
Kami menikmati setiap saat bersama. Keluarga yang ku tinggalkan di sana, aku tahu jelas kehidupan mereka. Glen kini tinggal bersama dengan Papa Surya. Dan Davina sudah menikah dengan Riko. Clara sudah tinggal bersama Reza, walaupun belum ada kabar tentang pernikahan mereka, tapi Clara sudah hamil saat ini.
Aku belum ingin kembali kesana, walau waktu sudah terlewati dengan baik. Tapi luka hati karna rasa kecewa dan pengkhianatan berkeluarga yang mereka lakukan belum bisa aku lupakan dengan ikhlas.
Mas Gaga tidak pernah mengungkit kapan aku kembali, walau aku tau dia lelah harus ke sana ke sini. Tapi dia sangat mengerti hatiku.
Semua kebutuhan ku dan Edward selalu di cukupi olehnya. Setiap pulang ke rumah, hadiah kecil berupa mainan dan baju untuk ku dan Edward pasti selalu di bawanya. Kadang dia membelikan ku tas, sepatu bahkan pakaian dalam.
"Sayang, bisa ke kamar sebentar." pintanya saat aku menidurkan Edward di kasur. Dia tertidur pulas karna kelelahan bermain dengan Daddy-nya. Aku mengangguk.
Klik ..
"Ada apa, Mas?" tanyaku seraya mendekatinya.
Dia menarik tubuhku, memeluk erat tubuh kecilku.
"Aku kangen.." ucapnya. Nafasnya menyentuh leherku memberi getaran halus dalam tubuhku.
Aku diam menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana.
Awal kami menikah, hanya aku yang agresif terhadapnya. Karna setiap kali Mas Gaga selalu "menghormati" diriku yang merupakan atasannya. Sampai aku meluapkan emosiku, karna kesal setiap kali ingin di sentuh aku yang harus mengajaknya. Padahal kami suami istri sah agama dan negara.
Aku jadi teringat saat pertama kali aku marah padanya, dengan rasa malu dan tubuh bergetar aku berteriak.
"Mas itu kenapa si, padahal tubuh Mas mau di sentuh. Tapi kenapa gak mau nyentuh aku. Apa perlu kamu menahan hasrat mu di depan istri sendiri. Apa kamu tidak menganggap aku istrimu, Mas." dengan suara bergetar aku memberanikan diri berbicara. Aku sudah tidak tahan melihat Mas Gaga yang aku lihat dengan jelas menginginkan tubuhku tapi di tahannya. Kadang dia melampiaskannya sendirian Ki kamar mandi. Dia menghormati ku atau malah sebaliknya. Sakit hatiku melihat dia tersiksa menahan hasratnya sendiri.
"Aku istrimu, Mas. Penuhi kewajiban mu menafkahi aku, tubuhku butuh sentuhan mu begitupun tubuhmu. Kenapa kamu selalu menghindar." aku menangis bukan karena sakit, tapi lebih ke pada rasa malu mengungkapkan isi hatiku. Tapi untuk menunggu Mas Gaga mengungkapkan isi hatinya, itu mustahil. Lelaki ini terlalu sangat menyayangi dan menghormati ku. Dia tidak ingin aku lelah, kesakitan atau apalah. Itu yang selalu dia ucapkan.
Setelah malam itu, Mas Gaga kini bersikap selayaknya suami. Saat dia butuh dia akan datang padaku, bukan menghindari ku lagi. Bahkan aku pun begitu, saat aku butuh tak segan meminta padanya.
Aku teringat saat ikut pengajian di desa tempat ku tinggal saat ini, "Bu ibu, mintalah jatah malam sama suami. Jangan sampai suami lupa kasih jatah malam sama kita. Jatah yang di terima akan melancarkan rezeki suami. Jangan malu minta jatah, itu pahalanya besar Bu ibu." ucap ustadz guru di pengajian.
__ADS_1
Walau agak prontal, tapi itu membuatku yakin dengan keputusanku meminta jatah duluan.
"Kamu capek gak, Mas." tanyaku membalikkan tubuhku.
"Sedikit, sayang. Kemarin aku ada rapat yang lumayan panjang. Terus ketemu sama Reza dan sempat berbincang sebentar." ucapnya sambil merebahkan tubuhnya.
