
Sepulang dari panti, aku mampir ke rumah Mama. Ku ingat setiap kata yang selalu di ucap mama dan ucapan dari ibu Lastri.
Benar aku harus melanjutkan bukan kembali ke. masa lalu.
Ku tancap gas menuju rumah Davina.
Ku berharap di sana ada papa, walau belum tau apa yang akan ku bicarakan. Tapi dengan bekal bismillahirrahmanirrahim aku memberanikan melambaikan tangan pada Papa.
Ku memberi kabar suamiku serta Tante dan Glen.
Meminta reservasi restoran untuk makan malam bersama.
Dengan restu suamiku, aku berniat mengajak Papa serta adik adikku makan bersama.
Aku melangkahkan kakiku masuk gerbang dengan ragu.
Maju mundur seakan ingin kembali.
Tring..
"Sayang, sebelum melakukan usaha yang baik jangan lupa berdoa agar hati tenang ya.. ingat kamu mau memulai yang baik, jangan sampai emosi jika ada yang tidak sesuai ya.. Semangat sayang.. i love you.. *kiss "
Terimakasih mas, aku memantapkan langkahku setelah menerima pesan yang membuat ku lega.
Tok..tok..
"Ya sebentar.."
Kret..
"Siang mbok.." sapa ku pada wanita separuh baya.
"Siang non, mau cari siapa?"
"Davina ada mbok.."
__ADS_1
"Oh ada.. nanti mbok panggilkan ya, silahkan masuk." Mbok mempersilahkan aku duduk.
"Non, ada teman non datang."
Mbok mengetuk pintu kamar yang ada di sisi tangga.
"Siapa mbok." suara Davina terdengar dari dalam.
"Hmm mbok gak kenal non." mbok menoleh kearah ku.
"Aku Bella mbok."
Mbok mengangguk pelan dan membungkuk.
"Non Bella katanya non."
"Oh ya sebentar."
Mbok menghampiri ku.
"Apa aja mbok, yang gak repot mbok nya."
Mbok mengangguk dan tersenyum.
"mbok tinggal ya non. permisi."
Aku mengangguk dan tersenyum.
Tak lama Davina keluar dengan rambut yang masih di lilit handuk. Rupanya habis mandi.
"Maaf mbak, aku tadi baru selesai mandi."
Dia menghampiriku dan meraih tanganku di ciumnya. Aku kaget tapi aku tangan saat syaraf ku merespon hendak menarik tangan. Aku tersenyum.
"Ada apa mbak ?" nampak sekali wajah senang sekaligus cemas di wajahnya.
__ADS_1
"Aku mau sita rumah ini." aku sedikit bergurau sambil menahan tawa dengan wajah ketus dan melirik seisi ruangan di hadapanku.
Wajah Davina berubah syok, rona wajahnya memucat. Entah apa yang dia pikirkan, aku yakin kaget dan sangat tak percaya.
"Mbak aku gak salah dengar."
"Apa yang kamu dengar." tanya balik ku.
"Mbak mau sita rumah ini ?" matanya menatapku tak percaya.
"Iya, jika malam ini kamu gak berhasil membawa papa ke tempat yang aku tentukan." Ucapan ku ambigu. Aku tau itu, tapi aku senang melihat raut wajahnya yang berubah rubah itu. Maafkan aku Dav. Aku menahan tawaku melihatnya menganga dengan merah di matanya.
Butiran air mata keluar dari sudut matanya.
"Mbak, rumah ini penuh kenangan ku." Tangisnya pecah.
Aku pilu melihatnya, tapi jiwa jahilku tak pudar.
"Terus mbak harus apa ? ini rumah Mama mbak. Kamu tanya aja Papa, ini rumah siapa. Surat surat juga masih atas nama Mamaku." dengan alasan yang tepat tapi aku sendiri sebenarnya gak tau jelas suratnya dimana.
Aku sudah tak tahan melihat air matanya.
Aku bangkit.
"Tolong ya nanti malam jam 7 aku tunggu kalian di tempat yang aku tentukan. Nanti aku kirim lokasinya."
Mbok datang membawa minum, aku meraihnya.
"Terimakasih mbok."
"Aku pamit Dav. Jangan sampai gak datang, kalian akan menyesal." Aku jalan dengan angkuh dan cepat.
Aku tertawa di dalam mobil.
Terlintas di benak ku apakan aku keterlaluan. Apa cara ini benar. Aku terlalu malu dan gengsi untuk mengajaknya baik baik.
__ADS_1
Semoga aja caraku tidak mengacaukan niatku.