
...****************...
Udah aku tahan sakit kekacauan ini tapi hatiku tidak bisa. Keraguan yang ada di hatiku akan menjadi bumerang untuk diriku sendiri. Tidak seharusnya aku meragukan mu sebagai pengisi hidupku, tapi hatiku tidak bisa. perasaan itu tiba-tiba muncul saat aku membaca satu pesan singkat itu. Siapa perempuan itu? Kenapa dia mengenal Mas Gaga, aku harus bertanya?.
Aku melihat Mas Gaga sedang duduk di depan ponselnya, membaca berkas-berkas pekerjaannya. Ini saatnya aku harus bicara dengannya.
"Mas... Bisakah aku bicara sebentar... Apa kamu sedang sibuk?."Aku menghampirinya yang sedang duduk membaca berkas-berkas di ruang kerjanya.
Dia menatapku dan tersenyum, "Kenapa sayang, masuklah.. Mas tidak terlalu sibuk kok hanya membaca berkas-berkas yang tertinggal saja mempersiapkan untuk Edward besok."
Aku duduk tepat di hadapannya." Mas sebelumnya aku minta maaf, tapi kita sudah berkomitmen untuk saling jujur satu sama lain, bukan? Tolong lihatlah ini dan katakan siapa, dia?." aku menyodorkan ponselku kepadanya.
Dia membaca pesan yang tertulis dengan serius, aku menatap wajah dan ekspresinya yang tiba-tiba berubah. Dia mengurutkan dahinya seakan penasaran siapa? Aku menguatkan hatiku, tidak mungkin mengenal wanita itu aku yakin.
Dia terdiam..
"ini sepertinya aku mengenalnya sayang."Mas Gaga mengenalnya jangan-jangan.
Dia melanjutkan bicara, "Ah aku ingat dia adalah temanku semasa aku kuliah dulu, tapi aku dengar dia berada di luar negeri.
__ADS_1
Mungkin sudah kembali, tapi dari mana dia tahu nomor mu, ya sayang. Dan kenapa dia bisa mengirim pesan seperti itu .Padahal aku sama sekali tidak berhubungan apapun dengannya, tapi memang ada cerita semasa aku kuliah dulu. Mau aku jelaskan atau sudah cukup." tanyanya padaku. Aku mengangguk.
"Tunggu sebentar, Mas jelaskan. Ada apa ini sayang, kamu curiga sama Mas cuma gara-gara pesan singkat kayak gini, atau jangan jangan... kamu cemburu ??" di menggodaku. Wajahku panas terasa seperti terbakar. Please deh, jangan bicara yang tidak tidak. Aku mana mungkin cemburu, ya kan?
Hatiku sudah terlanjur memikirkan pikiran-pikiran yang aneh yang melintas. Mas Gaga mengenalnya dan bahkan ada cerita katanya. Cerita apa, tentu aku harus tahu kenapa sampai dia mengirim pesan seperti itu padaku.
"Mana mungkin aku cemburu, Mas. Aku penasaran aja kok ada wanita yang tiba-tiba kirim pesan seperti itu ya kan aneh aja, Mas. Bukan karena cemburu, jangan ge er." kilahku.
"Ya sudah kalau ini nggak cemburu Ya sudah enggak apa-apa, anggap aja itu pesan yang cuman nyasar nggak penting. Lagi pula sudah nggak punya tuh kontak dia. Terus kenapa kamu tanya, kalau nggak cemburu yah asli deh kalau kamu nggak cemburu berarti gak sayang dong sama Mas. Kamu nggak takut kalau Mas direbut wanita lain?" dia terus menggodaku. Aku gengsi dong bilang kalau aku cemburu. Toh dia aja gak pernah nunjukin kalau dia cemburu padaku.
"Maaf aku serius, walau kata-katanya cuman kayak gitu, tapi aku itu nggak nyaman. Mas kamu kenal lagi sama dia siapa. Aku mau Mas jujur sama aku, siapa dia. Ia iya deh, aku jujur aku cemburu. Emang Mas gak pernah cemburu sama aku, nggak pernah tuh Mas tunjukin Kalau Mas itu cemburu sama aku takut kehilangan aku." aku merungut.
Aku tidak pernah berpikir kalau selama ini Mas Gaga menahan rasa cemburunya padaku. Karena sikapku yang selalu terbuka, aku selalu berpikir Mas Gaga bersikap acuh, karna menganggap hubungan ku dengan Reza sebatas teman. Aku tidak pernh berpikir, bahwa hatinya akan terluka jika mengenai Reza yang merupakan masa laluku.
Aku mendekap tubuhnya, menyandarkan kepalaku di pundaknya.
Maafkan aku Mas sudah pernah berpikir , kalau Mas selama ini menahan rasa sakit cukup lama. Aku hanya menganggap apa yang aku lakukan pada mereka hanya sebatas sesama manusia, Mas. Aku tidak pernah berpikir itu akan menyakiti perasaan kamu. Aku terlalu berpikir lurus, Mas. Maafkan aku karena tidak pernah bisa menjaga perasaan kamu. Lain kali kalau ada yang membuat kamu tidak nyaman langsung beritahu aku ya, agar aku tahu kalau perbuatan Itu menyakiti perasaan kamu." dia mengusap tanganku. Menuntunku duduk di pangkuannya.
