DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PAKET,


__ADS_3

Kalau di bilang hatiku tidak cemburu, salah!


Hatiku cukup kacau dengan datangnya pesan tak jelas seperti ini. Apalagi dari seorang wanita, yang suamiku kenal sebelum mengenalku.


"Non... Permisi.."


Bibi mengetuk pintu kamar saat aku selesai berganti pakaian.


"Masuklah, Bi."


"Maaf, Non. Ini ada paket atas nama Tuan Gaga." Bibi menyerahkan paket berwarna biru dengan setangkai mawar di atasnya.


"Dari siapa, Bi?." Aku mencari nama pengirimnya.


"Gak tau, Non. Sudah tergeletak di depan pintu, tadi." Ucap Bibi.


"Oh, iya. makasih ya, Bi." Aku meletakkan kotak itu di meja.


Aku menatap kotak itu penasaran.


'Dari siapa, ya?. Apa isinya..'


"Aku buka atau jangan, ya. Kenapa untuk Mas Gaga ada bunganya, segala." Gerutuku. "Wangi, lagi."


"Tanya Mas Gaga aja deh," aku memutuskan menelpon Mas Gaga.


"Hallo, Mas."


"Iya, sayang.."


"Kamu ada kiriman paket, apa kamu beli sesuatu?." tanyaku penasaran.


"Paket!!! Paket apa, yang.."


Lah dia malah tanya balik, terus aku harus tanya siapa?


"Ya kan atas nama kamu, Mas. Coba inget dulu, barangkali kamu ada pesan sesuatu, Mas?." Aku meminta dia mengingat.


"Hmmm, Mas gak merasa pesan apapun. Coba kamu lihat dari siapa atau isi apa?" tanyanya yang berbalik penasaran.


"Gak ada pengirim dan gak ada keterangan isi apa, Mas." Aku memutar mutar kotak biru itu.


"Oh, mungkin cuma orang asing, sayang. Kamu buka saja, tapi minta dampingi orang, dan coba di luar rumah." perintahnya.


"Kamu kira bom, sayang." Kekehku.


"Bukan gitu, sayang. Mas khawatir ada teror." Ucapnya dengan cemas dan panik.


"Ya masa ada bunganya juga, mawar lagi bunganya, Mas." Kekehku.


"Ah, ma- masa ada bunganya?." Dengan gugup dan sedikit panik.


"Kenapa kamu panik?. Kan cuma bunga." Aku sedikit tidak suka dengan nada gugupnya.


"Bukan gitu sayang, Mas kaget aja masa ada kiriman paket di sertai bunga. Coba buka aja, hati hati ya. Soalnya Mas gak pesan." Suaranya sudah mulai merendah.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Setelah mengakhiri panggilan, aku membawa kotak itu ke halaman. Sesuai perintah Mas Gaga aku meminta Pak Aep menemaniku. Ya gak apa kan berjaga jaga.


"Coba saya cek, Bu." Pinta Pak Aep supirku.


Aku memberikan kotak itu.


Hatiku berdebar menantikan apa isi kotak itu.


Sreett .... Sreett...


Pak Aep membuka kotaknya dengan hati hati.


'Ya Allah jagalah keluargaku.' aku yang parnoan seketika menjadi lebih dramatis. Hanya paket sampai membuat keringat dingin.


"Ah..." suara Pak Aep sedikit kencang, membuatku mundur beberapa langkah. Jangan jangan benar kata Mas Gaga, teror!!!.


"Ya Allah, Bu. Ini album foto kayanya, sepertinya ada suratnya juga." Ucap Pak Aep mengangkat isi kotak.


Aku sedikit mendekat perlahan, "Masa, Pak?." Aku penasaran tapi takut.


"Iya, Bu. Ini hanya album foto sama sepucuk surat." Dia melambaikan surat dalam amplop berwarna merah muda dengan hiasan pita kecil di ujungnya.


"Ah, sepertinya iya ya, Pak." Aku menghampiri Pak Aep.


Pak Aep menyerahkan isi kotaknya.


"Makasih, ya Pak. Maaf ganggu istirahatnya." ucapku meninggalkan Pak Aep di halaman.


Apa ini isinya?


Ah.. penasaran sekali aku.


Huhh .... Aku menghembuskan nafas panjang.


Aku menyiapkan diri, untuk membuka kotak. Tapi niatku terhenti.


'Inikan di tujukan untuk Mas Gaga! Aku harus izin dulu untuk membaca suratnya sekalian.'


