DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KARDIOMIOPATI


__ADS_3

Hancur lebur hati ku saat mendengar putra ku yang masih kecil, bahkan berlari pun belum mampu harus mengalami ini.


"KARDIOMIOPATI" kata kata Dokter Spesialis Anak ( Sp.A) yang menangani anakku.


Aku berharap jika yang terbaring itu adalah aku, bukan dia.


"KARDIOMIOPATI adalah penyakit jantung bawaan selama kehamilan. Apa penyebabnya? Banyak.. bahkan belum ada penelitian yang spesifik untuk penyebabnya.


Kardiomiopati dilatasi di sebabkan Infeksi virus adalah penyebab umum. Infeksi ini dapat mengiritasi otot jantung (suatu kondisi yang disebut miokarditis) dan melemahkan nya. Untuk mencoba memenuhi kebutuhan tubuh akan darah dan oksigen, jantung bekerja lebih keras dan menjadi lebih besar.


Bentuk lain dari kardiomiopati dilatasi adalah genetik, yang berarti dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anak dalam gen mereka dan diwariskan dalam keluarga. Terkadang, tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi. Dokter menyebutnya sebagai kardiomiopati dilatasi "*Idiopati*k”. Apakah di keluarga ada yang mempunyai riwayat penyakit jantung?."


Aku berpikir keras saat pertanyaan di akhir ucapan Dokter tadi. Apakah di keluargaku ada yang memiliki penyakit jantung? Karna selama ini kami melakukan tes kesehatan setiap tiga bulan sekali. Lantas siapa? Apa keluarga Clara?


Untuk sekarang aku tidak memikirkan penyebabnya. Aku lebih fokus pada penyembuhannya.


"Sementara ini, Ananda Mikola kami berikan terapi obat terlebih dahulu. Sebelum kami mengetahui lebih lanjut tentang keadaan jantungnya. Apakah nanti perlu bantuan alat atau tidak. Semoga Tuan dan Nyonya Lincoln bisa bersabar dan terus mendampingi putranya." Dokter menjelaskan apa yang akan di lakukan selanjutnya.


Aku mengangguk lemah. Anak sekecil itu harus menelan obat obatan yang rasanya pahit dan bahkan bukan satu atau dua butir yang harus di konsumsinya.


Aku membaringkan tubuhku, terasa tajam kulit sofa di punggungku. Aku kehilangan Bella beberapa bulan lalu, terobati dengan hadirnya buah hatiku. Apa kini Tuhan mau mengambilnya lagi dari dekapanku? Apa aku sebegitu buruk di masa lalu hingga Tuhan tidak membiarkanku menyayangi seseorang dengan tulus!.


***


Menyusahkan sekali, hamil melahirkan dan sekarang harus penyakitan.


Saat pengambilan darah, aku takut sekali jika ketahuan kalau Mikola bukan anaknya Reza. Apa jadinya jika dia tahu, putra yang membuatkan hancur bukan darah dagingnya.


Tapi aku terlalu berpikir lebih, toh cuma cek kesehatan menyeluruh bukan untuk tes DNA (deoxyribonucleic acid ).

__ADS_1


Sepanjang malam ini hatiku di selimuti rasa khawatir. Khawatir akan ketahuan dan juga dengan pertanyaan Dokter tentang penyakit keturunan. Keluargaku tidak ada yang punya penyakit jantung, penyakit yang selalu ke sebut itupun hanya alasan saja.


Mungkin "Ayah" dari si anak itu lah yang punya. Tapi aku tidak tahu siapa.


Aku mengangguk keningku yang tidak gatal.


"Clara, istirahatlah. Biar Mikola Mama yang jaga." pinta Mama Syarina.


Aku menggelengkan kepalaku dengan sedikit lesu. Aku harus berakting sangat terpuruk saat ini.


"Aku mau jaga Mikola, Ma. Aku mau dia sembuh, Ma." ratap ku.


"Iya, Clara. Mikola pasti sembuh. Kamu istirahat sana, biar gantian ya. Nanti di saat Mikola sadar, dia akan cari Mamanya dan kamu harus ada di sisinya. Sana tidur." perintahnya.


Aku mengangguk pelan, "Baiklah, Ma. Segera bangunkan aku jika Mikola sadar." aku menggenggam tangannya. Mama mengangguk.


Ah.. akhirnya bisa istirahat. Pegal dari tadi harus duduk bungkuk mendekap Mikola.


