DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
BERKUNJUNG


__ADS_3

Aku di jemput Mas Gaga untuk mengunjungi Papa di Rumah sakit.


"Dad-dy na na?" tanya Edward dengan kosakatanya yang menggemaskan dan memusingkan kami.


"Kita mau jenguk Eyang." Mas Gaga menirukan gaya Edward. Aku tersenyum melihat tingkah keduanya kalau berbicara.


"N- Nyang?" tanyanya lagi. Karna selama ini di desa kami, Edward terbiasa memanggil Abah dan Mbok.


"Iya, Eyang. Eyang adalah Abah Edward dari Mommy." Mas Gaga menunjuk kan jarinya padaku.


"Mommy, N- Nyang?." matanya membulat mengharap jawaban yang dia mengerti. Tapi aku sendiri bingung menjelaskannya.


Aku mengangguk, "Iya sayang, kita kerumah Eyang." aku mencubit pipi empuknya.


Dia meloncat loncat kegirangan, entahlah aku pun tidak mengerti apa yang membuatnya bahagia.


"Kamu sudah yakin dan siap, sayang?." tanya Mas Gaga padaku. Aku tau maksudnya. Aku mengangguk mantap.


"Baiklah,. Semoga berhasil, sayang." mengelus rambutku.


Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Aku cemas dan was was, tapi aku harus membuang penyakit di hatiku. Agar hidupku lebih tentram.


"Edward, sayang. Sini minum susunya." Mas Gaga melekatkan Edward di pangkuan dan menyusuinya. Aku tertidur entah bagaimana awalnya, aku selalu terlelap jika sudah mencium aroma tubuh Mas Gaga yang menenangkan.


"Sayang, bangun sudah sampai." dia menepuk pipiku lembut. Aku mengusap wajah ku dan menguap.


"Sudah sampai, Mas. Edward mana?." aku baru teringat entah sudah berapa lama aku tertidur sampai lupa, anakku.


"Tuh.." dia menunjuk ke box bayi.


"Dia masih tidur?." tanyaku heran karna tidak biasanya dia tidur begitu lama.


"Dia baru tidur beberapa menit yang lalu, selesai makan." ucap Mas Gaga.


"Edward sudah makan?." aku menatap Mas Gaga. Dia mengangguk.


Aku memeluk tubuhnya, "Kurang apa lagi hidupku memiliki mereka berdua." batinku.


"Kamu siap siap, sebentar lagi kita sampai Rumah sakit." dia mengelus kepalaku.

__ADS_1


***


"Mas, apa belum bisa mencari kabar di mana, Mbak Bella?." tanya Davina kepada Glen dan Reza.


Mereka menggelengkan kepalanya.


Davina menarik nafas dalam, menatap Papa yang berbaring di brankar dengan lemas.


"Papa merindukan Mbak Bella, Mas. Beliau sangat menyesal telah melukai kedua kali Mbak Bella." ucap Davina lirih.


Reza menunduk diam, dia teramat tahu semua itu ulahnya. Melibatkan banyak orang sehingga begitu menyakitkan.


"Aku sedang berusaha, Dav." jawab Glen.


TOK ... TOK ... TOK ...


KLIK ...


Semua mata tertuju pada seseorang yang membuka pintu. Mas Gaga dengan menggendong anak balita memasuki kamar rawat Papa Surya.


Mata mereka menyorot kepada anak yang di gendongnya. Begitu tampan dan menggemaskan.


Melihat mereka yang menatap heran tapi tak lama mengangguk kompak.


"Silahkan masuk, Mas."


Tak lama di susul oleh sosok wanita yang sedang mereka bicarakan dan bahkan bertahun tahun di cari. Bella Saphira.


"Permisi, boleh saya masuk." ucap Bella.


Aku berlari mendekat Mbak Bella, meyakini mataku bahwa benar yang di hadapanku adalah Mbak Bella.


"MB -bak Bella!" aku meraih tangannya. Memastikan bahwa benar adanya.


Mbak Bella hanya mengangguk kecil. Wajahnya lebih cantik dari sebelumnya, tubuhnya berisi dan sorot matanya dingin. Berbeda dengan dirinya yang lalu, yang selalu menebarkan kehangatan kepada setiap orang.


"Masuk Mbak." aku menarik tangannya. Aku memaklumi perubahan sikapnya, karna kami lah akar permasalahannya.


"Bella, benar kamu Bell?." Mas Reza nampak kaget dan gugup melihat Mbak Bella.

__ADS_1


Mbak Bella diam tidak menanggapi pertanyaan dari Mas Reza.


"Silahkan duduk, Mbak Mas." pintaku.


Sedangkan Mas Glen masih terpaku menatap Mas Gaga yang sedang mengelus punggung balita yang di gendongnya.


Dia terkejut dengan sikap hangat Mas Gaga, sedangkan aku terkejut dengan sikap dingin Mbak Bella.


"Terimakasih." jawabnya duduk di sebelah Mas Gaga.


"Apa kabar, Mbak?." aku basa basi, aku tau dia baik baik saja terlihat dari tubuhnya. Tapi mana tau dengan hatinya.


"Kami baik, kalian bagaimana, Papa sakit apa?." tanyanya mulai ramah.


"Papa kecapekan, Mbak. Banyak pikiran kata dokter." ucapku.


"Dad - Dy c u- c u .. " kalimat yang keluar dari mulut bayi itu membuat kami kaget apalagi dengan senyuman lembut Mas Gaga memberikan botol susu kepada bayinya.


"Minumlah, sayang." dia tersenyum dan mengusap kepala bayinya.


"Daddy?" pertanyaan yang di lontarkan Mas Reza membuat kami semua menatap wajahnya, termasuk Mbak Bella dan Mas Gaga.


"Iya, dia anak kami. Kenapa?." jawaban Mas Gaga membuat jantungku seakan loncat.


"Anak kami, berarti Mas Gaga dan Mbak Bella?" batinku.


Aku melirik Mbak Bella yang asik mengusap pipi tembem bayinya.


"Jadi kalian.." kini yang pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Mas Glen. Aku menatap Mas Glen dengan makna, "untuk apa di tanya, jika jawabannya sudah pasti!."


Dia menutup mulutnya.


"Iya benar, Glen. Kami sudah menikah dan Edward buah hati kami." sekarang jawaban itu dari mulut Mbak Bella.


Rasanya aku kering berada di tengah tengah lelaki yang sedang panas. Di hadapanku Mas Glen, sisi kanan kiri Mas Reza dan kanan Mas Gaga. Aku ingin lari dari sini, sinyal kekecewaan dan amarah dari Mas Reza benar benar terasa membakar punggungku.


"Sini sama Mommy, sayang. Kita jenguk Eyang, ya. Kasian Daddy capek gendong kamu." Mbak Bella meraih bayinya dan mendekati Papa.


Mengusapkan tangan kecil anaknya ke pipi Papa. Papa membuka matanya dan seketika air matanya mengalir.

__ADS_1


"Bella... kamu kembali, Nak."


__ADS_2