DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
WANITA, GILA


__ADS_3

Apa dia gila? Aku yang telah merusak rumah tangganya tapi dia datang seolah tidak terjadi apapun. Apa sudah sebahagia itu kehidupan dia di luar sana. Apa ada yang bisa lebih royal dari Reza?.


Bella Saphira, wanita gila menurutku.


Dia datang mendampingiku, membantuku merawat bayiku yang baru lahir selama di rumah sakit. Tidak ada sehari pun dia absen datang. Membawakan makanan, buah dan bahkan pakaian bayiku.


"Hai, Clara. Ini aku bawakan makanan khusus ibu menyusui. Sayur daun katuk, rasanya enak tapi baunya agak menyengat sedikit. Tapi satu harus kamu tau, khasiatnya bagus banget untuk memperlancar asi." dia meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.


"Oh iya, hari ini Mas Reza sudah pulih. Lumayan juga sudah istirahat selama dua hari. Sekarang mungkin menuju ke sini di bantu Glen." dia sibuk sendiri. Merapikan pakaian bayiku di dalam box dan mengusap kepala bayiku seenaknya.


"Aku minta maaf, hari ini aku gak bisa temani kamu sama baby boy mu ini ya. Lagi pula nanti ada suamimu. Aku ada urusan di luar. Besok kalau aku sempat, aku ke sini lagi.. Mau jumpa sama baby boy ganteng."


Dia mendekatiku dan menyentuh tanganku.


"Di makan ya sayurnya, aku pamit dulu."


Aku mengangguk dia pergi meninggalkan aku yang menatapnya.


Jika aku jadi Bella, aku tidak akan pernah melakukan ini. Mendatangi wanita yang di anggap simpanan olehnya. Membantu merawat bayi dari mantan suaminya. Bahkan membawakan aku makanan khusus.


Entah terbuat dari apa hatinya, dia bisa begitu tenang di hadapanku. Aku merasa kalah telak melihat sikapnya. Dari pertemuan pertama hingga sekarang, sikap tenangnya menghanyutkan. Seberapa dalam hatimu Bell?.


Mungkin sikap ini yang sangat di rindukan oleh Reza. Dia selalu tenang dalam kondisi apapun. Bahkan di depan wanita yang mengganggu rumah tangganya.


Selepas Bella pergi, Reza dan Glen masuk ke kamarku.


Tangan Reza masih terbalut perban. Wajahnya masih sedikit pucat.


Dia berjalan cepat ke arahku menggenggam tanganku.


"Clara, maafkan aku.. Aku tidak menemanimu di saat kamu melahirkan. Maafkan aku tidak ada di sisimu di saat kau berjuang melahirkan anak kita." dia menggenggam erat tanganku.


Aku bangkit dari tempat tidurku, memeluknya dengan erat.


Selama aku selalu menyepelekan perasaan ini, tapi beberapa hari ini mengajarkan aku bahwa menghargai perasaan adalah hal yang harus di lakukan. "Aku mengalami kehampaan beberapa hari. ini dan tidak di sangka di isi oleh mantan istrimu, Za." batin ku.

__ADS_1


"Iya sayang, gak apa apa kok. Kamu juga dalam kondisi yang gak mungkin di sisiku. Oh iya lihatlah anak kita, dia begitu mirip denganmu." aku mengangkat daguku ke arah box bayi.


Glen duduk di sofa menatap serius ponselnya. Aku tau, Glen memang tidak menyukaiku dari awal kami bertemu. Karna aku juga kenal kekasihnya Sisi. Dia selalu menganggap ku wanita tidak memiliki harga diri, yang menghancurkan rumah tangga kakaknya.


"Bayiku, anakku sayang. Jagoan Papa, maafkan Papa ya nak.. Papa baru datang hari ini, seharusnya Papa lah yang menggendong pertama kali. Papa tidak berguna ya, Nak. Maafkan Papa.." Reza memeluk tubuh mungil bayiku. Dia meneteskan air mata antara rasa senang dan menyesal karna tidak bisa mendampingi ku. Padahal dari awal kehamilan dia selalu antusias dalam setiap pemeriksaan kandunganku. Dan bahkan sudah berjanji akan menemaniku di dalam ruang operasi.


Setelah merasakan pilu beberapa waktu, aku harus mengenggam erat yang ku miliki sekarang. Aku tidak ingin merasakan kehampaan lagi di lain waktu.


Aku bertekad akan memperjuangkan Reza sebagai Papa dari anakku. Dan harus menjadi suamiku seutuhnya.


"Mas.." suaraku bergetar sedikit malu dan takut.