Aku teringat masa kecilku, saat ibuku sakit kami harus menginap di rumah sakit. Tidur di kolong tempat tidur ibuku, satu ruangan bersama. Berisik dengan suara tangisan, tawa dan ocehan tak penting. Kamar mandi sempit bahkan tv pun hanya satu di ujung ruangan dan harus berebut menontonnya.


Coba lihat sekarang..


Aku terlelap dengan tenang.


"Aku tidak pernah berpikir jika Reza terus mengalami kemalangan ini, Pa. Istrinya pergi dan sekarang anaknya harus terbaring di sini." Isak tangis ku di sisi Mikola.


"Istrinya bukan pergi, Ma. Jangan pernah bicara seperti itu. Papa sudah bilang kan, Bella berhak bahagia. Kesalahan ada di anak kita yang telah dengan sengaja menyakiti hati Bella sehingga dia pergi. Dan mengenai Mikola... sudahlah, Ma. Istirahat saja dulu, biar Papa di sini ya. Mama bersandar lah di sana." Papa menunjuk sofa bed di dekap Reza terlelap.


"Mama tidak tega melihat bayi sekecil ini harus hidup dengan obat dan alat, Pa." aku menggenggam tangan kecilnya yang dingin.

__ADS_1


"Setiap mahluk yang hidup mempunyai jalannya sendiri, Mama harus ingat, itu. Mungkin sudah jalannya Mikola menguji kesabaran kita semua di sini. Menjadi pengerat kasih sayang antara kedua orang tuanya. Semua pasti ada hikmahnya." ucap Papa.


Aku mendongakkan kepalaku ke hadapannya. Siapa orang di sisiku, yang seketika berubah menjadi lelaki yang tegar dan tenang ini. Sebelumnya, dia sangat ribut saat mendengar kabar cucunya sakit. Lihatlah bahkan dia hanya pakai pakaian tidur kerumah sakit.


"Pa, apa ini dari hati Papa?" tanyaku penasaran.


Dia tersenyum malu.


"Kenapa? Mama gak percaya ya." dia mencolek pipiku.


Aku mengangguk mantap. Mana mungkin percaya, lihat penampilannya saja sudah jelas. Dia orang yang perfeksionis terhadap penampilan, sampai sampai hanya memakai baju tidur. Bukankah itu sudah pertanda seberapa dia khawatir saat ini.


"Tadi ada pencerahan, Ma. Dari... " dia melirik ke arah Reza dan Clara yang tertidur pulas.


"Dari Gaga dan Bella." sambungnya.


Ah benar, ketenangan serta rasa ikhlas yang kuat hanya di miliki mereka berdua di sini. Bella yang selalu tenang dalam segala hal dan Gaga yang selalu memasrahkan segalanya kepada Tuhan. Sifat kami jauh dari itu, mana mungkin suamiku langsung berubah seketika dalam waktu kurang dari satu hari.


Aku tersenyum dan menggeleng sedikit.


"Pantas saja, suamiku menjadi begitu tenang dan ikhlas." aku menyandarkan kepalaku di dadanya.


"Iya, sayang. Mereka memberiku kekuatan dari hatiku terdalam. Berapa beruntungnya memiliki anak menantu seperti mereka. Yang tidak pernah mengingat masa lalu dan bahkan dari awal Mikola lahir, Bella lah yang selalu hadir menemani Clara, Ma." aku mengangkat kepalaku menatapnya tidak percaya.


Suamiku mengangguk, "Benar, Ma. Glen yang cerita dan di susul cerita seorang Dokter yang bekerja di sini, yang kebetulan kawan lama Bella."


Aku menyandarkan kembali kepalaku. Aku sedikit malu dengan kenyataan ini. Aku pernah menolak Bella memelukku saat aku tiba di Indonesia. Saat itu aku syok mengetahui dia telah menikah dan bahkan memiliki anak. Sedangkan anakku, terpuruk hingga satu anak perusahaannya harus defisit.


Tapi setelah mengetahui kebenaran ini, hatiku pedih dan malu. Aku yang sudah setua ini malah banyak menyimpan dendam. Sedangkan dia yang masih jauh di bawahku, terus mengajarkan kami arti kehidupan.

__ADS_1


Mereka tetap menghormati ku sebagai Mamanya walau telah aku lukai berulang kali. Bahkan dia merawat wanita yang menghancurkan rumah tangga dan merebut suaminya. Hatimu terbuat dari apa, Bella?.


__ADS_2