
Kami sudah bisa berdamai dengan keadaan Clara yang memang tidak bisa di harapkan untuk siuman secepatnya.
Waktu sebulan sudah terlewati dengan hari hari seperti biasa. Ricardo melamar kekasihnya secara resmi dan dia sibuk menyiapkan pernikahannya.
Reza juga sudah berdamai pada hatinya, kini dia sudah kembali ke perusahaannya dengan normal. Sesekali dari kami menengok Clara di rumah sakit. Om dan Tante Abraham kembali keluar negri, karna Tante memiliki kerjaan yang harus di urus.
Aku bersandar di kursi taman belakang rumahku. Menikmati sejuknya udara sore hari dan harumnya bunga mawar.
"Sayang.." kecupannya pada kepalaku. Kehadirannya membuat sedikit kaget.
"Mas.. bisa gak kalau datang salam dulu, baru kecup aku." Tepuk tangannya.
"Maaf sayang, Mas sudah terlalu rindu padamu.." manjanya. Ya begini ya rupanya di depanku, manjanya seperti anak kecil. Berbeda jauh saat di depan orang lain.
Menyandarkan kepalanya di bahuku dengan mengecup leherku.
"Sayang,, geli... Ah.." sial suara ******* nakal keluar begitu saja.
"Hehe.. tubuhmu merindukanku, sayang." Tawanya senang.
"Mas, hentikan! Bentar lagi Edwi bangun tidur dan Edward pulang les." Ucapku menghentikan aksi nakalnya.
"Ah iya ya, makanya sebelum Edwi bangun dan Edward pulang kita selesaikan dulu urusan kita, sayang." Menghujani kecupan pada tulang selangka.
"Mas.. ah.. jangan gitu. Kamu juga belum mandi, bau asem tau." Godaku sambil menutup hidungku.
Dia bertingkah seperti anak kecil yang merajuk, mengerucutkan bibirnya seolah akan menangis. Membuat aku ingin tertawa, geli.
"Ya sudah, Mas mandi dulu ya, kamu sudah mandi? Atau mau mandi bareng?." Matanya mengedip menggodaku.
"Tidak, Mas. Sana sana.." aku melambai mengusirnya.
Aku kembali menikmati teh dan pemandangan senja yang indah berharap ketenangan ini akan terus berlanjut.
TRING ...
Pesan Masuk Tidak Dikenal
"Hai, benar ini Bella istri dari Aldiraga ?"
'Siapa ini, kenal denganku dan Mas Gaga tapi. Tapi aku tidak pernah melihatnya, sepertinya.' Aku menatap foto yang terpanjang di profilnya.
Wanita cantik, sepertinya berpendidikan dan mungkin teman Mas Gaga. Tapi kenapa dia bisa punya nomorku? Ah, dari pada banyak berpikir lebih baik aku bertanya langsung, ku balas pesannya.
"Iya betul, ada yang bisa di bantu."
Dia membalas kembali pesanku.
"Benar, bantu aku pergilah menjauh dari kehidupan Gaga!."
WHAT !!!! Apa maksud pesannya, dia gila seenaknya memintaku pergi dari suamiku.
Aku mencoba menelponnya, berbicara langsung lebih tepat menurutku. Tapi dia tidak mengangkatnya. Mungkin, hanya wanita yang tergila gila suamiku. Tapi kenapa dia tahu nomorku.
__ADS_1
"Sore, Mom.." sapaan Edward menghentikan pikiranku yang melayang kemana mana.
"Ah, sore sayang.. Kamu baru sampai?" Dia mencium tanganku dan mengangguk.
"Bersih bersih, dan istirahat ya." Kecup keningnya, dia mengangguk.
Tehku sudah habis, aku bangkit dan masuk kedalam. Pikiranku terus terganggu dengan kata kata dari pesan tadi. Tapi aku tidak mau bertindak bodoh hanya dengan satu kalimat itu.
Aku melihat Mas Gaga di tangga bersama Edwi.
"Eh., Anak cantik Mommy sudah bangun, ya." Aku meletakkan gelas ku di meja.
"Sini sayang, sini.." aku merentangkan kedua tanganku.
"Mih-mih..." Soraknya bergoyang goyang di pelukan Mas Gaga.
"Edward sudah pulang, sayang?" Mas Gaga mencari cari Edward.
"Hemm... Sudah, Mas. Lagi bersih bersih." Aku merangkul Edwi dalam pelukanku.
"Syukurlah."
Kami duduk santai di ruang keluarga, menemani Edwina yang asik menyusun balok.
Hatiku ingin bertanya kepada Mas Gaga tentang wanita asing yang tiba tiba mengirim pesan kepadaku. Tapi di sisi lain, aku takut di kira tak percaya kepada suamiku, malah mempercayai wanita asing.
