
Pagi ini kepalaku berat, ada rasa pahit di mulutku.
Aku bangun di saat Mas Reza sudah keluar kamar.
Perutku tak nyaman.. Mual.. Ada apa ini..
Aku berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening.
"Ugh.." keluhku.
"Sayang.." teriak Mas Reza.
Aku ingin menjawab tapi rasanya mual masih menggelora di perutku.
"Sayang kamu di kamar mandi ?" mengetuk pintu.
"hmmm.." jawabku.
"Kamu kenapa, sayang ?" membuka pintu dan meraih pinggangku.
Aku bertumpu pada wastafel.
Mas Reza mengusap punggung dan mengelap butiran keringat di dahi ku.
"Kamu kenapa sayang. Kita periksa ke dokter, sekarang." mencium pipiku dari samping.
"Gak apa, Mas. Mungkin karna semalam kecapekan dan sempet telat makan."
"Ya sudah, kita sarapan sekarang ya." memapah tubuhku.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu, Mas." aku menahan diriku.
"Baiklah, hati hatinya.." Mas Reza melepaskan tangannya dan meninggalkanku di kamar mandi.
***
Aroma masakan bibi di dapur luar biasa menggugah selera.
Aku turun perlahan melawati tangga lantai 2 Mension Abraham.
Ya setelah semalam kami tinggal di hotel, siang ini kami sudah kumpul dirumah.
Di meja makan sudah ada Mama dan Papa Abraham, Papa Surya, Glen, Mas Reza, Davina dan ada Sisi juga disana.
Aku duduk di sisi Mas Reza.
Melihat menu makanan yang terhidang air liurku serasa menetes.
Aku menenggak air mineral di sisiku. Rasanya tak sanggup aku menghabiskan makan siang ku.
"Kenapa, sayang. Bukankah ini makanan kesukaanmu?" Mas Reza melihatku tak berselera makan.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, "Gak apa, Mas. Sudah kenyang." aku berbohong.
"Baiklah.." dia meneruskan kembali makannya.
Sisi menatapku dari kursi di hadapanku.
Dia mengangkat dagunya seakan bertanya, kenapa?
__ADS_1
Aku tersenyum dan menggeleng.
Sepertinya hari ini aku harus periksa, apa mungkin hanya masuk angin saja. Tapi kalau di pikir pikir bulan ini aku belum datang haid. Ah mungkin hanya kecapekan aja. kilahku dalam pikiranku sendiri.
Selesai makan siang, para lelaki berbincang-bincang tentang pekerjaan masing-masing. Ya hari ini mereka cuti sehari.
Mama Syarina tidur di kamarnya, lelah katanya.
Sedangkan aku, Davina dan Sisi berbincang di kamar.
Aku mencoba bertanya tentang kejadian kemarin saat pesta kepada Sisi.
Tapi Sisi selalu berkilah.
"Memang kenapa, Mbak. Kok penasaran banget dari kemarin." tanya Davina. "kan Mas reza bilang karna macet makanya, telat." sambungnya.
Iya aku tau itulah alasannya. Tapi melihat reaksi Sisi yang berbeda aku tau ada yang, ganjil.
Aku menatap Sisi penuh tanya dan harap, agar dia mau menceritakan yang sebenarnya. Karna hatiku selalu risau setelah kejadian itu.
Aku mengangguk untuk menjawab pernyataan dari Davina. Aku meminta Davina mengambilkan buah dan minuman segar di dapur. Selepas Davina pergi, aku segera menggenggam tangan Sisi dan menatapnya.
"Tolong jujurlah, Si. Apa yang kamu sembunyikan aku tau itu bukan karna, macet" pintaku memohon dengan mata sendu.
"Nanti aku ceritakan, Bell. Untuk saat ini belum saatnya, masih ada yang harus di perjelas dulu." ucapannya membuktikan memang benar ada yang tidak benar dari kekacauan kemarin.
Aku mengangguk.
"Baiklah.. aku percaya padamu, Si." aku berharap ini bukan pertanda buruk. Tapi jika bukan kenapa hariku, risau.
__ADS_1
"Kamu tenanglah, Bell. Aku akan ceritakan semuanya tanpa kurang sedikitpun jika aku sudah menemukan kejelasan yang akurat, percayalah." dia menepuk tanganku di atas tangannya. Aku mengiyakan ucapannya. Tapi aku akan tetap cari penyebabnya. Bertanya pada Mas Reza itu tidak mungkin, tapi aku akan bertanya kepada seseorang yang pasti mau memberitahu.