DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
SARAPAN PAGI


__ADS_3

Pagi ini suasana baru, aku sarapan dengan Papa dan juga Davina.


Sarapan sederhana yang spesial bagiku.


Wajah Davina nampak lesu pagi ini, ada lingkar hitam di matanya.


Apa dia nangis semalaman ? Aku sungguh kejam.


"Pa, besok ada waktu kan ? Ada gladi resik untuk pernikahan ku." aku mengunyah makananku.


"Ya Papa akan datang, dimana ?"


"Grand Royal Hotel, jam 8 pagi."


"Baiklah, nanti Papa kesana."


"Oh iya Dav, besok kamu juga libur kan. Bisa hadir di sana kan ?" aku menatap wajah Davina.


"Aku usahakan." jawabnya enggan.


"Kamu harus hadir, Dav. Kamu itu sebagai adik dari mempelai wanita Loch." ujar Papa.


"Iya di usahakan, Pa." ucapnya.


"Aku ada kerjaan pagi ini, berangkat duluan Pa." Davina mengecup pipi Papa dan meninggalkan meja makan.


"Hati hati di jalan, sayang." ucap Papa.


Kini tinggal aku dan Papa di meja makan, tiba tiba ada rasa canggung yang muncul. Entah kenapa perasaan ini hadir saat seperti ini. Aku berusaha untuk menepisnya, tapi makin berasa karna Papa hanya diam saja menikmati makanannya.


"Pa, hari ini aku mau keluar. Nanti Mas Reza menjemput."


"Iya Bell, Papa juga mau keluar habis sarapan. Ada pekerjaan yang belum di selesaikan." Papa bangkit dari kursinya meninggalkanku makan sendiri.

__ADS_1


Mungkin baik Papa, aku atau Davina kami belum bisa menerima kenyataan ini dengan tulus. Ya aku harus lebih berusaha untuk menghangatkan suasana. Wajar sekali keadaan ini, karna 27 tahun aku tidak mengenal mereka begitupun mereka.


Aku pamit saat Mas Reza menjemput, pamit kepada Mbok Susi tentunya kerena Papa dan Davina sudah berangkat.


Aku ikut mencicipi beberapa makanan, yang menurutku sama aja.


Aku membiarkan Mas Reza memutuskan karna aku tak mengerti selera kalangan atas.


"Mas, sepertinya Davina kecewa kepadaku." ucapku di dalam mobil.


"Kecewa kenapa, sayang." Mas Reza mengemudikan mobilnya.


Aku menceritakan tentang percakapan semalam.


"Begitu, Mas.."


Mas Reza tertawa.


"Ya jelas lah, sayang. Kamu kalau godain orang tuh lihat situasi. Kalau kaya gini ya dia pasti down banget."


"Lantas sekarang bagaimana, Mas ?" tanyaku bingung.


"Sekarang ya girmana, kamu ajak aja Davina fitting gaun. Lagian dia juga belum cobakan gaun yang kamu pilih."


Aku mengangguk angguk kepalaku.


"Iya mas, benar."


Segera aku mengirim pesan memin'ta Davina' Davina menemui ku di depan butik tempatku memesan gaun pengantin.


"Aku turun di butik ya, Mas." aku menoleh kearah Mas Reza. Mas Reza mengangguk.


"Ya sudah, nanti langsung pulang ya. Mas mau ke kantor sebentar."

__ADS_1


"Iya, Mas."


Aku turun di butik menunggu Davina.


Tak berapa lama Davina datang.


"Ada apa, Mbak." duduk di hadapanku.


"Mbak udah pesen gaun, tapi Mbak gak tau size kamu. Mbak pikir mau kasih surprise tapi takutnya gak cukup dengan ukuran mu."


Matanya terbelalak berbinar.


Tapi seketika redup.


"Gak usah repot, Mbak. Aku gak perlu gaun, di rumah masih banyak gaun baruku." ucapnya mengalihkan pandangannya.


"Mbak sudah lama pesan kok, tapi gak tau size kamu. Mbak juga sekalian ambil jas buat Papa."


Aku masuk kedalam butik.


Di dalam sudah ada Mbak Linda yang menungguku.


"Mbak Bella,, " lambai nya.


Aku mendekati Mbak Linda.


"Ini gaun pendamping pengantin yang Mbak minta, bukannya akan di bawa nanti pas malam gladi resik Mbak ?" tanyanya.


"Iya, tapi aku pikir biar orangnya coba. Kalau ada yang kurang bisa di perbaiki."


Mbak Linda mengangguk paham.


Aku mengerahkan gaunnya kepada Davina.

__ADS_1


"Coba kamu pakai, kalau ada yang kurang pas bilang ya." aku menyodorkan gaunnya.


Wajahnya berbinar tersirat kebahagiaan di wajahnya. Mungkin begini rasa sebagai seorang adik yang kakaknya akan menikah.


__ADS_2