DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
HANCUR


__ADS_3

Pertemuan yang ku rindukan, ku impikan dan selalu ku bayangkan. Tenyata begitu menyakitkan. Dia datang dengan suami barunya di susul seorang putra di antara mereka. Dunia seakan belum berhenti meminta pertanggungjawaban dari dosaku.


Kenapa dia bisa secepat itu melupakanku, bukankah aku cinta pertamanya?.


Kenapa dia harus menikah dengan lelaki seperti Gaga, yang dari segi apapun aku belum bisa menyainginya.


"Bella, kenapa kamu lakukan ini. Kenapa balasan mu begitu menyakitkan. Apa rasa sakit yang aku berikan lebih dari ini, Bell. Hidupku hancur tanpamu. Sedikit harapan untuk bisa bertemu dengan mu membuat aku mampu bertahan, tapi kini... untuk hidup pun rasanya aku sudah tak ingin."


Aku meraung, menangis entah bagaimana lagi caraku meluapkan sakit ini.


Dia begitu bahagia dengan kehidupan barunya. Memiliki suami dan anak yang lucu.


Di perlakukan dengan lembut dan mesra. Aku sungguh teriris, Bell. Hatiku hancur. Teringat kenangan tentang kita, bukankah aku juga pernah melakukan hal manis itu padamu, Bell. Mencium kening, mengusap rambut, memelukmu, bahkan aku pun mencintaimu.


HIKS ... HIKS ... HIKS


BUG ...


PRAK ...


Aku melampiaskan emosiku pada apapun.

__ADS_1


Menatap gambar di dinding, foto pernikahan kami. Terlintas wajah bahagia mu tadi bersama lelaki lain.


"Kenapa wajahmu tidak secerah itu saat bersamaku, kenapa kau tunjukan bahwa kamu lebih bahagia dengannya di banding aku, Bell!!!." aku berteriak di depan fotonya.


Kenapa kau biarkan lelaki lain menyentuh tubuhmu, bukankah itu hanya untuk aku, Bell. Bukankah kamu bilang, aku adalah orang yang paling kamu cintai. Kenapa kau berdusta Bell, kenapa kamu sekarang bersamanya.


Aku melempar foto itu hingga pecah berserakan.


"KEMBALI PADAKU, BELL. KAMU MILIKKU!!!!."


Aku meremas pecahan kaca di tanganku, berharap rasa sakit akibat luka ini bisa mengalahkan rasa sakit di hatiku.


"Aku tidak ingin bertemu dengan mu.."


"Aku tidak ingin bertemu dengan mu.."


Darah bercampur air mata membasahi pipiku.


BRAK ...


"Kamu gila, Za. Lihat semua ini, apa?." makian Clara yang melihatku hancur. Glen terpaku menatapku. Aku tersenyum manis padanya.

__ADS_1


"Glen... Apakah benar tadi dia, Glen. Apa benar yang tadi itu, istriku." aku berharap Glen menyadarkan aku bahwa aku sedang bermimpi. Bella belum di miliki orang lain, dia tetap milikku.


Glen mendekatiku dan mengangguk.


Aku tertawa terbahak bahak, mentertawakan diriku yang menyedihkan ini.


"Sudahlah, Za. Kamu juga selama ini sudah menyesal. Dan kami lihat sekarang, Clara sedang hamil anakmu. Bukan kah baik ini semua terjadi." Glen menunjuk perut Clara yang buncit.


"Bukankah selama ini kalian ingin bersama, sekarang sudah tiba waktunya, Za. Lepaskan Bella. Dia sudah bahagia dan kamu juga sudah memilih Clara, bukan. Tentu pasti kamu bahagia. Bukankah ini yang menyebabkan kamu mengkhianatinya."


Entah apa maksud Glen, dia itu menasehati apa menghancurkan.


Aku mendorong tubuhnya, "Cukup Glen. Aku tau aku salah, aku yang telah melukai Bella. Aku memang tidak pantas untuknya."


"Kamu benar, gara gara Clara aku menyakiti, Bella. Gara gara Clara aku melepaskan, Bella. Gara gara wanita itu, rumah tanggaku hancur!!." teriakku.


"Apa kamu bilang, gara gara aku? Kamu yang tidak mau melepaskan aku, mana aku tau kamu sudah menikah sebelum melakukan resepsi. Dan kenapa harus menyalahkan aku, kamu sendiri yang tau betul alasan kamu mempertahankan aku. Reza, aku tidak terima kamu menyalahkan aku."


Dia pergi meninggalkan kami, kini aku tersenyum kecut menatap kepergiannya.


Mamang akulah yang menahannya, karna nafsu sesaat ku yang menghancurkan kehidupanku.

__ADS_1


Wanita itu berbisa, kalau tidak bagaimana Bella mau melepaskan ku dengan mudah. Selepas dia bertemu dengan Clara.


Aku yang bodoh memelihara ular beracun dalam hidupku, maka kini aku yang merasakan bisanya.


__ADS_2