DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KEPUASAN


__ADS_3

Aku gembira mendengar kabar Ricardo dan kekasihnya sudah resmi bertunangan dan akan segera menikah. Sisi dan Glen juga sudah menikah beberapa bulan lalu. Tahun ini penuh kebahagiaan, sampai aku takut di balik kebahagiaan yang besar ini ada sesuatu yang menunggu.


[Pesan Masuk Freddy]


"Mbak, bisakah kita bertemu? Mikola anakku ingin bertemu dengan kakaknya, Edward."


Semenjak Mikola dia bersama dengan keluarga Freddy, aku berhubungan baik dengan mereka. Menjaga silaturahmi itu penting bagiku, karna kita tidak tau kapan akan membutuhkan mereka. Begitupun sebaliknya.


[Pesan keluar Freddy]


"Silahkan datang ke rumah jam makan siang. Karna Edward sedang sekolah."


Dia mengiyakan jawabanku.


Aku segera memberitahu suamiku akan kedatangan Freddy. Freddy sudah menikah dengan wanita pilihan keluarganya demi Mikola. Dan aku bersyukur Mama sambungnya Mikola sangat baik dan terlihat tulus sekali kepada Mikola, Miranda.


Aku memberitahu kalau aku akan ke sekolah menjemput Edward pada Freddy dan istrinya. Mereka mengajakku bertemu di sana sekian menjemput Edward.


"Bi.. Saya pergi dulu ya.. Tolong siapkan makan siang yang sedikit banyak, hari ini ada Freddy dan istrinya makan di sini ya, Bi."


"Masak apa, Non?" tanya Bi Nah.


"Hmmm, yang ada aja Bi. Ayam, daging atau ikan gak apa-apa. Sayur bening jangan lupa sama telur rebus untuk Mikola." ucapku sambil memakai sendalku."


Bi Nah mengangguk.


Sesampainya di sekolah Edward, aku sudah melihat mobil Freddy dan Miranda sudah parkir di depan gerbang. Mereka sudah sampai duluan ternyata.


Aku mengetuk pintu mobilnya.


TOK .. TOK ..


Miranda membuka kaca pintunya, "Eh, Mbak Bella sudah sampai!." serunya.


Aku mengangguk.


Mereka keluar dari mobil, aku menyambutnya dengan hangat.


"Mommy..." Mikola langsung loncat dalam pelukanku.


Aku memeluk erat tubuhnya yang sudah mulai berisi. Kini dia sudah sembuh dan tubuhnya sudah mulai sehat.


Aku bersyukur dia berada dengan keluarga yang tulus padanya.


"Kalian sudah lama, nunggu?." tanyaku sambil mengusap Mikola.


"Kami baru sampai beberapa menit, Mbak." ucap Miranda.


Ada yang janggal dari gerak gerik Freddy dan Miranda. Mereka sudah ku anggap keluarga, dengan usianya yang lebih muda beberapa tahun dariku. Aku menganggap mereka adik adikku.

__ADS_1


"Kalian kenapa? Kenapa aneh gitu.." ucapku.


Mereka cengengesan saling menatap.


"Nanti kami jelaskan, Mbak." ucap Freddy padaku.


Di lihat dari wajahnya, sepertinya agak sensitif. Aku mengangguk.


KRING ...


Bell tanda kelas selesai.


Aku mengembalikan Mikola pada Miranda, karna aku harus menyambut Edward.


"Mommy..." teriaknya dari dalam kerumunan anak anak yang berlarian menuju pintu keluar. Sudah berjejeran para orang tua atau pengasuh yang menjemput sekolah.


Edward berlari ke arahku dan menerjang tubuhku. Dia menoleh ke arah belakang punggungku.


"Om.. Tante.. Mikola.. Kalian juga menjemput Kakak." Aku memberitahu Edward tentang kedatangan mereka. Dia beralih ke Freddy dan Miranda mencium tangannya bergantian.


Mikola mengangkat tangannya seolah meminta di gendong Kakaknya.


Edward menerima tangannya dan memeluk tubuh mungil Mikola dalam dekapannya.


"Ka.. kak.." celoteh Mikola yang baru belajar beberapa kosakata.


Kami terharu melihat adegan dua bocah yang menggemaskan itu.


Miranda meraih tubuh Mikola, tapi Mikola menolak.


Kami tertawa melihat mereka yang begitu lengket dengan satu sama lain. Anak sekecil itu pun tau rasanya merindu.


Aku menggeleng, "Biarlah, Miranda. Biar Mikola pulang bersama denganku. Kita bertemu di rumah, ya." ucapku.


