DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KERIBUTAN


__ADS_3

Sedari pagi ponselku berdering terus, bahkan bukan hanya ponselku. Ponsel Edward pun ikut ramai. Sebagian besar wartawan, sisanya beberapa kenalan.


Ponsel Edward ku pinta sementara, sempat berdebat dengan Edward. Tapi akhirnya dia mengalah. Aku tak ingin merusak mentalnya dengan pertanyaan yang tidak nyaman di hati. Apa lagi ada beberapa karyawan yang berlebihan.


Berita berita di media publik sudah berulang ulang. Mencari kami seolah seorang buronan. Wajah Reza yang membuatku semakin geram berseliweran di media, dengan wajah seolah tersakiti dan di khianati. Setiap wawancaranya pasti meneteskan air mata, entah dari mana itu air mata keluar.


Rasanya aku ingin kesana langsung menyiram air di wajahnya itu.


"Aku hanya menginginkan anakku, darah daging ku, apa aku salah!! Selama ini mereka menyembunyikannya dariku, mereka membawa anakku pergi tanpa sepengetahuan ku, aku hanya ingin melindunginya."


"Menyembunyikan katanya? Bahkan dia tidak tau akan kehadiran anaknya yang dia bilang darah daging itu. Dia sibuk dengan kekasihnya, bahkan sudah berniat berpisah denganku." gerutu ku.


"Mbak, biarkan saja dia terus menggonggong. Toh bukan dia saja yang bisa beralasan, kita punya bukti nyata saat itu kan." ucap Melinda.


"Iya, Mel. Aku gak habis pikir, kok mereka gak malu ya. Ya kalau memang dia sudah putus urat malu dan mukanya sudah setebal tembok. Tapi seharunya dia menjaga perasaan dan mental dari "darah daging" yang katanya ingin dia lindungi." umpat ku.


"Begitulah, Mbak. Orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Perusahaan yang dia rintis hancur, yang di pusat di ambil alih orangtuanya. Anak yang di anggap buah cintanya ternyata milik orang. Dan wanita yang dia cintai beberapa kali mengkhianati. Dan anehnya lagi, dia kembali lagi bersama wanita itu. CK Ck.. " geleng Miranda.


"Sepertinya, aku harus menghadapi mereka secepatnya. Kalau di biarkan dia akan terus merusak pemandangan di setiap saluran media." aku mengganti saluran di televisi dan setiap berita tentang "Seorang ayah yang merindukan anaknya." Padahal dia bisa langsung datang, tidak perlu memakai drama." ucapku.


"Ya itulah, mereka." cetus Miranda.


Kami menikmati berita sensasional yang mereka ciptakan jauh di sana. Mas Gaga bilang, biarkan mereka berdua sampai selesai. Pada saatnya mereka akan malu berkali kali lipat.


Tiba tiba pemandangan yang membuat mataku seakan meloncat keluar.


"Edward!!!" Apa benar itu Edward?


Aku menatap Miranda yang juga fokus menatap layar.


"Apa benar itu, Miranda?" tanyaku.


Dia mengangguk.


"Tunggu, Mbak! Itu benar Edward?" dia balik bertanya.


"Ah tidak mungkin, Edward tadi pergi tidur ke kamarnya." ocehannya sendiri seakan memastikan hatinya. Sama halnya denganku. Aku langsung lari ke kamar Edward, dan benar saja. Hanya bantal guling yang di tutup selimut di dalam kamar. Ada nota kecil di mejanya.

__ADS_1


"Mom, maafkan Edward. Edward tidak mau masalah ini terus berlanjut. Edward tidak ingin Mommy dan Daddy kesulitan karna ini. Mommy lihat, Daddy begitu pucat. Daddy terlalu lelah Mommy. Edward harus kembali membantu Daddy. Mommy tinggallah disini sampai kami jemput ya, Mom. Love you"


Aku lemas terkulai di tempat tidur, rasa haru, bangga sekaligus takut menyelimuti hatiku.


"Mbak, Edward Mbak... kesini cepat!!!" teriakan Miranda membuatku bangkit seketika.


Aku menatap layar televisi, Edward putraku di berdiri di tengah kerumunan wartawan.


"Aku Edward Putra Gaga, perkenalkan sekali lagi dan harap kalian tulis dan dengarkan. Aku Edward Putra Gaga. Aku meminta kepada siapapun yang menebar hal yang tidak penting mengenai kehidupanku, agar segera berhenti jika tidak kita akan lanjut di ranah hukum. Aku ingatkan sekali lagi, siapapun dari kalian yang membuat berita tidak penting lagi tentangku, maka aku tidak segan menunggunya di pengadilan."


"Edward Putra Gaga, apakah kamu tahu siapa orang tua kandungmu? Nak, kamu masih terlalu kecil." ucap seorang wartawan wanita.


