
Bella kembali duduk fokus dengan laptop di hadapannya.
Setelah beberapa hari dia off dari masa pantauan.
Kini pikirannya kembali jernih.
Bella bukan tak ingin membalas atau pun menghindar. Bella gak mau jadi seperti alm. Mamanya yang hidup dalam persembunyian.
Dia akan memperjuangkan apa yang tidak mampu di perjuangkan alm. Mamanya.
"Persiapan selesai mbak.."
Bella tersenyum puas.
"Baiklah.. kita tunggu Minggu ini apa yang akan terjadi.."
"Terimakasih mas, sudah banyak bantu aku. Mungkin secepatnya kita akan bertemu secara langsung ya mas."
"Saya menantikannya mbak.."
Di tutup laptopnya.
__ADS_1
Bella mengabari Reza sesuai perjanjian mereka.
Bella berjanji, jika Reza dan Glen tidak ikut campur dan mengganggu rencananya, maka Bella akan memberikan kabar apapun pada Reza.
"Hallo mas.."
"Hai sayang,, lagi apa ?" Reza yang sedang duduk di depan tab kerja. Reza juga sedang mempersiapkan cabang baru perusahaannya.
"Lagi duduk aja mas, aku ganggu kamu gak ?"
Memutar cangkir tehnya.
"Gak sayang, aku cuma lagi duduk aja." Reza berbohong.
"Alhamdulillah.." Suara Reza penuh rasa syukur tetapi khawatir akan apa yang terjadi.
"Kamu yakin akan tetap di kontrakan sayang.. pindah kerumah Mama aja ya lebih aman.." pinta Reza.
"Tidak mas, aku akan bersikap biasa selama aku belum duduk di bangku alm. Mama ku. Aku akan tetap bekerja di perusahaan mu sebagai karyawan seperti biasa." tegas Bella.
"Tapi sayang.." di potong Bella.
__ADS_1
"Mas.. Mas harus siap nanti dengan semua keadaan mas dulu.. Aku yakin mereka pasti kesana dulu. Toh pernikahan Davina kan tinggal beberapa hari. Mas harus hati-hati dengan segala makan dan minuman atau pun apa pun ya mas.." pinta Bella terus mengingat betapa pentingnya menjaga diri Reza saat ini.
"Aku gak mau nanti tiba tiba kamu ada di atas pelaminan.." Nada khawatir bercampur merajuk Bella membuat Reza tertawa.
"Iya sayang iyaa.. aku akan hati hati.."
"Inget ya mas, kalau ada kabar apa pun tentang aku, tanpa aku yang kabarin kamu gak usah panik okey.."
Reza terus tertawa mendengar betapa lucu ucapan Bella. Bella kesal di buatnya.
"ih kamu mas, aku khawatir kok kamu ketawa.."
Reza mengalihkan telponnya menjadi Vidio.
Di lihat wajah Bella yang cemberut dan memerah. Lucu. Andai bukan terhalang jarak. Mungkin sudah di kecup bibirnya.
"Kamu kalau lagi cerewet lucu sayang.. selama ini kan kamu bicara seadanya aja.." Reza mengusap air matanya akibat ketawa.
"Kamu ada ada aja akh bikin aku kesel tau gak mas." rengekan Bella membuang mukanya.
"Sayang... andai aja kita sudah bisa satu atap. Mungkin kita.. " belum selesai di potong Bella. ya itulah kebiasaan Bella memotong ucapan Reza.
__ADS_1
"Sabarlah. kan Mas udah janji mau sabar bantu aku, dan aku juga gak mau hidup dalam ketakutan terus. Aku mau akhiri semuanya dulu. Semua yang di rasakan oleh alm. Mama ku, Keluarga dari ibuku, kamu alami kemarin, dan apa yang aku alami selama ini.." raut wajah Bella berubah memanas. Kobaran api terlihat di matanya ada rasa Sakit, kecewa, dan segala rasa pedih dia rasakan selama ini.
"Iya sayang.. tapi kamu janji, jaga dirimu dan terus kabarin aku ya. Minggu ini aku pulang ke Jakarta." sendu wajah Reza. Melihat mata orang yang dia sayang penuh dengan rasa sakit. Membuat pilu hatinya.