DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
MENSION


__ADS_3

"Edward, bagaimana Om harus jawab pertanyaan Daddy mu nanti." Aku harus berpikir berkali kali agar Mas Gaga tidak mengirimkan kembali. Aku ingin mendampingi Edward. Tapi aku takut karna melanggar perintah yang di berikan Mas Gaga. Karna permohonan Edward sulit sekali aku tolak, dia bagaikan salju yang begitu lembut dan dingin. Aku tidak bisa menatap matanya jika aku menolak.


"Om tenang saja, aku akan urus Daddy. Om hanya perlu diam mengangguk, ya. Aku yakin sebentar lagi Daddy pulang dan mungkin Daddy sudah menelpon Mommy juga." ucapnya santai menikmati jus mangga kesukaannya.


Begitu tenang iblis kecil ini membuat diriku kesulitan. Tapi lihat dia, bersantai menikmati jusnya.


"Edward, bisakah jangan terlalu santai begitu. Kamu tidak tau berapa kali Daddy dan Mommy mu menelpon, Om. Bahkan aku takut untuk menerimanya." aku meletakkan ponselku yang terus berdering. Dari Mbak Bella, Mas Gaga bahkan Mamaku. Habislah aku, salahkan diriku yang menyayanginya terlalu berlebih.


Aku menghela nafas dan memejamkan mataku. Menenangkan diriku untuk bersiap di hantam pertanyaan dari Mas Gaga. Di saat mataku terpejam dengan sedikit ketenangan.


"Daddy..." suara Edward mengagetkan jantungku. Mataku fokus melihat sepasang anak dan ayah berpelukan. Mereka berpelukan, sedangkan aku harus bersiap perang. Getar getir hatiku menunggu hantaman dari Mas Gaga.


"Bagaimana kabarmu, sayang." Mas Gaga mengendong Edward. Dengan manja Edward bergelayut di pelukan Daddy-nya.


Lihatlah, si iblis kecil ini. Tadi ucapannya begitu luar biasa di depan wartawan, sekarang dia berlagak layaknya anak balita.


"Baik, Daddy. Lihatlah.." dia memperlihatkan tubuhnya kepada Daddy-nya.


Daddy-nya mengangguk.


"Kenapa kamu kesini?."


Wah keluar sudah pertanyaan yang tak ingin ku jawab ini.


"Daddy duduklah, Daddy harus banyak istirahat. Daddy tahu, Mommy sangat mengkhawatirkan Daddy. Aku putra Daddy, benar?" ucap Edward.


Mas Gaga duduk di sisi Edward dan di hadapanku.


"Tentu saja, sayang." ucapnya sambil mengelus kepala Edward.


"Kalau begitu, Daddy percaya padaku, benar?" Edward bertanya kembali. Si iblis kecil ini apa maksudnya. Membuat pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.


Mas Gaga melirikku dengan tajam, aku menunduk diam.


"Pasti, sayang." dia menatap penuh hangat dan lembut, kemana tatapan tajam barusan. Anak dan ayah memang tidak ada bedanya.

__ADS_1


"Aku akan membantu Daddy menangani masalah di sini, Daddy harus menyerahkan satu masalah padaku. Daddy pilih, aku mengantikan Daddy di perusahaan atau menanggani masalah di persidangan?."


Aku melongo menatap wajah Edward yang begitu tenang bernegosiasi dengan Mas Gaga. Yang benar saja, dia masih bisa bernegosiasi dengan tenang di hadapan Daddy-nya.


"Apa keuntungan Daddy harus menyerahkan pekerjaan Daddy padamu?."


Aku tersedak air liurku sendiri. "Keuntungan?" apa maksud dari pertanyaan Mas Gaga.


"Aku ingin mengambil alih satu pekerjaan Daddy, sebagai gantinya aku akan belajar bahasa Arab yang Daddy minta. Bagaimana setuju?" Edward menyodorkan tangannya.


Mas Gaga menggeleng, "Ini tidak menguntungkan untuk Daddy, sayang."


Aku benar benar tidak mengerti jalan pikir mereka. Aku telah berpikir terlalu biasa rupanya tentang mereka. Aku malah berharap pikiranku benar. Mereka bertengkar seperti pasangan Daddy dan anak pada umumnya. Anak membangkang dan orang tua menghukum. Tapi lihatlah.. aku sendiri entah berada di mana sebenernya.