"Maaf ibu, apakah orang tua kandung penting? Jika dia lalai menjalankan kewajibannya, bagiku tidak penting dia siapa. Aku adalah Edward putra dari Nyonya. Bella Saphira dan Tuan. Aldiraga Munawar. Ingat beliau orang tuaku dan hanya beliau!." Edward meninggalkan kerumunan dengan tatapan mata dari para wartawan.


Hatiku haru sehingga air mata keluar dengan sendirinya. Betapa tidak, anak sekecil itu sudah dewasa dengan cepat. Dia begitu menyayangi kami, bahkan dengan tenang menatap semua orang yang menatapnya. Aku sendiri belum mampu melakukan itu.


"Mas.. anak kita tubuh dewasa terlalu cepat." lirihku.


"Mbak," Miranda memelukku.


"Edward, tunggu.. Kamu tahu, ikatan darah lebih kental dari air." ucapan wartawan lelaki itu membuat hatiku pilu. Kenapa mereka tidak bisa melepaskan anakku yang masih balita itu.


Oh Tuhan, terimakasih Engkau telah memberiku dua lelaki yang begitu tulus dan kuat untuk melindungi ku.


"Dengarlah, Mbak. Edward kita sudah besar, dia pandai dan cerdas. Dia bukan anak kecil yang bisa kita sembunyikan, Mbak." ungkap Miranda dengan tatapan penuh bangga. Aku mengangguk dan tersenyum. Benar, aku pun harus bangga padanya. Aku tidak akan menyembunyikan dirinya lagi.


Tunggu, Edward baru berusia lima tahun bahkan belum genap enam tahun. Dengan bantuan apa dia bisa naik pesawat dan sampai di Jakarta dengan cepat?


"Miranda, apa kamu membantu Edward?" aku menatap tajam Miranda.


Miranda mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya menyatu.


"Maksud Mbak?" tanyanya.


"Bagaimana Edward bisa sampai Jakarta? Sedangkan dia belum di izinkan naik pesawat sendiri, kita di Timur Leste." ucapku penasaran.


Miranda tertawa.

__ADS_1


Membuat aku tambah penasaran dan geram.


"Apa maksudmu tertawa?." tukas ku.


"Mbak tidak memperhatikan di belakang Edward dari tadi ada siapa?" tanyanya padaku. Aku menggeleng, sedari tadi aku hanya mendengarkan jawaban dan fokus pada Edward.


Bahkan telpon dari Mas Gaga beberapa kali tidak ku jawab.


"Siapa?" tanyaku tak sabar.


Miranda menghela nafas, "Ricardo, Om tersayangnya." ucap Miranda dengan senyum tenang.


"Ricardo!!!"


Dia mengangguk anggukan kepalanya.


Ponselku berdering, ku lirik layarnya.


Suamiku ❤️


Aku harus menjawab telponnya.


"Halo, Mas." ucapku.


Mas Gaga bertanya kenapa Edward bisa pergi dan sampai ada disini. Mas Gaga sedang rapat dengan dewan direksi, karna masalah ini menyebabkan goncangan dalam perusahaan. Banyak orang yang sengaja mengambil kesempatan untuk bermain kotor.


"Aku sendiri baru menyadarinya, Mas. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai sana. Dan ternyata di belakangnya ada Ricardo. Bahkan kepadaku dia tidak berkata apa apa dan mengelabui kami di rumah dengan alasan tidur siang. Ternyata mereka berdua bersekongkol, Mas." ucapku sambil tersenyum.


"Mas tenang saja, anak kita sudah besar. Lihatlah sekarang dia begitu bertanggung jawab tentang hidupnya. Mungkin saat ini mereka sudah ada di Mension, Mas. Nanti kalau sudah bertemu mereka, tolong telpon aku, ya." ucapku.


Aku mendengar Mas Gaga menghela nafas panjang.


"Baiklah, sayang. Salahkan diriku yang mendidiknya terlalu dini. Sehingga sulit sekali melihatnya manja seperti anak balita pada umumnya."


Aku terkekeh mendengar ucapan suamiku, seakan dia menyesal telah mendidik keras Edward terlalu dini.


"Sudahlah, Mas. Mas istirahat ya. Edward seperti itu karna melihatmu yang kelelahan bahkan wajahmu sampai pucat di layar televisi." suaraku sedikit melemah mengingat pesan singkat dari Edward di kamarnya.

__ADS_1


"Baiklah, sayang. Aku akan kembali ke Mension dan melihat bocah kecil itu akan beralasan apa nanti. Kamu tenang di sana, persiapkan hati dan mental mu untuk persidangan dua pekan lagi ya."


Kami memutuskan panggilan. Aku menunduk diam, ketika mendengar suara Mas Gaga yang sedikit lemas dan agak serak. Betapa lelahnya dia mengurus dua perusahaan sekaligus dengan masalah persidangan kali ini yang menyangkut diriku dan putranya. Sudah berapa hari dia mungkin tidak tidur di kasur.


__ADS_2