
Waktu begitu cepat berlalu, Mas Reza dan Clara sudah resmi menikah. Clara tetap mempertahankan kehamilannya. Kini usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima.
Sering kali kami di buat kaget dengan keadaannya yang tiba tiba drop. Tapi Alhamdulillah masih bertahan hingga saat ini.
"Wina, jangan kaya gitu dong. Yang kamu gigit itu kotor, By." suara Edward yang tegas tapi lembut terdengar saat menjaga adiknya yang baru berusia empat bulan.
Edwina yang sedang masa menyukai benda dan memasukkannya kedalam mulutnya membuat Edward gemas.
"Sini, kakak bilang sini, By. Kamu pegang yang ini, ini kotor tadi kamu sudah lemparkan." Dia mengambil teether dari tangan Wina.
Dia yang cekatan, telaten dan lembut menjaga adiknya berbanding terbalik saat dia menjadi dirinya sendiri.
Mengelap air liur yang mengalir akibat gigitan Wina pada teethernya.
"Ward, ini dokumen yang perlu di revisi, ya." tanyaku sambil membaca beberapa dokumen yang di letakan di meja olehnya.
"Iya, Mom. Aku menunggu Om Ricardo datang ambil." jawabnya.
Ricardo yang dari bayi menemaninya sekarang pun selalu disisinya. Sebagai orang yang mengajarinya dan orang kepercayaan bagi kami untuk Edward.
"Hem, kamu sudah pelajari semuanya." tanyaku lagi.
"Iya, Mom. Hem.. kalau Mommy sempat bisa baca ulang, Mom. Nanti jika ada yang keliru, tolong beritahu aku." ucapnya sambil mengusap liur adiknya.
"Baiklah.." aku yang tidak terlalu paham bisnis hanya baca sepintas. Ada tanda yang di garis Edward sepertinya ini yang salah. Selama ini perusahaanku di pegang Mas Gaga, bahkan sebelum kami menikah pun Mas Gaga dan ayah mertua yang pegang. Aku mana mengerti bisnis. Hihi
"Selamat siang... Keponakan Om yang tampan ini.." Ricardo yang jenaka tidak pernah berubah. Tapi hanya kepada kami, di luar sana dia terbawa suasana percis seperti Edward. Bahkan pertunangannya sampai sekarang masih menggantung.
"Tampan kok belum sold out juga.." godaku.
"Ah, Mbak ini ya.. Aku bukan belum sold out, Mbak. Hanya saja belum waktunya orang tampan ini mematahkan hati para gadis di luar sana." dia melepaskan kancing kemeja atasnya dan menarik dengan pose keren menurutnya.
"Cukup, Om. Ini dokumen yang perlu di perbaiki. Jam 14.00 aku kembali ke kantor, jadi tolong segera perbaiki." ucapan Edward menghentikan gurauan kami. Memang anak ini bisa banget menghancurkan suasana.
"Cukup, Edward. Kamu selalu menyiksa, Om mu ini. Om baru sampe Edward, Om belum menggendong princess Wina yang cantik dan gembul itu." dia berpose lemas dengan bersungkur di lantai.
"Terserah, Om. Tapi aku mau jam 14.00 selesai." ucapnya tanpa ampun. Membuat Ricardo bangkit dan mengambil dokumen di tangan Edward.
"Yang ini dan ini." dia kembali ke mode kerja.
"Ya, aku sudah beri tanda." di anggukan Edward.
"Baiklah.." Ricardo langsung duduk di kursi dan laptop di depannya. Setelah menelpon bawahannya, dia memotret dokumen yang di tandai Edward.
"Lakukan segera, jam 14.00 serahkan ke kantorku. Perbaiki yang sudah di beri tanda, cetak ulang." Ricardo dengan mode kerja juga berbanding terbalik dengan posenya yang tadi.
__ADS_1
Aku pusing melihat mereka yang memiliki kepribadian yang berbeda di setiap momen.
"Sudah beres bos kecil.. Sekarang Om mau main sama Wina dulu, ya." Ricardo menggendong Wina yang ada di hadapan Edward. Tangan Ricardo di tepis Edward.
"Au.." dia mengibas tangannya.
"Kenapa lagi, Bos." ucapnya menatap Edward. Aku hanya tersenyum melihat kekonyolan mereka.
"Sudah cuci tangan?." tanya Edward yang protektif terhadap adiknya.
"Sudah, Edward yang manis.. Tadi Om di depan sudah cuci tangan, cuci muka juga." Ricardo memperagakan cara mencuci tangan dan mukanya lalu menyolek pipi Edward.
Secepat kilat di tangkis Edward, "Jangan coba coba menyentuh pipiku, Om. Aku bukan bayi." Edward bangkit dan pergi ke kamarnya.
Ricardo merungut dan menatapku lalu kami tertawa.
"Aku bukan bayi.. Ya dia memang bukan bayi, Mbak. Bahkan saat dia bayi, dia begitu manis dan penurut. Kenapa sekarang seperti itu, ya. Dia yang selalu ku gendong, bahkan kentut, pup, dan ngompol di pangkuanku." Ricardo dengan acting teraniayanya, "kenapa dia mencampakanku, Mbak..Kenapa!!!." dia mengangkat tangannya menunjuk ke arah kamar.