Reza langsung menatapku penuh tanya. Pasti dia kaget mendengar aku memanggilnya dengan panggilan "Mas". Begitu pun Glen yang langsung sinis melihatku.


"Kamu yang panggil aku?." tanyanya.


"I - yaa Mas, aku yang panggil." aku malu terbata bata hingga panas di wajahku.


Reza mendekat sambil mengendong bayiku.


"Aku... kita kan sudah memiliki anak. Apa salahnya aku membiasakan diri memanggil mu, Mas. Dan bukan kah kita harus segera menikah." aku menunduk malu, baru kali ini aku merasakan malu seperti ini di hadapan Reza dan Glen.


Glen tertawa.


Aku menatapnya heran begitupun Reza.


"Sudah gak tahan pengen jadi nyonya ya, ya baguslah. Kalian menikah, jadi jangan ganggu Mbak Bella lagi. Hiduplah pada jalan kalian masing-masing." Glen bangkit dan pamit pada Reza langsung pergi.


Aku terdiam membisu.


Perkataan Glen tidak salah, yang salah hatiku yang tiba tiba menjadi ciut.


"Mas.." aku menatap Reza.


Reza mengalihkan pandangannya pada bayiku. Dia tersenyum sambil memainkan pipi bayiku.

__ADS_1


"Baiklah, Clara. Nanti aku atur acaranya. Mungkin nanti pestanya sekalian acara pemberian nama anak kita." ucapnya tanpa menatapku.


Bukan maksudku ingin segera menjadi nyonya. Tapi melihat Bella dan wanita wanita di kamar pemulihan tempo hari membuatku iri. Mereka begitu bahagia dengan pasangannya. Sah suami istri seperti tidak ada hal yang perlu di perhatikan lebih sebelum bertindak apapun. Saling manja, mencintai hanya satu pasangan serta saling mencintai secara terbuka membuatku ingin merasakannya juga.


"Kamu belum makan?" Reza melihat box makanan yang di bawa Bella. Aku menggelengkan kepalaku.


"Tapi... ini bukan dari rumah sakit? Siapa yang mengantarnya, Clara." tanyanya seraya meletakkan bayi kami.


"Hmmm... teman." aku berbohong, aku tidak mungkin bilang Bella mantan istrinya. Yang ada nanti pikirannya kacau lagi dan mengamuk tidak jelas.


"Oh baiklah." dia membuka wadah makanan.


"Sekarang makan ya, kamu harus banyak makan untuk cepat pulih. Dan untuk anak kita." dia menyuapiku makan.


Memang benar, rasanya aneh. Sayur yang di bawa Bella aku baru pertama kali memakannya. Baunya menyengat sedikit menganggu.


Tapi aku harus makan, karna jarang sekali Reza menyuapiku. Walau di paksakan aku harus menghabiskan makanan ini.


Aku meminta Reza istirahat di sofa. Wajahnya terlihat pucat. Aku tidak mau dia drop kembali. Siapa yang akan merawat ku nanti, masa Bella lagi yang akan datang.


Aku menatap wajahnya yang tertidur pula di atas sofa. Dengan tangan di balut perban, keningnya di tutup plester. Wajahnya lelah, tubuhnya terlihat lemah. Bahkan jalan pun limbung. Sebegitu hancurnya dia kehilangan Bella. Sampai tubuhnya yang biasa rapi, wangi dan segar. Hilang entah kemana. Pakaiannya kusut, wajahnya pucat dan bahkan sudah tumbuh bulu bulu halus di wajahnya.


Aku memang tidak bisa menggantikan posisi Bella di hatimu, tapi aku berjanji akan menunjukan cintaku padamu. Aku akan pastikan mencintaimu seorang tanpa lelaki lainnya lagi, Za.


****


Aku sungguh senang saat Glen bilang bahwa anakku sudah lahir dengan sehat.


Aku segera memintanya mengantarkan ku menemui bayiku dan tentu bayi Clara juga.


Aku sempat membuatnya terluka sebelum aku jatuh pingsan. Dan ternyata dia melahirkan. Aku sungguh menyesal berbuat gila dan harus kehilangan kesempatan menemani Clara melahirkan dan melihat bayiku pertama kali.


Sampai di kamar Clara, aku meminta maaf padanya. Aku sudah kehilangan Bella dan aku tidak ingin kehilangan Clara. Apa lagi kini ada anakku bersamanya.


Aku menatap wajah bulat bayi lelakiku. Tubuhnya gempal dengan hidup mancung. Persis sepertiku. Bibirnya tebal dan alisnya hitam.

__ADS_1


Aku bersyukur karena dalam keadaan yang hancur, kini hatiku mulai bersemi dengan kehadiran putraku. Aku harus bangkit demi dirinya.


__ADS_2