"Baiklah, baiklah.. Aku akan bermain dengan kawan seusiaku." Edward nampak pasrah.


Tapi ada senyum puas yang terlukis di wajah Mas Gaga. Apa negosiasi mereka berhasil.


"Bagus kalau begitu, tapi itu berlaku jika kamu bisa dengan tuntas menangani pekerjaanmu." ucap Mas Gaga.


Hanya itu!!! Bermain dengan anak seusianya? Apa selama ini Edward tidak pernah bermain dengan anak seusianya?


Aku menggaruk kepalaku, Edward mengedipkan matanya padaku. Aku menatapnya penuh tanya. Dia menyimbolkan tangannya dengan lambang "Ok".


"Oh iya, Ricardo. Bagaimana aku harus berurusan denganmu?."


Matilah aku, kini giliran ku.


Aku menatap Edward dengan penuh harap. Edward tersenyum membuat aku jengkel.


"Daddy, Jangan menyalahkan Om Ricard. Bukankah Daddy sudah tau tujuanku. Om Ricard hanya sarana untuk membantuku sampai kesini. Jangan perhitungan dengannya. Sekarang Daddy istirahat, aku dan pak Lie akan bekerja." Edward mendorong Mas Gaga masuk ke kamarnya.


"Istirahatlah, Daddy. Aku tinggal ya." Edward mencium kening Mas Gaga layaknya seorang ayah meminta anaknya tidur siang. Aku ingin tertawa tapi nyaliku ciut. Melihat Mas Gaga dengan patuh naik ketempat tidur, siapa yang tidak ingin tertawa. Untung aku sempat mengabadikan momen langka ini.


Aku mengirim ke Mbak Bella video yang ku rekam dengan sedikit tulisan.

__ADS_1


"Mbak, anak lelaki dewasa telah tidur siang. Tenanglah disana, anak lelaki kecilmu sudah menanganinya dengan baik." pesanku pada Mbak Bella.


Aku membuntuti Edward dengan Pak Li asisten Mas Gaga keruang kerja.


Kami berdiskusi tentang masalah defisit di perusahaan.


"Menurut saya, masalah ini akan berlanjut jika maaf.. Masalah yang beredar di media belum terselesaikan." ucap Pak Li.


Ada benarnya, aku setuju dengan ucapannya. Aku melirik Edward yang sedang fokus dengan wajah serius dia sangat mirip dengan Mas Gaga.


"Baiklah, beritahu aku cara mengakhiri secepatnya masalah media, Pak." setelah lama Edward diam membuat hatiku was was. Bagaimana tidak bocah ini masih kecil walau sudah setenang ini.


"Persidangan harus segera di selesaikan. " ucap Pak Li.


Aku tahu maksud Pak Li. Sidang di tunda karna kondisi Mbak Bella yang sedang hamil muda dan kondisinya kurang baik waktu itu.


"Baiklah aku akan persiapkan yang di perlukan. Tolong atur segera persidangan." pinta Edward.


"Tapi Ward, apa Daddy mu akan setuju?." tanyaku.


"Tenanglah, Om. Kali ini aku yang akan mengambil keputusan. Biarkan Daddy istirahat." ucapnya.


"Tapi, Mommy mu?" tanyaku lagi.


"Aku tahu kondisinya, Om. Tapi aku tahu hatinya sudah lelah dengan masalah ini. Jika bisa cepat selesai apakah Mommy akan menghindar?." ucapan nya benar.


Aku tidak bisa melawan foto kopi dari Mas Gaga ini. Aku hanya bisa pasrah mengangguk.


"Om, tolong jaga Daddy selama aku dan Pak Li menyiapkan sidang. Biarkan Daddy istirahat dan aku harap dia tidak tau sidang berlangsung." pintanya.


"Maksudmu, Mas Gaga jangan tahu? Bagaimana caraku." aku frustasi di beri tugas besar ini.


"Apapun, lakukanlah Om. Aku percaya padamu. Aku serahkan Daddy padamu, ya." dia menepuk bahuku dan meninggalkan aku yang masih terpaku.


Edward!!!! Iblis kecil ini.. Argh.. Aku mengacak rambutku. Dia bisa tenang menangani Mas Gaga. Tapi aku ???

__ADS_1


__ADS_2