DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
STRATEGI


__ADS_3

Aku mengatur strategi untuk mengelabui Mas Gaga. Aku bahkan tau rencana ini tidak akan berhasil.


Pertama aku menyita ponsel Mas Gaga, mematikan semua televisi yang ada. Apapun yang bisa mengakses media aku sembunyikan.


"Ricard, dimana Edward." tanya Mas Gaga.


"Pergi kerja." jawabku singkat, aku takut mulutku tidak bisa bertahan.


"Dimana ponselku?." pinta Mas Gaga.


"Selama jam istirahat mu, Mas. Ponsel berada di tangan Edward." jawabku.


"Entahlah apa yang di rencanakan anak itu.." keluh Mas Gaga.


"Sudah lah Mas, percaya saja sama anak mu itu." ucapku memeriksa cairan infus dan selangnya.


Setelah beberapa hari, akhirnya aku bisa keluar kamar.


"AH..." aku meregangkan otot-otot tubuh ku dengan menghirup udara segar di pekarangan.


"Daddy, selamat pagi." Edward menyapaku dengan senyum yang menawan. Ku tatap penampilannya yang luar biasa. Setelan jas abu abu di padukan kemeja putih dengan sepatu hitam serta rambut yang rapi, tak lupa wangi parfumnya yang menyegarkan. Aroma buah buahan yang manis dan segar, ciri khas anak anak. Walau penampilannya yang paripurna lebih tampan dariku.


"Pagi Pak CEO, bagaimana kabar anda ?" godaku dengan sedikit membungkuk.


Dia berlari ke arahku dan memelukku.


Mencubit pipiku, "Aku baik Daddy." mengecup pipiku.


"Syukurlah, kamu sudah bekerja keras Nak." aku mengusap kepalanya dan mengecup keningnya.


Dia benar benar sudah bekerja keras menjaga kami. Wartawan sudah tidak memenuhi halaman rumah, berita berita media sudah tidak terdengar lagi. Bahkan yang aku dengar, saham perusahaan sudah mulai kembali naik dengan stabil.


"Terimakasih kasih, sayang. Kamu luar biasa." aku mengecup keningnya dalam. Melambungkan doa ku pada yang Maha Kuasa untuk putraku yang luar biasa.


"Daddy, aku minta tolong bisa." matanya menatapku penuh harap.


"Tentu sayang, ada apa Nak?." aku menggendongnya duduk di tepi kolam.

__ADS_1


"Tolong jemput Mommy di rumah sakit ya, Dad." ucapnya.


Aku kaget, Bella di rumah sakit? Sejak kapan dan kenapa?.


"Mommy hanya cek up, Dad. Tidak ada masalah, aman." sambungnya dengan senyuman.


"Oh baik, sayang. Daddy lega mendengarnya." aku menarik nafas lega.


"Hari ini aku ada meeting, jadi tidak bisa jemput Mommy. Hari ini Daddy harus menghabiskan waktu dengan Mommy, ya. Karna besok Daddy sudah kembali ke kantor, aku kembali sekolah." ucapnya lagi. Dengan nada memerintah sekaligus memberitahu. Anakku sudah menjadi CEO dominan ternyata.


Aku mengangguk, "Baik CEO, siap laksanakan." aku berdiri dan membungkuk.


Kami tertawa bersama.


"Oh ya, CEO. Bagaimana dengan persidangan?." tanyaku penasaran.


"Seperti yang anda lihat Daddy, semua sudah selesai. Daddy tidak usah pikirkan, semua kembali normal." dia mengedipkan mata sebelah. Aku tersenyum dan mengangguk.


Memang sulit mengetahui pikiran anakku ini, lebih sulit di banding harus berhadapan dengan beberapa klien sekaligus. Aku dengan mudah mengetahui kebenaran dan kemauan para klien, berbeda saat aku berhadapan dengan putraku, Edward.


"CEO Edward, kita berangkat." Pak Li menghampiri kami dengan senyuman.


"Baik, Pak." ucap Edward.


Saat melihat ini, aku seperti sudah tua dan pensiun. Anakku sudah dewasa dan menjalankan tugasnya, sedangkan aku hanya berdiam diri menikmati hidup di rumah. Aku berharap bisa menikmati masa tua yang indah itu, tapi ternyata harapanku sudah di wujudkan lebih awal.


Aku tersenyum, "Berangkatlah, Nak. Daddy akan pergi jemput Mommy dan berjalan jalan menikmati waktu." ucapku.


"Baik Daddy, aku berangkat." dia mencium tanganku dan pipiku.


Anakku tumbuh dewasa di usia balita.


Aku dengan riang masuk ke dalam, mengganti bajuku dan mengambil kunci mobil. Aku harus menikmati masa santai ini. Harus benar benar di nikmati waktu berharga yang di berikan anakku.