Sepanjang jalan, mobilku rame sekali.


Dua anak ini saling bercerita yang bahkan mungkin satu sama lain tidak mengerti. Edward yang baru berusia empat menginjak lima tahun dan Mikola yang baru usia dua tahun.


Sesekali aku ikut tertawa jika ada kosakata yang lucu di telingaku.


"Ola, mam nyak. Ola n-dah be-car, kak." (Mikola, makan banyak. Mikola sudah besar, kak), celotehnya.


"Bagus dong, biar cepat besar. Nanti bisa belajar dan main sama kakak, ya." ucap Edward.


Di usia empat tahun, Edward Putra adalah anak yang cerdas. Bicaranya sudah lancar dengan berbagai kosakata, ada beberapa kosakata bahasa asing juga yang dia mengerti. Cara bicaranya serupa dengan Mas Gaga, tegas dan hangat. Dia sudah sering ikut Mas Gaga dalam setiap persidangan yang kadang rumit dan berbagai meeting dengan klien menggantikan ku. Karna selama hamil ini, kadang tubuhku tidak nyaman di ajak keluar rumah lebih lama apa lagi dalam kondisi menegangkan.


"Oh, iya Mom. Besok Daddy ada jadwal meeting dengan perusahaan Om Glen. Aku mau ikut, boleh ya." pintanya.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Boleh, tapi kalau jam pulang sekolah ya." ucapku.


"Tentu saja, Mom." jawabnya sambil menyuapi Mikola biskuit.


Sampai di rumah, Edward menuntun Mikola dengan hati hati.


"Kalian duduklah dulu, Mbak buat minum dulu ya." aku meninggalkan mereka bersama di ruang keluarga.


Edward dan Mikola ada di kamar Edward, menemani Edward ganti pakaian.


"Mau makan langsung, apa ngopi ngopi dulu ni." sapaku membawa baki minuman dan beberapa cemilan.


"Ngopi aja, Mbak. Soalnya kami tidak sudah makan siang. Mbak kalau mau makan, makan aja dulu." ucap Miranda.


Aku tertawa dan sedikit menggelengkan kepalaku, "Mbak sudah makan beberapa kali tadi."


"Ada apa dengan kalian?." tanyaku. Dari tadi aku sudah aku perhatikan, ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


"Hmm.. bagaimanaya, Mbak. Aku bingung mau ngomongnya." Miranda menggaruk kepalanya dan menatap Freddy.


"Kalian ini ya, mau ngomong aja ribet. Ngomong aja, kenapa si?." ucapku sambil menikmati teh.


"Maaf ya, Mbak sebelumnya. Silahkan baca ini." Freddy menyerahkan ponselnya.


"Apa ini?." aku mengambil ponselnya.


"Di baca aja dulu, Mbak. Kami tidak nyaman bicaranya." ucap Freddy.


DEG ...


Apa apaan ini, siapa yang mengirim ini!.


Pesan yang menyatakan identitas anakku, Edward. Siapa pengirimnya, buat apa mereka melakukan ini. Dadaku terasa sesak, mulutku kaku dan seketika air mataku mengalir.


"Mbak, Mbak gak apa-apa kan?." Miranda menggoyangkan tubuhku.


Aku menggeleng, "Siapa yang kirim ini?." tanyaku pada Freddy.


"Clara." ucapnya.


"CLARA!!!" ucapku kaget. Kenapa dia bisa tahu, apa Reza yang beritahu. Lalu kenapa dia memberitahu Clara tentang putraku. Mau apa dia dan untuk apa dia mengirim pesan ini pada Freddy. Apa tujuannya?.


Mereka mengangguk bersama, "Bukan hanya kami, Mbak. Tapi keluarga Abraham juga dapat." ucap Freddy.


"HAH!!!" terasa penuh dadaku. Membuat tubuhku gemetar. Sudah melintas segala macam pikiran burukku tantang ini dalam waktu seketika.


"Kami tadi dapat telpon dari beberapa rekan bisnis tentang ini, sepertinya pesan ini sudah di sebar luaskan bahkan sampai rekan bisnis. Kami pun tidak tau tujuan dan maksudnya. Makanya kami segera kesini." ucap Freddy.


"Kenapa, kenapa dia begitu kejam." aku gak habis pikir, di mana salahku dengan wanita itu. Sampai tega menyebarkan aib anakku.

__ADS_1


Dadaku sesak sampai menutup mataku, pandanganku kabur.


__ADS_2