"Sayang, boleh pinjam ponselmu?." Ijinku pada Mas Gaga yang asik menemani Edwina.
Aku berniat mencari tahu sendiri di kontak telpon Mas Gaga. Aku berharap ada dan tahu namanya, atau lebih bagus tidak ada.
Aku tidak mengerti, perasaanku terganggu dengan pesan itu.
Aku mengecek kontak melalui nomor ponsel wanita itu di ponsel Mas Gaga, tapi nihil.
Berarti wanita ini tidak berhubungan dengan Mas Gaga, lantas kenapa dia mengirimkan pesan seperti itu padaku? Dari mana dia dapat nomor pribadiku? Atau dia punya nomor lain, selain nomor ini?
Aku melihat satu persatu foto profil yang terpanjang di kontak Mas Gaga.
"Ada apa sayang?." Tanyanya. Melihat ekspresi wajahnya yang mungkin penasaran dengan sikapku tiba tiba.
"Gak ada sayang, aku cuma lihat lihat foto kita aja." Kilahku.
"Oh.. Bibi, malam ini jangan masak ya. Kita makan di luar saja." Mas Gaga memanggil bibi yang melintas.
"Iya, Tuan." Bibi mengangguk.
"Mau makan makanan apa, sayang?." Tanyanya padaku.
"Aku ikut aja, Mas." Aku meletakkan ponselnya.
"Oke kalau gitu, ada yang ingin Mas makan sudah lama. Semoga kalian suka nanti." Kata katanya membuat aku penasaran, makanan apa yang di inginkannya.
"Mau makan apa memang, Mas. Kok misterius gitu.." tanyaku.
__ADS_1
"Nanti kamu tahu." Mengedipkan matanya.
Aku mengerutkan dahiku, kenapa tiba tiba misterius.
Edward keluar dari kamar, menghampiri kami.
"Edwi, sini main sama kakak." Ajaknya bermain bola warna.
"Bagaimana dengan hari ini, Kakak?." Tanya Mas Gaga kepada Edward. Pertanyaan yang rutin di tanyakan pada anak sulungnya.
"Lancar, Dad. Begitu gitu saja" Jawabnya cuek.
"Hem.. kalau kamu ingin yang menantang, kembali lah ke kantor untuk membantu Daddy." Ucapnya.
"Ah, memang ada masalah apa di kantor, Mas?." Tanyaku sedikit khawatir.
"Gak ada masalah, sayang. Untuk sementara aku ke kantormu dulu, Ricardo Mas kasih cuti, kasian dia harus mengurus pernikahan sekaligus kantor." ucapnya.
"Bagaimana kakak Edward, siap tempur kembali ke kantor?." Menatap anak sulungnya dengan yakin.
"Aku ke kantor Mommy, besok aku sudah bisa masuk." Jawabnnya tenang.
"Baiklah, kalau begitu besok kalau cuti les." Mas Gaga langsung menghubungi guru lesnya Edward.
"Kamu yakin, Nak. Kantor Mommy itu agak rumit orang orangnya." Aku khawatir disana dia akan terganggu dengan orang orang yang rese.
"Tenang saja, Mom. Bukankah aku bisa minta tour pada Om Glen dan Tante Sisi." Ucapnya dengan raut tanpa ekspresi.
Iya benar ada Glen dan Sisi, tapi Edward tidak sedekat itu dengan mereka.
"Mommy jangan khawatir, aku tahu kenapa perusahaan Mommy tidak berkembang, karna banyak tikus got disana." Ucapnya sambil menemani Edwina main.
Benar, memang perusahaanku kurang berkembang, hanya stalk di tempat.
"Tapi Nak, itu berbahaya. Mereka culas pasti memiliki cara buruk untukmu, Nak. Mommy tidak perduli dengan perkembangan perusahaan, itu tidak lebih penting dari mu." aku khawatir, teringat kejadian yang tidak enak tahun lalu. Sampai Glen harus di opname karna kecelakaan.
"Sudah beres, kamu bisa mulai kerja besok." Mas Gaga menghampiri kami.
"Mas, sepertinya Edward jangan sendiri di perusahaanku." aku meminta Mas Gaga untuk mengingat kembali tahun lalu.
"Tenang sayang, aku yakin dan percaya pada anak kita." Dia mengecup keningku.
Aku berharap Mas Gaga ada rencana lain untuk melindungi Edward.
"Ya kan, Edward?." Tanyanya pada Edward.
"Ya, Dad. Mom tenang aja, oke."
Mas Gaga tersenyum bangga dan kembali menatapku dengan senyuman tanda seakan aku harus tenang dan percaya.
"Baiklah.. Mommy percaya padamu, tapi jika ada sesuatu yang ganjil. Kamu segera beri tahu kami, oke."
Di mengangguk.
__ADS_1