"Kamu sudah tahu perasaan Mas, Mas sudah senang. Mas tidak ingin merubah diri kamu yang tulus membantu orang lain, hanya karna perasaan cemburu, Mas. Tapi sejujurnya itu tidak nyaman, sayang. Kamu sudah mengerti perasaan Mas, sudah cukup untuk Mas, sayang." mengecup bibirku.
__ADS_1
"Baiklah sayang, Mas akan jelaskan siapa dia yang membuat kamu cemburu. Dia itu Bunga adalah anak Rektor di kampus, Mas. Dia gadis yang ceria, cantik, pintar dan mudah bergaul. Mas sedikit nyaman bermain dengannya, karena anaknya itu tidak pernah memilih teman menurut, Mas. Mas menjauh di saat Mas tahu dia memiliki perasaan lain untuk, Mas. Saat itu acara di kampus sedang diadakan party kecil-kecilan, Dia menyatakan perasaannya depan semua teman-teman Mas saat itu. Dari situlah Mas menjauh darinya karena Mas tidak ada pikiran apapun padanya. Mas tidak tertarik dengannya sebagai lawan jenis. Apalagi untuk menjalin hubungan kekasih dalam kampus, Mas hanya berpikir gimana caranya Mas bisa fokus dengan pendidikan dan cepat selesai masa kuliah. Mas ingin fokus bekerja sudah, Mas tidak ada perasaan apapun pada wanita manapun." Dia menggenggam tanganku dan menatap lurus, di wajahnya tidak ada kebohongan. Seperti itu wajar wanita mana yang tidak tergila-gila dengan wajahnya saat itu, masih muda mungkin lebih mempesona dari sekarang. Cinta semasa kampus!Aku meyakinkan hatiku menganggap pesan itu hanya ingin lewat, ombak di Pantai akan ada pasang surutnya mungkin ini cobaan untuk perasaanku pada Mas Gaga.
"Sayang, tidak ada wanita manapun di hatiku kecuali tiga orang, Ibuku, istriku, dan putriku. Kalian tidak akan pernah tergantikan. Kalian yang akan selalu mengisi kehidupanku, disisa hidupku ini." dia mencium tanganku dengan lembut. Aku mengangguk.
"Mas tahu hatimu pasti sedikit tidak nyaman membaca pesan itu, tapi kamu harus yakin kalau di hati Mas tidak ada wanita lain.Biarkan saja dia berkata apapun, jika ada yang membuat kamu ragu, kamu harus segera bertanya pada, Mas. Jangan tunggu hatimu merasa sakit, jangan tunggu kegelisahan membuat hari-harimu tidak bahagia ya, sayang. Kamu harus tahu kalau Mas tidak akan pernah berpaling dari mu ke wanita manapun. Karna kamu yang paling berharga untuk, Mas."
"Gadis itu orangnya ambisius, bukan satu kali dua kali dia pernah mencoba menjebak Mas untuk jatuh pada keinginan. Adapun berulang kali Mas tekankan padanya, Mas sama sekali tidak ada perasaan apapun. Dia terbiasa memiliki apapun yang dia inginkan, jadi kemungkinan besar, rasa sukanya pada Mas saat ini hanya rasa kecewanya karna tidak bisa memiliki apa yang dia inginkan. Kamu harus ingat, kalau Mas hanya mencintaimu. Jadi jika dia saat ini mengirim pesan seperti itu sepanjang yang Mas ingat, itu adalah ambisinya untuk memiliki sesuatu yang belum bisa dia dapatkan. Itu pertanda dia belum selesai dan belum berdamai pada dirinya sendiri." dia menghela nafas, ada raut kekhawatiran di wajahnya.
Aku tahu betul berurusan dengan orang yang berambisi brutal itu memang merepotkan. Dia bisa berbuat apapun agar bisa memiliki yang dia inginkan. Kasihan sekali wanita itu, sudah seusia ini masa belum move on. Padahal cantik dan berpendidikan, tapi apa daya dia di perlakukan layaknya seorang ratu yang selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan mudah. Jadi sudah sewajarnya sifatnya akan seperti ini.
"Iya Mas, aku percaya padamu. Siapa juga yang tidak tergoda dengan pesonamu itu, Mas. Sudah berusia segini aja kamu masih jadi "lampu sorot" kalau kita jalan. Apalagi di saat usia mudamu, aku penasaran wajahmu seperti apa.." godaku.
Dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu salah, sayang. Pesonaku tidak sebanding denganmu, Mas harus rela menunggumu datang pada Mas sekian lama Mas berada di sisimu. Mas harus ekstra hati-hati kepada lelaki keranjang di luar sana yang masih mengantri mendapatkan kamu." mencolek hidungku.
Kami tertawa bersama.
"Ya sudah, sudah waktunya makan malam. Panggil anak anak dan bibi, minta mereka bersiap kita berangkat. Mas rapikan berkas ini dulu, kamu bersiap sana." mengelus pipiku.
__ADS_1
Aku mengangguk, "Iya, Mas. Aku bersiap dulu, ya."