"Itu saat aku bayi, Om. Sekarang bukan lagi!!!." dari dalam kamarnya Edward membalas ucapan Ricardo.
"Aduh.. kalian ini ya.. saling goda terus, Kamu sudah makan, Do?." tanyaku.
Dia cengengesan dan menggelengkan kepalanya.
Semenjak putriku lahir, Ricardo di jam istirahat selalu pulang apalagi dia sedang tidak sibuk.
Ricardo mengangguk dan langsung menuju meja makan.
Ricardo memang tidak memiliki pekerjaan tetap di kantor, dia adalah asisten tangan Edward. Jabatannya adalah bayangan Edward. Karna Edward masih kecil dan masih harus les dan sekolah, dia tidak selalu ada di perusahaan. Maka Ricardo yang menggantikannya, walaupun akhir keputusan tetap di tangan Edward.
Pesan Masuk Suamiku
"Sayang, apa anak anak tidur?"
Pesan keluar Suamiku
"Edward mau berangkat kekantor, Wina sedang main mungkin sebentar lagi tidur. Kenapa, Mas ?."
Pesan Masuk Suamiku
"Oh, tidurkan dulu Wina. Nanti titip dulu ke bibi, Aku jemput kamu setelah Edward kekantor, ya. Kita nonton film yuk, mau gak?"
Aku tersenyum sumringah, Mas Gaga memang dingin. Tapi dia selalu hangat padaku, selalu bisa menyelipkan hal hal manis di sela kesibukannya. Walaupun sepele, tapi membuat hatiku meleleh.
Pesan keluar Suamiku
__ADS_1
"Iya Mas aku, mau. Aku tidurkan Wina dulu dan bersiap."
Aku bergegas masuk kamar membawa Wina yang memang sudah jam tidur siang.
Tak lama setelah Edward pamit kekantor bersama Ricardo, Wina pun tertidur.
Aku meminta bibi menjaganya sekalian bibi istirahat. Asi sudah ku siapkan di penyimpanan yang cukup banyak.
Aku mandi dan bersiap, merias wajahku dengan tipis.
"Hem... pakai ini apa ini, ya." aku bimbang memilih pakaian. Ah sepertinya mau kencan dengan pacar. Semenjak melahirkan sampai sekarang aku belum sempat jalan berdua dengan Mas Gaga. Kali ini membuatku grogi dan gak percaya diri.
"Non, mau keluar.." tanya bibi, mungkin bibi bingung melihatku mengaduk lemariku.
"Iya, bi. Nanti kalau ada apa-apa, kabarin segera ya, Bi." ucapku tetap fokus memilih baju.
"Non, mau kemana, boleh bibi kasih saran." bibi tersenyum padaku.
"Hem.. aku mau nonton, Bi." ucapku malu, seakan tertangkap basah oleh seorang ibu sedang kasmaran.
"Oalah, Non. Sama tuan ya.. kencan.. Hehe" bibi tertawa kecil berjalan mendekatiku.
"Yang ini aja, Non. Lebih simpel, modis dan nyaman." ucap bibi menunjukkan baju terusan ku.
Pilihan Bibi pada tunik bergaris dengan bawahan plisket. Lumayan juga.
"Baiklah, Bi. Aku pakai ini saja." ucapku.
"Iya, Non. Terlihat segar dan juga Non kan masih muda.. Pakai yang sedikit terbuka juga boleh." goda Bibi menunjuk gaun pendek dengan dada berbentuk v.
"Ah, Bibi." pipiku terasa panas. Malu rasanya di goda oleh orang tua.
"Akukan cuma mau nonton, bukan mau dinner, Bi." aku merapihkan pakaianku dan mengambil tasku.
Bibi menyodorkan sepatu sneaker padaku.
Aku tersenyum dan memakainya.
"Nah, kan kalau gitu masih kaya anak abege, Non." tawa bibi membuatku semakin malu.
"Bibi bisa aja, aku sudah punya anak dua, Bi." ucapku merapihkan sedikit rambutku.
Bibi meraih rambutku, dia menguncir kepinggir dan meletakkan rambutku di atas bahuku. Poniku yang panjang menjuntai di sisi telingaku.
"Sip.. Anak gadis Bibi sudah rapi mau kencan. Silahkan berangkat nanti kasian yang nunggu kelamaan." bibi menepuk punggungku mendorongku keluar kamar.
__ADS_1
"Maksih ya, Bi.." aku menggenggam tangannya. "Titip Wina.." ucapku.
Bibi mengangguk. Bibi sudah menganggap ku keluarganya dan akupun sudah menganggapnya keluargaku sendiri. Bibi hidup sebatang kara, dia di tinggal suaminya meninggal kecelakaan di usia mudanya dan mengharuskan dirinya mengangkat rahimnya. Jadi sampai saat ini dia tidak menikah lagi, padahal aku dan Mas Gaga sudah berusaha membujuknya menikah, tapi selalu menolak sampai detik ini.