DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
CEK IN


__ADS_3

Aku sedang membaca dokumen yang akan aku tinggalkan di sini.


Aku bukan pengecut, melainkan tidak ingin bertemu dengan mereka untuk sementara. Aku harus fokus dengan kehamilan dan persalinan ku nanti. Aku tidak ingin anakku terganggu oleh perasaan ku yang kacau.


"Semua sudah beres, Non. Peralihan sementara sudah dilakukan.. Dan ini dokumen anak cabang yang ada di sana." Mas Gaga memberikan beberapa dokumen yang harus aku bubuhi tanda tangan dan pelajari.


"Terimakasih, Mas. Sudah bekerja keras." aku tersenyum dan dia mengangguk.


"Jika ada yang perlu di jelaskan, silahkan bertanya ya, Non." ucapnya.. Maklum karna aku baru menginjak dunia bisnis.


"Iya Mas, pasti." ucapku sambil membaca sedikit sedikit dokumen di hadapanku ini.

__ADS_1


Aku ambil kuliah online sebelum mengambil alih perusahaan Mama. Dan itu sangat membantu untukku saat ini, walau sebagian masih merepotkan Mas Gaga menjelaskan kepadaku.


"Non yakin bukan Tuan Reza atau Glen. Mungkin Papa Non, Tuan Surya. Yang pegang kendali sementara." ucapnya dengan sopan dan menunduk.


"Mas, Mas kan tau.. Aku pergi menghindari mereka. Untuk apa aku menyerahkan semua ini kepada mereka. Toh mereka punya urusannya sendiri. Aku tadinya mau minta Papa Mas yang pegang, tapi beliau sedang menikmati masa pensiun. Jadi gak apa kan kalau Mas sekalian pegang kendali. Aku percaya sama Mas, jangan beritahu siapapun selain aku kita tentang ini ya, Mas." aku memohon kepadanya, aku tau dia tak enak hati harus memimpin perusahaan yang besar ini dan sekaligus sebagai penasehat hukum. Aku tau dia memiliki kemampuan manager lebih tinggi di banding diriku bahkan setara dengan Mas Reza.


Karna selama ini, Mas Gaga lah yang menjaga kestabilan perusahaan Mama walau di kendalikan oleh Papa Surya.


"Baiklah, Mas. Atur saja yang terbaik, aku percaya pada Mas Gaga." ucapku seraya senyum dan kembali membaca dokumen.


"Baik, saya tinggal ya Non. Permisi." Mas Gaga meninggalkan ruangan ku kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Huh... pusing, mual sekali aku baca segini banyaknya dokumen. Aku membaca inti dari setiap dokumen yang di selipkan oleh Mas Gaga. Dia selalu memberikan kemudahan untukku mempelajari ilmu baru ini.


Beberapa kali ponselku berdering dan nampak di dalamnya "Suamiku ❤️". Sepertinya aku harus ganti nama kontak ini. Aku mengambil ponsel dari dalam tas.


Aku tidak menjawab dan membalas setiap pesan Mas Reza, karna aku ingin membulatkan tekad meninggalkannya.


"Sepertinya bukan hanya di ganti melainkan di ganti SIM card agar bisa tenang." aku mengamati setiap pesan yang masuk. Jarang sekali Mas Reza menelpon bahkan mengirim pesan berkali kali dalam satu waktu.


Apa dia beneran takut kalau akan bercerai?, itu pasti, Mas. Dan hadiah itu sudah ku siapkan sepulang kamu berlibur dengan kekasihmu.


"Hatiku sudah mati, Mas. Walau kau sirami dengan kata kata manis seperti ini, itu sudah tidak akan tumbuh kembali. Biarlah aku kejam pada hatiku, karna aku tidak ingin terus tersakiti." aku membaca pesan pesannya yang mengingatkan perjalanan cinta kami, masa masa indah kami. Tapi itu sudah terlambat, Mas. Kamu membujukku untuk tidak bercerai tapi saat ini kami sedang di mana, Mas? Mungkin saat ini tubuhmu sedang berpelukan dengan kekasih mu atau mungkin sedang cek in di suatu tempat menikmati kebersamaan kalian. Lantas aku harus terharu dengan kata kata ini. Kamu kejam dan tidak berperasaan, Mas.

__ADS_1


__ADS_2