DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
CURHAT


__ADS_3

"Kamu kenapa, Za?" pertanyaan Glen membuatku tersadar dari lamunan.


"Apa kamu tau, Mas Gaga asisten pribadi Bella sudah menikah? Aku tadi bertemu dengannya di toko pakaian anak." ucapku pada Glen yang duduk sambil minum kopi.


Uhukk, uhukk ...


"Apa kamu bilang! Aku gak salah denger?." Glen kaget mendengar aku bertanya tentang Gaga. Berarti Glen juga gak tau.


"Iya aku tanya, lah kok balik tanya."


Srupp ...


"Selama ini aku belum dengar dia sudah menikah, mungkin beli kado. Bisa saja kan?," Glen memberi prediksi.


Aku mengangguk, "Iya bisa jadi, tapi dari tatapan dan ekspresi di wajahnya.. sepertinya bukan untuk kado." ucapku mengingat senyuman di wajah Mas Gaga yang sedikit membuatku merinding kala teringat sikapnya padaku. Dua kepribadian mungkin, nyeri.


"Memang dia bisa senyum?" Glen mendongak kepalanya ke hadapanku.


"hmmm..." jawabku singkat.


Glen tertawa, "selama aku kenal, dia tidak pernah punya ekspresi. Mana mungkin bisa tersenyum." dia bersandar kepala.


"Terserah mau percaya atau tidak, aku sendiri masih bingung dengan yang ku lihat." aku menggaruk kepalaku.


"Kembali ke pertanyaan pertama. Memang kenapa kalau dia sudah menikah, Za?."


Aku juga tidak tau kenapa dan mengapa. Tapi seketika terlintas wajah senyum Bella di wajah Gaga. Apakah mungkin mereka bersama? Aku harap hanya pikiranku saja.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku.


"Hmmm.. kamu yang berpikir Mbak Bella bersama Gaga kan?" Glen tepat membaca pikiranku. Aku diam saja.


"Hah.. aku juga gak tau di mana Mbak Bella sekarang. Semenjak kejadian itu, aku merasa bersalah padanya. Aku menyesal sudah diam menyembunyikan kebenaran itu. Hingga sekarang dia mencampakkan kami semua."


Aku termenung mendengar ucapan Glen. Mereka semua kehilangan Bella karna ulahku. Mereka membantu menutupi kesalahanku, hingga harus mengorbankan kepercayaan saudarinya.


Aku berhutang banyak kepada keluarga Bella dan Bella. Aku ingin segera menebusnya. Kembali menyatukan keluarganya, serta hatiku yang hancur.


Aku yakin Bella saat ini belum bisa melupakanku, maka dari itu dia menghindari diriku. Aku yakin dia masih mencintai diriku dan berharap akan kebersamaan kami.


Dia telah banyak berkorban perasaannya untukku. Melepas diriku demi kebahagiaan ku, walau hatinya terluka.


"Bella, berhenti bersembunyi. Aku menunggumu, sayang." batinku.


Satu Minggu sekali jadwal Mas Gaga mengunjungi ku. Karna pekerjaannya yang padat, serta jarak yang lumayan jauh sehingga tidak bisa di tempuh setiap hari.


"Sayang, Daddy pulang." teriaknya.


Yang pertama dia sambut adalah anak ku, Edward.


"Ya Daddy, sebentar. Aku sedang pakai baju." teriakku dari dalam kamar.


Mas Gaga menghampiri kami di kamar, "Mana sini jagoan, Daddy. Sudah tambah besar belum." dia meraih tubuh Edward dari tanganku.


Lalu menyodorkan tangannya untuk ku salami.

__ADS_1


Dia mengecup keningku. Setiap kali kami bertemu atau berpisah, Mas Gaga selalu mencium keningku.


Setelah pernikahan sederhana kami setahun yang lalu. Mas Gaga resmi menjadi suamiku dan ayah dari anakku.


Aku dan Mas Gaga menikah, tepat di hari kepulangan ku dari rumah sakit.


Mas Gaga memintaku menjadi istrinya, guna aga dia dengan leluasa membantu merawat tubuhku dan anakku.


"Maaf Bella, sebelumnya aku lancang. Bisakah kamu membiarkan aku halal menyentuhmu?."


Awal pertanyaannya membuatku kaget.


"Tunggu, maksudku adalah agar aku bisa merawat mu dalam masa nifas. Aku bisa membantu membasuh tubuhmu, tanpa dosa."


Aku hanya diam mendengarkan, dia berbicara dan berhenti sejenak.


"Untuk urusan lainnya, kamu jangan khawatir. Aku tidak akan meminta hak atau mempertanyakan kewajiban mu sebagai istri. Aku hanya ingin, Edwar bisa tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat dan lengkap." wajahnya sendu saat mengutarakan isi hatinya. Aku tau sedikit tentang Mas Gaga, dia di tinggalkan ibunya pergi dengan lelaki lain saat dia masih kecil. Itu menjadi trauma terbesar untuknya.


Tapi aku kaget saat dia menyebutkan nama "Edward", siapa Edward. Apakah itu nama untuk anakku.


"Siapa Edward, Mas?" tanyaku.


Dia gugup dan salah tingkah.


"Hmm.. b-bi s- a kah put-ra mu aku beri nama... Edward." ucapnya terbata bata.


Aku tak habis pikir, dia sampai sudah memikirkan nama anakku. Padahal aku sendiri belum terlintas ingin memberi nama apa untuk putraku.

__ADS_1


Apakah jika aku menolak lelaki ini, masih bisa menemukan lelaki seperti ini di masa depan?.


__ADS_2