
Untuk para reader.. Mohon maaf lahir batin.
Semoga semua kekurangan dalam tulisan saya ini bisa di maklumi, semoga selalu mensupport dan tak bosan dengan mengomentari setiap bab nya.
Doakan saya dan keluarga berlebih rezeki, supaya bisa pulang kampung ke Aceh menengok ibu ayah yang sudah sepuh 😥
Saya doakan juga untuk para reader, yang mudik atau yang lebaran di tempat tinggalnya. Agar selalu sehat dan di lancarkan rezeki.
Lebaran tahun ini penuh dengan teka teki, kejutan kejutan tak terduga.
Mohon maaf saya jadi curhat.
Next to Novel..
Di Bab selanjutnya akan ada kejutan kejutan baru dari Bella dan Papa Surya.
Bella yang bertekad ingin mengetahui semuanya, kembali ke panti tempat ia di titipkan Mamanya. Dia tahu bahwa pemilik panti adalah sahabat mamanya. Dan beliau yang merawat dia selama ini.
"Assalamualaikum.."
"Wah nak Bella datang, silahkan masuk nak. Wa'alaikum salam."
Di peluk tubuh wanita separuh baya di hadapannya.
"Ibu apa kabar ? Bella kangen ibu." Bella menangis di pelukan ibu. Ibu Lastri.
__ADS_1
"Ibu baik sayang, yuk masuk. Kamu sendiri ?" Ibu menoleh kebelakang Bella mencari siapa tahu Bella bersama orang lain.
Bella mengangguk melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang di sebut kantor untuk ibu. Berbeda dengan kantor pada umumnya, kantor ibu penuh dengan foto-foto anak kecil pengisi panti.
"Aku sendiri Bu, suamiku gak bisa hadir."
Ya semalam Bella sudah izin kepada Reza untuk pergi ke panti tempatnya di besarkan. Reza mengizinkan. Tapi dengan berat hati Reza tak bisa menemani, karna harus keluar kota mengurus pekerjaan kantor.
Ibu mengangguk angguk.
"oh iya iya gak apa apa nak."
Ibu memanggil mbok Susi, meminta di buatkan minum untukku.
"Iya mbok masuk aja.."
Mbok Susi menunduk saat meletakkan gelas di meja aku dengan jahil meledeknya.
"Mbok awas ada kecoa."
"eh kecoa eh kecoa apa kecoa apa.."
Aku dan ibu tertawa.
Aku tau sekali mbok Susi itu latah. Dan beliaulah penghiburku.
__ADS_1
Aku ingat, di saat aku demam. Mbok Susi selalu ada di sisiku. Mengompres dahi ku. Mbok Susi usianya di atas ibu beberapa tahun, dia tidak memiliki keluarga. Semenjak dia di tinggalkan suaminya karna alasan tak memiliki keturunan.
Sungguh miris sekali, hanya karna keturunan mbok Susi menjalani hidupnya sendiri.
Tapi disini mbok Susi memiliki banyak anak yang butuh kasih sayangnya. Tangan cekatan dalam merawat kami, serta nasihat nasihatnya.
Mbok Susi menatapku dan meneteskan air mata.
"Neng Bella, ya Allah neng.." Mbok Susi memelukku erat sekali sampai aku kesusahan nafas. Menangis dalam memelukku, membuat aku pun ikut menangis.
"Mbok, jangan kenceng kenceng meluknya. Nanti aku nyusul mama ni."
"Ah maaf neng, jangan bicara sembarangan gitu neng ah." mbok Susi menepuk dahi ku.
"Neng apa kabar, mbok kangen banget sama neng.."
Mengguncangkan tubuhku.
Mungkin terlalu rindu sampai mbok Susi meluapkan segala kerinduannya. Menangis seperti anak kecil di pelukanku.
Mungkin akan seperti ini jika mama masih hidup. Saat aku pulang berkunjung mama akan memelukku dengan erat dan menangis seperti ini.
Aku memeluk mbok Susi dengan dalam.
Bersandar pada dadanya yang hangat. Tempat ternyaman saat hatiku risau. Aku yang selalu manja dengan mbok Susi saat tidur. Dengan kejahilanku menjadi kebiasaan ku, tidur di atas dada mbok Susi.
__ADS_1