
Beberapa hari ini Reza dan Bella saling tidak berhubungan. Perasaan mereka belum bisa saling menerima.
"lu kenapa Bell, kok akhir akhir ini sering diem si.." Sisi khawatir.
Bella mendongak menatap wajah Sisi. Mungkin harus cerita biar enakan.
"gw mau cerita sama lu Si.. ada waktu gak pulang kerja ke rumah gw ya,.." rengekan Bella.
"okey okey.. kebetulan bsok akhir pekan, gw temenin lu nangis semaleman okey.." Sisi memberikan tanda O pada tangannya.
KANTOR REZA
Reza terus menyibukkan dirinya, benar kata Glen ntah karena rasa penasaran atau rasa suka dia tidak terima dengan perlakuan Bella.
Sepanjang waktu dia merenung, dan merasa kehilangan saat Bella acuh tak memberi kabar padanya.
"apa gw chat dia duluan ya.." Gusar hati Reza. Tapi gengsi melarangnya untuk melakukan itu.
"akh gw cuma penasaran aja ma dia.." Optimis Reza. Walau hatinya terus memintanya untuk menemui Bella.
"akhir pekan lu mau kemana Za.." Glen membuat Reza kaget dengan kedatangannya.
"kenapa lu ngelamun mulu si Za.." tanya Glen.
__ADS_1
"siapa si yang ngelamun?" bantah Reza.
" gw tau lu, gw kenal lu Broo.." tepuk Glen.
"gw saranin, ikutin hati lu Broo.." angguk Glen, melangkah pergi.
"udah kaya jalangkung lu, datang pergi sesuka hati.." umpat Reza.
...Reza bingung harus bersikap seperti apa ? Dia dan Bella berbeda, Reza yang sudah memiliki jodoh yang di siapkan orangtuanya sejak lama. Tapi Reza tidak bisa bicara pada siapapun termasuk Glen. Karna gensinya....
Sedangkan Bella bebas seperti burung lepas. Dia seorang diri bisa memutuskan kehidupanny, bukan seperti Reza.
Reza sudah mencari informasi tentang Bella. Yang hidup sebagai Jatim piatu dan sebatang kara tanpa sanak saudara.
"apa dia bisa Nerima gw kalau dia tau gw ini beda dari dia.." ketus Reza menatap wajahnya pada jendela kantornya.
KONTRAKAN BELLA
Dua gadis dewasa yang duduk di sofa.
Bella yang sudah tak kuasa menahan air matanya, terus menangis di hadapan sahabatnya. Sisi yang belum tau masalahnya hanya bisa mengelus punggungnya dalam pelukan.
"nangis lah Bell.. kalau udah tenang lu bisa cerita ma gw.." Sisi yang berusaha menenangkan Bella.
__ADS_1
Bella mengangguk.
Beberapa saat Bella berhenti menangis.
Bella mulai bercerita dari awal ia bertemu dengan Reza, sampai terakhir ia bertemu.
Sisi yang tak menyangka bahwa wanita yang ada di depannya ini mengalami drama kehidupan seperti ini.
"jadi yang lu tanya supir bos itu kenapa bukan Reza yang lu kenal Bell.. karna masalah ini ? tanya Sisi, dianggukan oleh Bella.
"bagus lu belum sampe tahap lanjut Bell, lu harus tahu dulu dia siapa ? dan kenapa dia bilang dia supir bos pemilik perusahaan kita.." ujar Sisi, "karna gw udah hafal semua asisten bos sama supirnya.. gak ada ciri yang lu sebutin itu.." sambung Sisi.
Bella hanya diam mengusap air matanya. Sisi benar, kenapa selama ini dia gak pernah nanya identitas Reza. Bella malah menerka nerka kalau dia supir.
" lu bisa anggap dia supir dari mana Bell ?" tatap Sisi penuh ambisinya.
" gw nerka aja, soalny pas ketemu gw dia pakai baju kasual aja gitu, sedangkan mobil yang dia pake mewah banget Si.." Bella malu mengakui bahwa dirinya tidak tau identitas lelaki yang dia cintai selama ini.
"astagaaaa Bellaaa...akh " pekik Sisi mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.
"selama setahun lu gak ada tanya dia siapaaaa ? kok bisa si Bell.. lu udah buta dengan kenyamanan cinta lu ya.." Sisi tak menyangka bahwa sahabat yang dia kenal selama setahun ini, yang bekerja sangat teliti malah ceroboh seperti ini.
"benar kata Sisi gw ceroboh, Gimana kalau Reza udah punya istri.. gimana kalau Reza bukan supir yang selama ini gw anggap.." denyutan pikiran Bella yang penuh penyesalan.
__ADS_1