DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
POINT PERTAMA


__ADS_3

Hasil tes kehamilan dari dokter sudah di tanganku. Laporan dari "Dia" bahwa di villa ada sesuatu dan tentu dengan bukti otentik yang di berikan, padaku.


"Baiklah, sementara ini sayang kamu tidak bisa di publikasikan." aku mengelus perutku yang masih rata.


Aku bertekad, jika memang harus di sembunyikan maka aku akan sembunyikan. Toh sepertinya Ayahmu tidak tau kau hadir, mungkin tidak perduli juga. Dua hari aku mual muntah, tapi dia sama sekali gak curiga dan tidak menyangka aku hamil.


Selingkuh itu penyakit, jika sudah sembuh pun pasti akan kambuh lagi. Dia bermain api denganku.


"Mama boleh aku bertanya dan aku mengharap kejujuran dari jawaban, Mama." aku berada di kamar Mama mertuaku. Wajahnya tampak kaget dan canggung melihatku yang tiba tiba masuk kamarnya saat dia sedang asik membaca majalah.


"Hmm.. duduklah, sayang."


Aku mengangguk, Mama meletakkan majalahnya.


"Ada apa, Bell. Ada sesuatu yang terjadi?." tanyanya di hadapanku.


"Ya, Ma. Dan ini berakibat fatal untukku." matanya membulat dengan sedikit mendongak.


"Separah, itu? Masalah apa, Bell." terlihat kepanikan di wajahnya. Mama mengenggam tanganku. Rasa dingin di tangannya menampakkan kegugupannya.


"Apa yang Mama sembunyikan dariku?." aku sudah lelah basa basi. Biar ku lihat masihkan Mama menyembunyikannya.


Wajahnya sedikit pucat, bukan sakit melainkan gugup. Pegangan tangannya yang semula erat kini mengendur.


"S-sembunyi-kan apa, sayang. Mama gak ngerti." ucapnya dengan mata melirik halus sekeliling.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih Mam." aku melepas tanganku dan langsung beranjak pergi. Untuk apa aku berkelit jika dia tidak ingin memberitahu.


Sekarang Papa Abraham yang kebetulan ada di ruang kerja. Kita lihat siapa yang berada di pihak ku atau malah menikam.

__ADS_1


Tok, tok, tok ..


"Masuk.." seru Papa dari dalam.


Aku melangkahkan masuk kakiku, kita lihat apa Papa ada di pihak ku. Setidaknya apakah dia mau menceritakan apa yang dia sembunyikan.


"Eh, kenapa sayang. Tumben ke ruangan Papa." Papa yang sedari tadi fokus dengan laptop di depannya, bahkan tidak tau aku sudah berada tepat di belakang laptopnya.


"Aku ganggu, Pa?." aku duduk di kursi di hadapan Papa.


"Gak kok, sayang. Papa lagi cek email aja." Papa menutup laptopnya dan beralih menatapku.


"Ada apa, nak.. Ada masalah.." tanyanya lembut.


Aku mengangguk.


"Masalah apa, sayang. Cerita segera sama Papa." pintanya.


Aku tau penyebabnya, tapi aku ingin tau kenapa mereka sembunyikan dan malah menutup nutupi kenyataan pahit ini. Apa alasan mereka membuatku seperti orang bodoh.


"Iya, sayang. Ada sedikit masalah di masa lalu, Reza. Kekasihnya datang tepat di malam menjelang pesta pernikahan. Kenapa Papa bilang "kekasihnya" kamu tau kan maksudnya..." ucapnya membuatku tercengang. Betapa pedihnya kenyataan ini, aku menganggap masa lalu ternyata malah hubungan yang sedang berlangsung. Aku mengangguk mengerti maksud Papa.


"Iya Pa, hubungan belum berakhir bukan?." tanyaku berusaha tegar.


"Betul.. Dan sampai sekarang Reza belum bisa mengakhirinya."


"Kenapa.. belum.." gumanku.


Apa belum bisa? Kenapa.. Belum bisa apa tidak mau. Apa sebenarnya tujuanmu,Mas.

__ADS_1


Aku menahan kesalahan dan kepedihan di hatiku. Mencoba menyesapi ucapan Papa.


Papa mendengar suara parau ku, "Ya.. karna alasan kekasihnya sedang sakit keras."


"Itukah alasannya, Pa. Kenapa harus membohongiku dalam dua tahun terakhir ini. Kenapa harus mengadakan pesta pernikahan untuk mengolok olok diriku." lirihku ucapkan isi hatiku di hadapan Papa mertuaku ini.


"Papa sudah memintanya, sayang. Dari awal hubungan kalian. Papa tau mereka masih menjalani hubungan itu. Reza meminta waktu untuk mengakhiri hubungannya. Karna alasan penyakit dan jarak mereka yang jauh."


"Jauh... sejauh mana Pa? Sejauh mana sampai kalian tega membohongiku. Sejauh mana sampai tepat di malam pesta pernikahanku dia hadir." nadaku meninggi, sudah tak tahan dengan pengkhianatan berkeluarga ini. Aku di anggap apa oleh mereka.


"Sayang... maafkan Papa yang tidak bisa tegas mengambil tindakan. Tapi kali ini Papa pastikan hubungan mereka berakhir." ucapan Papa lembut sekali seakan mereka tidak pernah menyakiti hatiku.


"Pastikan, Pa. Aku gak butuh itu, Pa. Papa berjanji memastikan itu, tapi tidak dengan suamiku, Mas Reza. Aku enggan memanggilnya suami." aku membuang pandanganku dengan kilat dari tatapan Papa."


"Reza sudah berjanji, Nak. Dalam waktu dekat ini ada kabar baik darinya." Papa meraih tanganku, mengusap lembut punggung tanganku yang dingin.


"Terimakasih, Pa. Apa aku boleh tau siapa saja yang tau? Jadi aku tak akan bertanya kepada yang lain lagi, Pa." dengan berat hati aku menatap wajah mertuaku.


"Kami semua tau, sayang. Mama, Papa bahkan Papa Surya pun tau. Karna ini masa lalu Reza yang sudah di ketahui kami semua."


Hancur...


Hancur... sudah hati ini. Mereka semua menipuku.


"Glen..." tanyaku.


Papa mengangguk, "Glen tau, nak.. bahkan kekasihnya juga yang merupakan satu kampus dengan Clara. Kekasih dan masa lalu, Reza."


"KEKASIH" ya karna dia yang lebih dulu kalian kenal dan kalian sayang. Benar kekasih, karna mulai saat ini aku tidak ingin berlagak seperti istri dan menantu untuk kalian.

__ADS_1


Pantas saja Glen dan Sisi menghindari ku, bahkan Papaku sendiri. Terimakasih kalian sangat luar biasa.


__ADS_2