
"Kalian sudah memiliki semuanya kembali, lantas masih meminta rumah yang kami tempati ?" Davina bersitegang dengan Glen.
Sementara yang lain hanya diam. Termasuk papa Surya yang hanya menunduk.
"Lah emang kamu punya hak nempatin itu rumah hah ? sadar diri lah. Kalau kamu ngerasa itu bukan milikmu, ya kembalikan lah. Kenapa ngotot." balas Glen.
Davina meneteskan air mata.
"Ya aku tau, itu bukan milikku atau papaku. Tapi setidaknya beri sedikit waktu untuk kami." kini Davina melemah. Mungkin sudah capek untuk berontak, karna memang kenyataannya itu bukan miliknya. Glen benar.
"Selama ini sudah berapa puluh tahun waktu yang kalian miliki, masih kurang ?" Glen yang masih tampak panas dengan asumsinya.
Davina diam menangis.
__ADS_1
Tak tega hatiku melihat Davina pasrah dan hancur. Kenangan yang iya rasakan mungkin takkan terbayar di rumah itu.
"Aku tau salahku, aku juga tau aku gak berhak meminta waktu untuk ini. Tapi aku harap kalian sedikit berbelas kasih. Bukan kami mempertahankan yang bukan menjadi milik kami, tapi kenangannya bersama yang belum bisa kami ikhlaskan." Papa Surya bersuara.
Betapa kagetnya aku mendengar itu. Kenangan bersama ? ya bersama kalian ibu, ayah dan anak. Lantas kami ? Kenangan apa yang harus kami pertahankan. Di rumah itu tempat Mamaku di besarkan. Di rumah itu kenangan indah Mamaku bersama keluarganya. Lantas kenapa kalian tega merebutnya. Awalnya aku berniat mengajak mereka rujuk. Tapi pernyataan Papa membuat luka di hatiku.
Aku belum sekuat itu mendengar kebahagiaan mereka di atas derita yang kami rasakan.
Kalau mereka yang merebut bisa mengatakan kenangan tak terlupakan, lantas bagaimana perasaan mamaku saat kalian rebut miliknya. Kenangannya ? Bahkan kalian hancurkan hidupnya.
Aku tak menyangka Glen sangat kalap di saat seperti ini. Dia yang pendiam tak banyak bicara ternyata memendam semua luka di hatinya begitu dalam.
Glen memukul meja.
__ADS_1
"Sudah cukup drama kasiannya. Berapa tahun kalian tinggal disana ? Berapa tahun kalian menikmati masa indah hasil merebut kebahagiaan kami ? Berapa tahun kalian hidup mewah di atas derita kami ? Apa itu belum cukup. Sudah bagus mbak Bella hanya meminta rumahnya, coba kalau kami meminta ganti rugi atas kehancuran keluarga kami. Apa kalian mampu ?"
Tante menatapku, seakan bertanya "Apa ini yang kamu mau Bell ?"
Aku menggelengkan kepalaku.
Aku diam karna ingin tau sampai mana kerasnya mereka, aku ingin tau sampai kapan mereka akan angkuh dengan dirinya.
Aku hanya butuh kata maaf dan penyesalan. Bukan ini yang ku mau, apa begitu sulit mengaku salah dengan kesalahannya. Apa sulit meminta maaf kepada keluarganya sendiri.
Rumah itu memang milik Mamaku, akan ku perjuangkan apa yang harus di perjuangkan. Tapi aku tidak akan mengusir mereka begitu saja. Kita bisa hidup berdampingan bersama.
Andai kalian tau apa yang aku inginkan.
__ADS_1
Kenapa kalian begitu arogan padaku. Begitu tak inginkan kalian bersamaku. Begitu tak sudi kah kalian mengaku salah.
Sakit hatiku melihat perdebatan mereka. Aku akui Glen meluapkan emosinya. Karna baru kali ini kami bisa bertemu bersama secara langsung. Glen yang awalnya menganggap Papa Surya adalah om nya. Bahkan mengidolakan beliau. Tapi di patahkan ketika tau kenyataan ini. Aku paham rasa sakitnya.