DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PERANG DINGIN


__ADS_3

Semua anggota sudah hadir di dalam ruang rapat, termasuk Papa Surya.


kret


"Selamat siang semua." Pengacara alm. Mama Sinta memasuki ruangan di susul dengan Glen di belakangnya.


Semua mata tertuju kepada Glen. Tak lain Papa Surya yang membulatkan mata serta dengan penuh terkejut hingga mengangga.


Tidak mungkin dia anak Sinta.


Kalau dia anak Sinta, kenapa selama ini dia diam aja. Abraham pasti tau. Ternyata ini semua rencana mereka.


"Sesuai janji saya, pada hari ini sang waris Ocfar factory hadir di tengah tengah kita. Dengan demikian pemegang saham terbesar di perusahaan ini di ambil alih yang tadinya bertangan kepada Bapak Surya Hartanto selaku suami dari alm. Ibu Sinta." Sang pengacara menatap Papa Surya.


"Kini tiba saatnya kita sambut pemilik sah dari Ocfar factory." Pengacara melayangkan tangannya "Bapak Glen Lincoln".


Semua bertepuk tangan. Ada beberapa orang yang terlihat kaget dengan nama Glen yang memiliki nama belakang Lincoln. Ada juga yang kagum melihat Glen.


Dengan kepekaan sang pengacara menjelaskan. "Mungkin ada yang bertanya, kenapa Bapak Glen memiliki nama keluarga Lincoln." Pengacara melirik semua orang. "Ya karna sedari kecil bapak Glen di asuh oleh keluarga Bapak Abraham Lincoln." jelasnya.


Semua mengangguk sambil menatap ke arah Papa Surya. Mungkin dalam hatinya bertanya.


kok bisa anaknya di urus keluarga orang ?


Ya tapi itu bukan tugas pengacara dan Glen yang menjelaskannya.


Rapat kali ini berjalan mulus, tidak sesuai prediksi. Melihat wajah Papa Surya yang begitu syok dan terpukul. Ada rasa senang sekaligus sedih di hati Glen.

__ADS_1


Papa Surya terus menatap Glen selama rapat.


Yang selama ini di anggap keponakannya ternyata anak kandungnya sendiri.


Gimana gak syok coba ?


***


Bella memapah Davina masuk.


Di dudukannya dia di sofa ruang keluarga.


Bella meminta bibi mengambilkan teh hangat serta air kompres dan obat anti lebam.


Lebam di lengan Davina akibat di tarik atau di pukul Papanya membuat pilu di hati Bella.


Apa yang telah di alaminya. Batin Bella.


"Minum dulu tehnya Dav." pinta Bella menyodorkan teh.


Davina menerima tehnya langsung meminumnya.


"Sini." pinta Bella meraih gelasnya.


"Aku obati lengan kamu ya." tanpa persetujuan Bella langsung meraih lengan Bella.


Reza yang melihat hanya diam dan tersenyum.

__ADS_1


Reza sungguh di buat kagum oleh tingkah Bella.


Walau seringkali Davina mencoba menyakiti dan merusak rumah tangganya tapi Bella terus mencoba mendekatinya Davina dengan tulus.


Memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk Davina.


Mereka mempunyai darah dari orang yang sama walau beda kandungan.


Mungkin baik Davina atau Glen bisa bersikap seperti Bella jika mereka ingin.


Melihat Bella begitu perhatian memberikan obat di lengan Davina. Mengompres beberapa memar. Dengan air mata yang sesekali menetes. Yang di usap oleh Davina.


Membuat siapapun yang melihat tau betapa tulus dan sayangnya mereka satu sama lain.


Reza membuka suara."Kamu kenapa Dav, abis jatuh dimana sampe lebam gitu." goda Reza.


Davina hanya menunduk malu.


"Mas udah deh." bantah Bella yang tak terima Davina di goda Reza.


Reza terkekeh.


Bella merapikan obat obatan dan duduk di sisi Davina.


Bella menggenggam tangan Davina.


Memberikan ketenangan dari dalam untuk Davina. Walau tanpa kata, apa yang ingin di sampaikan Bella sampai pada hati Davina.

__ADS_1


__ADS_2