kandung ku Mel. Dia tampan Mel, dia gagah dan pemberani Mel. Kamu kenal dia Mel, saat kecil dia sering kau timang timang Mel. Dia Glen kita Mel." Papa semakin keras menangis.
"Aku malu Mel, ternyata dia hidup dengan Abraham selama ini. Dan kita tau itu Mel. Dulu kita sangat menyayangi Glen ya Mel, sering kita ajak dia bermain karna kita menginginkan anak laki laki. Ternyata dia anakku Mel. Jika kamu tau dari awal, mungkin kamu tidak akan menyukainya seperti sebelumnya Mel. Kamu selalu cemburu dengan semua istri dan anakku."
"Ingin sekali ku memeluknya, mengatakan selamat datang nak. maaf selama ini Papa tidak mengetahui keberadaan mu. Tapi itu tidak mungkin Mel, mereka tidak mungkin mau menerima dan memaafkan ku. Aku sungguh menyedihkan Mel."
Lama hening, hanya ada isak tangis Papa Surya.
__ADS_1
Davina mengelus rambut Papa yang sudah sedikit memutih.
"Sebentar lagi aku akan ketemu anak Kartika. Seorang wanita yang begitu tulus mencintai ku walau dia tau hanya kamu yang ku cinta Mel. Apa anakku itu berhati tulus seperti Kartika, atau malah seperti diriku Mel ? Aku gak ada keberanian untuk melihatnya Mel. Aku malu, aku sakit hati jika nanti melihat tatapan bencinya padaku."
"Mel, jemput aku Mel.." teriak Papa Surya. Yang mengakhiri ocehannya.
Papa tertidur di sofa dengan keadaan basah air mata dan berantakan. Davina menatapnya dengan sendu. Sungguh tak pernah menyangka bahwa Papa begitu berhati lembut. Mendengar semua jeritan hatinya membuat Davina harus percaya bahwa Papa melakukan ini dengan menutup hatinya.
Papa hanya menginginkan kebahagiaan Mama.
Mama membuat Papa jadi seorang lelaki baji*gan. Menikahi banyak wanita hanya untuk keuntungan. Dan dengan tega meminta Papa meninggalkan para wanita tersebut dalam keadaan hamil.
Ma, apa sekarang mama sudah puas. Mama lihat betapa hancurnya hati papa. Papa begitu menginginkan kedamaian tapi harus egois karna cintanya. Ma, tolong lepas papa, biarkan kami hidup bahagia walau tanpa banyak harta.
Davina mengambil selimut untuk Papanya.
__ADS_1
Malam ini malam yang menakjubkan.
Sisi yang tak pernah di lihatnya, kini dia lihat.
Papa orang yang begitu tegas, kuat dan egois.
Ternyata banyak menyimpan luka.
Kepedihan serta kesepian.
"Pah, Papa masih punya aku. Jangan pergi meninggalkan kami. Aku yakin, jika Bella eh mbak Bella tau Papa begitu menyayangi mereka. Mereka akan memaafkan Papa. Papa beruntung memiliki Mas Glen dan mbak Bella. Mbak Bella memiliki hati tulus Pah seperti Mama Kartika. Mungkin jika aku yang ada di posisi mbak Bella, aku gak akan mampu setulus dan selapang itu menerima anak dari wanita yang sudah merusak kehidupan Mamanya." Davina menangis dengan mengusap pipi Papa Surya."
"Pah, sudah saatnya Papa keluar dari lingkaran ini. Biarkan anak anak Papa yang berusaha. Kembalikan apa yang menjadi haknya Pah. Kami disini masih membutuhkan Papa."
Davina menggenggam tangan Papanya. Tanpa di sadari Papanya mengangguk dan mengenggam erat tangan Davina. Membuat Davina kaget dan menatap mata Papa yang masih tertidur.
__ADS_1