
Melihat tingkah Davina akhir ini.
Sudah terbiasa sedikit terbuka, bergurau dan mau bertemu dengan Glen atau Bella.
Bella berharap Davina sadar akan ikatan persaudaraan mereka.
***
CAFE
Bella, Glen, Reza dan Davina.
Pemandangan langka, sungguh indah di hati.
Andai persaudaraan mereka akan utuh jika sudah tahu permasalahannya.
Reza meminum kopinya.
tring..
Bella memainkan ponselnya dan menoleh.
"Kenapa mas, kok gelasnya di banting gitu?" tanya Bella mendengar hentakan gelas Reza.
Reza mengerucutkan bibirnya.
Glen terkekeh. "Dia kesal Kak, karna di cuekin."
Bella tertawa.
Reza mendengus dan menatap Glen.
Glen mengangkat tangannya.
Davina terkejut, saat Glen memanggil Bella dengan panggilan kakak. Semenjak di beritahu kisah mereka oleh Tante Rina.
Glen berinisiatif memanggil Bella dengan kakak.
Bella bangkit mengangkat ponselnya.
Reza melempar buku menu pada Glen. Dan tertawa bersama.
__ADS_1
Hanya Davina yang masih diam.
Glen melirik Davina. "Kamu Kenapa Dav ?"
Davina menatap dalam Glen. "Tadi aku gak salah dengar, kamu panggil Bella dengan sebutan kakak ?"
Glen mengangguk. "Iya karna dia kakak ku." Glen dengan santai menjawab pertanyaan Davina yang malah makin membuat Davina penasaran.
Belum sempat Davina bertanya kembali, Bella telah duduk kembali di hadapannya.
"Aku abis telpon Sisi, dia mau kesini katanya Glen." melirik Glen.
Glen salah tingkah.
Semenjak di rumah sakit, dan kejadian tempo lalu. Glen menghindari Sisi.
Glen malu telah mengecewakan Sisi.
Bella paham dengan situasi Glen.
"Kamu jelasin baik baik ya Glen, apapun keputusannya kamu gak bisa bantah ya. Kamu harus terima kesalahan kamu." nasihat Bella.
Kini bukan hanya Davina yang termangu, Reza pun ikut termangu. Dia tidak tau apa yang terjadi dengan Glen dan Sisi.
Reza bergantian menatap Glen dan Bella.
Glen menunduk sedangkan Bella tersenyum.
"Biasa sayang, anak muda." kekeh Bella.
Reza mengangkat alisnya.
"Nanti aku ceritain ya." jelaskan Bella.
Bella menatap Davina yang menggenggam gelasnya. Tatapan penuh arti antara Glen dan dirinya.
"Ada apa Dav, kok kaya beban banget." penasaran Bella dengan tatapannya.
"Tadi aku denger Glen memanggil kamu kakak." cetus Davina.
Bella tersenyum. "Kamu juga kalau mau panggil aku kakak boleh kok." Bella mengusap tangan Davina dengan lembut.
__ADS_1
Bella sengaja mendekati Davina, karna dia tidak ingin meninggalkan adik adiknya nanti dalam kesulitan. Harus berhadapan dengan seorang Papa yang luar biasa keras.
Bella ingin mereka bertiga saling menggenggam. Memberi kekuatan satu sama lain. Serta membalas rasa sakit yang di terima oleh Mama mereka.
Bella menganggap baik Glen, Davina dan dirinya hanya korban dari keangkuhan Papanya.
Davina menunduk, wajah merah dan sendu.
Jauh di dasar hatinya, Davina ingin memiliki saudara yang bisa di ajak berbagi suka dan duka. Saling menguatkan.
Suasana sungguh menyentuh hati.
Tiba tiba Reza mencium pipi Bella.
cup
Membuat Bella kaget dan langsung menatap Reza.
Glen memasang wajah masam.
Davina tersenyum.
Bella menepuk bahu Reza. "Kamu apa si mas, dari tadi aneh terus." senyum Bella.
Reza mengusapkan kepalanya ke lengan Bella. Bergelayut bermanja.
Glen bergidik. "Geli tau gak Za, apaan si ih." mengangkat kedua bahunya.
Reza mengibaskan tangannya. "Kamu tau gak, dari tadi yang istriku kerjain adalah ngurusin kalian adik adiknya. Sedangkan aku suaminya di cuekin dari tadi. Udah kering ni kaya kanebo." merajuk Reza di lengan Bella.
Membuat semua tertawa.
Bella mengelus kepala Reza dengan lembut.
Davina menopang dagunya dengan tanganya di atas meja, menonton pertunjukan Reza yang merajuk.
Ada rasa hangat di hatinya.
Merasakan kebersamaan bersama mereka.
Glen terus menganggu Reza dengan ejekannya.
__ADS_1