"Wah.. wah.. ada yang lagi sumringah ni.." goda Ricardo. Aku mengangkat alisku dengan mengembangkan senyuman.


"Beruntung sekali ya, Mas. Punya anak yang luar biasa, sampai sampai orang tuanya di beri waktu mengenang masa muda." tawanya.

__ADS_1


"Tentu, anakku." dengan bangga aku menepuk dada.


"CK.. CK... Selama seminggu di kurung anak dengan perhatian yang luar biasa. Hanya istirahat, makan minum. Seluruh masalah di luar beres tanpa sisa, sekarang masih di kasih waktu liburan. Aku iri sekali." geleng kepalanya.


"Makanya segera miliki anak juga, Ricard." ucapku.


"Sudah, Mas. Sedang proses, semoga nanti bisa seperti Edward. Hmmm.. tapi jangan serupa, aku kadang takut melihat tampang Edward saat serius. Sedikit saja memiliki sifat seperti Edward, sedikit saja jangan serupa." dia membuat lambang dengan tangannya dengan menggelengkan kepalanya.


Aku tertawa terbahak bahak. Memang benar, anakku seram di saat mode seriusnya. Aku sendiri sampai tidak mengenalnya.


Tapi dia tetap anak anak, kadang mode manjanya juga luar biasa membuat aku lupa dengan mode seriusnya. Anak yang super aktif dan cekatan, permainan yang dia suka lebih menantang. Yang membuat Bella jerit jeritan sampai menangis.


Aku menghentikan langkahku dan mengalihkan pandanganku pada Ricardo yang sedang duduk di sofa.


"Oh ya, Ricard. Bagaimana dengan persidangan kasus Reza?." tanyaku masih penasaran karna tidak mendapatkan jawaban dari Edward.


Ricardo menatapku dan tersenyum.


"Reza dan Clara sudah mendapat apa yang dia butuhkan, Mas." ucapannya ambigu.


Aku mengerutkan keningku, "Maksud mu?".


"Edward menyelesaikan dengan sempurna, Mas. Dia benar benar luar biasa, tidak melukai siapapun. Baik Reza maupun dirinya." Ricard menatapku.


"Mas, Edward mengucapkan kalimat yang selalu terngiang di telingaku, sampai sampai hakim meneteskan air mata." ucapnya dengan lembut. Aku menghampiri dan duduk di sisinya.


Ricard memutar sebuah video dan memintaku mendengarkan.


"Aku putramu, darah daging mu. Aku putra Mommy ku, darah dagingnya. Aku putra Daddy ku, aku kehidupannya. Aku tidak pernah merasa tersakiti olehmu, walau kau berusaha menyakiti diriku. Bukankah kau orangtuaku, maka biarkan aku bahagia dengan keluargaku. Kamu tidak menginginkanku saat itu, lantas kenapa sekarang kamu menyebar aibmu sendiri? Apa yang kamu butuhkan, apakah benar hanya sebuah pengakuan? Baiklah, aku selalu mengakui mu orangtuaku. Karna kedua orangtuaku selalu menasehati ku untuk tidak melupakan darah yang mengalir dalam tubuhku dan menganggu kehidupanmu. Ayah.. panggilan itu yang kau inginkan, bukan! Tolong, bersikap layak lah seperti orang tua. Jika kau rindu padaku, datanglah. Jangan membuka aibmu di khalayak ramai, Daddy ku berkata. Jika kita semua keluarga, maka selesaikan masalah itu dengan keluarga. Bukan dengan media. Ayah.. lepaskan aku, biarkan aku bahagia. Dan aku selalu berharap kamu bahagia dengan keluargamu. Sekali lagi aku ingatkan, jika kau rindu datanglah ke rumahku jangan datang ke pengadilan lagi seperti ini. Aku selalu menyayangimu dari kejauhan, seperti saat aku di dalam kandungan. Kau jauh disana dengan keluarga barumu, sedangkan aku hanya bersama Mommy ku. Aku tidak membencimu, bahkan Mommy ku yang kau sakiti tidak pernah membencimu. Maka lepaskanlah aku, Ayah."


Aku mendengarkan dengan seksama dan penuh haru. Air mataku mengalir keluar dari tempatnya. Ricard mengusap bahuku.


"Edward membanggakan, Mas. Dia mampu menjaga kehormatan kedua keluarganya.Tanpa menyakiti siapapun dia mampu memenangkan pengadilan dengan damai. Bahkan dia memeluk Reza dan Clara di hadapan hakim."


Aku menatap gambar Edward dalam video tersebut. Begitu tenang dan tegar.


Dia memeluk Reza dan Clara dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2