Aku memijat lembut lengannya.
"Apa kamu bisa cari orang untuk gantiin kamu d perusahaan, Mas. Aku kasian lihat kamu harus urus sana sini." aku tau dia lelah dengan urusan perusahaan dan firma hukumnya. Tapi berulang kali selalu di tolak jika memintanya melepas perusahaan kepada Papa kembali.
"Aku belum yakin sama orang lain, Yang. Jika di kembalikan ke Papa mu, apa kamu yakin akan berkembang." ucapnya memejamkan matanya.
Aku juga tau, walau perusahaan di tangan Papaku sebelumnya. Tapi di balik layar adalah Papa dari Mas Gaga yang mengatur semuanya. Papa hanya cangkang saja. Sedangkan sekarang Papa Mas Gaga sudah pensiun dan kembali ke desa. Beliau sempat mengunjungi kami saat kami menikah dan Edward ulang tahun delapan bulan lalu.
"Lantas bagaimana, Mas. Kamu juga kan gak mungkin terus begini." aku memijat kepalanya.
"Iya sayang, nanti aku pikirkan kembali. Sepertinya firma yang aku kalahkan, biar nanti kawanku yang handle."
Dia tidak menjawab hanya menghembuskan nafas panjang.
"Apa aku kembali saja ke Jakarta, Mas. Biar perusahaan aku yang handle."
Dia membuka matanya lebar dan langsung duduk di hadapanku.
"Aku tidak akan memaksa kamu dan tidak akan mengizinkan kamu terpaksa untuk melakukan apapun yang kamu tidak inginkan, sayang. Sudah tidak usah di pikirkan, doakan saja aku agar tubuhku selalu sehat ya." dia mengusap pipiku dan mengecup bibirku.
"Aku ada hadiah untukmu, di paper bag itu. Ambillah." ucapnya sambil menunjuk paper bag di sisi tas kantornya.
"Ini, Mas."
Dia mengangguk, aku membawa ke dekat dirinya duduk.
__ADS_1
"Apa isinya, Mas. Kok rasanya ringan sekali." aku menggodanya.
"Buka lah," ucapnya semangat.
Terlihat sebuah kotak perhiasan berbentuk hati warna merah di dalamnya. Aku sudah tau isinya pasti perhiasan. Tapi tumben sekali Mas Gaga memberikan sesuatu yang mewah.
"Aku buka ya, Mas."
Kalung dengan liontin hati yang di isi dengan foto kami bertiga. Aku tersenyum haru melihatnya. Ini tidak mewah, tapi begitu mahal harganya.
"Kamu suka, sayang." tanyanya menarik pinggulku dalam pelukannya.
Aku mengangguk dan meneteskan air mata, selama ini dia selalu memberiku kejutan kejutan hangat dan manis. Yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku sangat bersyukur telah kehilangan Mas Reza dan mendapatkan Mas Gaga, suamiku.
Aku memeluknya erat, "terimakasih, Mas. Aku suka sekali."
"Tolong pakaikan." pintaku menyodorkan kalung padanya.
Dia memakai kalung di leherku, mengecup punggung leherku dengan lembut.
"Apakah ini bisa di jual, Mas." godaku sambil mengangkat liontin yang cukup besar.
Dia tertawa, "Apakah harganya begitu penting, sayang."
"Aku hanya ingin tau, siapa tau harganya mahal. Ini lumayan besar loh, Mas." aku menimang timang.
Dia menggelengkan kepalanya, "Aku belum mampu membelikan mu berlian dengar ukuran sebesar itu, sayang." ucapnya tersenyum.
Aku tau dia memang tidak memanjakan kami dengan kemewahan, bahkan mengajarkan Edward selalu setara dengan anak anak di desa ini. Dan dia juga tidak mengambil alih keuntungan dari perusahaan ku, dia hanya menerima gaji sebagai asistenku. Tapi aku tau, sebenarnya dia mampu membelikan ku perhiasan bahkan berlian dengan gajinya dan penghasilan di firma hukumnya. Hanya saja itu bukan sifatnya.
"Ah.. aku pikir ini lebih mahal dari berlian, Mas." aku meruncingkan bibirku. "Tapi ini adalah hadiah termahal yang pernah aku terima Mas, terimakasih." aku memeluknya.
__ADS_1