DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KEBERANIAN


__ADS_3

Bella mendekati Tante Rina. Mengajaknya berbicara berdua.


Tante Rina yang kaget dengan sikap Bella, hanya mengikuti langkah Bella ke dalam kamarnya.


"Tan aku mau tanya." Tante Rina yang masih berdiri. Bella diri membelakangi Tante.


"Tapi maaf sebelumnya, aku gak bisa menatap Tante. Tante silahkan duduk."


Tante Rina mengangguk dan duduk.


"Aku langsung sama intinya ya Tan. Apa Tante tau tentang papa Surya yang berniat menggugurkan kandungan Mama ?"


"Iya Tante tau." Perasaan Tante Rina cemas. Kenapa Bella bertanya hal ini dan bagaimana dia bisa tau.


"Lantas, Tante tau kalau papa mencinta dan sangat tergila gila dengan Mama Melati ?"


"Mas Surya ? tergila gila ?" Tante kaget mendengar ucapan itu. Setahunya, yang di cintai Mas Surya hanya Kartika mbakku.


"Kamu kata siapa bell ?" tanya balik Tante.


"Aku cuma butuh jawaban Tan, please."


"Pertanyaan yang pertama ya betul. Yang kedua tidak, karna yang di cintai Mas Surya hanya mbak Kartika."

__ADS_1


"Dan semua orangpun tau itu." jelas Tante.


Bella termenung.


Satu perbedaan.


"Apa Papa pergi menyusul Mama Melati ke luar negri ?"


"Ya betul, disitu pun ada Tante. Tante saat itu sedang mengadakan pertemuan desainer dari Indonesia, kebetulan Melati model dari Indonesia. Mas Surya datang mengantar kebutuhan sang model saat itu. Untuk pemotretan produk terbaru perusahaan yang tidak sengaja tertinggal." jelas Tante Rina.


Dua perbedaan.


Bella frustasi dengan kedua jawaban ini, jauh sangat jauh dari yang dia dengar.


"Kenapa Bell, kok kamu bertanya hal ini ? Ada apa, cerita sama Tante." pinta Tante Rina.


Tante Rina nampak ingin tertawa mendengar ucapan ku, tapi di tahan karna aku dengan serius menceritakannya.


"Cukup Bell, cukup. Tante gak tahan ingin tertawa. Dewi bilang begitu sama kamu ?"


Aku mengangguk.


"Haha, gila ya. Dewi itu wanita yang mengejar mas Surya dari masa kuliah mereka. Tapi mas Surya tak pernah meliriknya. Dewi selalu iri dengan mbak Kartika dan dia bukan sahabat dari mereka, Dewi selalu mencari cara agar mbak Kartika dan mas Surya berpisah." Tante menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

__ADS_1


"Jadi ini yang buat kamu jadi kasar tempo hari di hadapan Davina Bell ?" Dengan matanya melirikku.


Aku malu mendengar ucapan Tante. Kenapa aku kehilangan akal sampai percaya dengan mudah omongan orang tanpa di saring. Aku mengangguk.


"Ayolah sayang, Tante sudah bilang. Mas Surya berubah bukan saat itu. Mas Surya berubah saat terjadi sesuatu dengan mbak Melati. Tapi kami gak tau jelasnya, hanya mereka yang tau."


Menepuk bahuku.


"Kalau kamu penasaran, coba bicara dengan Papamu ya. karna Tante gak tau saat itu Tante sedang di luar negri. Maka dari itu Tante sangat menyesal."


Tante merangkul ku.


Aku bersandar pada bahu Tante. Ada rasa sesal dan kecewa pada diriku sendiri, aku telah melukai Davina tanpa sengaja.


Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengan Davina ? Menatap wajahnya aku tak sanggup. Aku melukainya dengan alasan tak cukup, bodohnya aku.


"Sekarang kamu mau bagaimana Bell ?"


pertanyaan Tante membuyarkan lamunanku.


Aku pun tak tahu harus bagaimana.


Sepertinya harus menemui Davina dan meminta maaf. Bukan sikapku jadi pengecut.

__ADS_1


"Aku mau bertemu dengan Davina tan, karna aku sudah kasar dengannya."


"Iya sayang, bagus itu. Apapun yang terjadi pesan Tante, kalian semua bersaudara harus selalu saling mendukung ya." Tante mngecup kepalaku.


__ADS_2