Aku segera menelpon Mas Gaga.


"Hallo, Mas."


"Iya sayang, gimana!! Apa isinya? Kamu gak apa-apa, kan?" Berderetaan pertanyaannya membuatku mesem mesem.


"Aku gak apa-apa, Mas. Gak ada isi apapun, hanya sebuah kotak dan sepucuk surat berwarna pink dengan pita kecil." Godaku.


"Ah..." Suaranya terdengar kaget.


"Kenapa, Mas? Kamu tahu siapa pengirimnya dan memang untuk, kamu?." Tudingku.


"Gak ada apa apa, sayang. Tadi Mas bicara sama asisten, Mas. Mas harus masuk ke ruang meeting sekarang. Maaf ya, sayang. Kamu baca aja dan lihat isinya." Jelasnya. "Iya, sebentar.. Saya kesana.." lanjutnya..


'Sepertinya bukan kepadaku.'


"Iya, Mas. Lanjut kerja aja dulu, ini aku buka ya.. Bye Mas.."


"Bye honey.."

__ADS_1


KRING ....


Baru saja aku meletakkan ponsel.


'Siapa, ya?'


"Dokter Syifa."


"Halo, Dok.."


"APA !!!!." aku terkejut mendengar penjelasan darinya.


"Baik, baik.. Aku kesana dan akan memberitahu keluarganya. Terimakasih, Dok."


Aku bergegas meraih tasku dan mencoba menelpon Mas Reza tapi berulang kali tak tersambung.


"Ah, kemana ini orang. Disaat penting seperti ini malah gak bisa di hubungi." umpat ku setengah berlari menuruni tangga.


"Bi... Aku pergi kerumah sakit, ya. Titip Edwina dan Edward.." teriakku.


"Iya, Non. Ada apa dengan Non Clara, Non?."


"Dokter bilang, cairan ketuban Clara rembes, Bi. Jadi kemungkinan akan di operasi segera." memakai sepatu.


"Di rumah sakit tidak ada orang yang menemani, Dokter harus meminta persetujuan dari keluarga, jadi aku harus bergegas kesana. Aku pergi dulu ya, Bi."


"Iya, Non. Hati hati, semoga selamat dan sehat semuanya. Aamiin." Bibi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aamiin." Aku bergegas keluar rumah, menuju tempat parkir.


Memanggil Pak Aep supirku untuk mengantarku segera.


Aku mengabari Mas Gaga dan Edward yang masih di kantor. Agar mereka bisa membantuku mencari informasi tentang Mas Reza yang tidak bisa di hubungi.


Aku menelpon Tante Abraham yang kebetulan sedang di Jakarta. Dia akan segera kesini, karna hanya dia satu satunya keluarga untuk Clara yang berwenang menandatangani surat pernyataan untuk tindakan Clara.


"Kemana si ni orang, istri lagi berjuang mati matian. Dia malah menghilang.."


Aku mencoba menelpon Glen, karna mereka dekat. Aku harap Glen tahu dimana Reza.


"Hello, Glen."


"Iya, Mbak. Tumben telpon.. ada apa?."


"Mbak cari Reza, kamu tahu dia dimana? Istrinya mau operasi sesar membutuhkan tanda tangannya. Tapi dari pihak rumah sakit, tidak bisa menghubunginya."


"Oh,, Reza ada di apartemennya. Kebetulan semalam kami minum di apartemennya. kemungkinan dia mabuk, Mbak. Aku akan segera kesana dan membawa Reza kerumah sakit, Mbak langsung tunggu di sana saja, ya."


"Iya, baiklah.."


Gila.. bisa bisanya lelaki itu mabuk mabukan di akhir nafas istrinya. Mana yang katanya '*C*inta Sejati'... Bukan cinta sejati, lebih tepat cinta dan mati. Harusnya banyak berdoa, dia malah clubing. Untung saja, aku tidak berjodoh lama dengannya.


Aku mengusap dadaku, merasa bersyukur dengan perceraian pertamaku. Walau harus merasakan sakitnya penghianatan, tapi aku bersyukur itu datang lebih awal. Aku gak pernah berpikir kalau hal menyakitkan ini terjadi padaku. Aku yang terbaring disana dan suamiku asik bermain di luaran.


"Huh.. amit amit.." gumam ku.


"Kenapa, Bu?." tanya pak Aep yang mendengar gumaman ku.

__ADS_1


"Ah,.. hehe gak pak. Saya hanya berpikir buruk sepintas." ucapku cengengesan.


__ADS_2