DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
DADDY


__ADS_3

Persalinan yang mendebarkan sudah terlewati.


Dia berlari ke arahku saat mendengar tangisan pertama dari bayiku.Tubuhku yang lelah di buat kaget oleh sikapnya, semua dokter mengira dia ayah dari bayiku. Begitu antusias terhadap kelahiran bayiku.


"Wah si Bapak, sudah gak sabar sampe nerobos masuk.." goda para staf medis saat melihatnya masuk keruang persalinan ku.


"Tadi di ajak masuk gak mau, sekarang baru dengar tangisan bayinya langsung lari." kekeh sang Dokter wanita yang membantuku.


Aku malu saat Mas Gaga melihat kondisiku, posisi yang kurang enak di lihat oleh orang lain apalagi seorang lelaki bukan suamiku.


Wajahnya pucat dan keringat membasahi wajahnya. Kulihat tangannya gemetar, dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada saat melihat diriku dan bayiku.


Bidan mendekatinya dan memperlihatkan bayiku padanya.


Air matanya menetes, bibirnya bergetar saat dia menatap buah hatiku.


"Ini Pak, jagoannya sudah lahir.. Sehat dan selamat." memperlihatkan bayiku yang polos di hadapannya dia duduk bersimpuh di lantai. Mungkin kakinya lemas karena terlihat jelas wajahnya pucat. Dia mengucap syukur berulang kali, membuatku semakin merasa pilu. Mungkinkah ini di lakukan setiap Ayah yang baru memiliki anak?. Apakah Mas Reza akan seperti ini?.


Aku ikut meneteskan air mata melihatnya menangis. Mas Gaga di bimbing ke ruangan untuk melihat staf medis membersihkan bayiku. Saat di minta mengadzani bayiku, dia melirik ke arahku meminta persetujuan dariku. Aku mengangguk dengan senyuman untuknya.


Buat apa aku menolak, siapa lagi yang akan mengadzani bayiku jika bukan Mas Gaga saat ini. Bahkan kehadirannya tidak di ketahui oleh, Daddy-nya.


Aku mendekap erat bayiku, memberi ASI pertama untuknya. Mas Gaga yang selalu ada di sisiku terasa begitu nyata dengan segala perasaannya. Apakah aku mampu menutup mata untuk tidak melihatnya.


Dengan telaten dia merawat diriku dan putraku.


Bahkan dia terjaga saat aku terlelap dalam tidurku.


"Mas tidur, saja. Nanti kalau bayinya lapar juga nangis. Gak usah di tunggu tunggu, Mas istirahat saja dulu, ya." pintaku saat dia terus menatap wajah mungil bayiku dalam box bayi.

__ADS_1


"Kami tidur saja, Bell. Biar jagoan aku yang jaga. Nanti takut pipis kasian gatal. Kamu tidur ya, kamu perlu banyak istirahat agar ASI tetap bagus bukan begitu kata dokter." ucapnya tanpa melirikku.


Dia terlalu fokus dengan bayiku, kadang aku merasa cemburu dengan jagoan itu. Yang terus di tatap dengan kelembutan dan di tenangkan dengan usapan hangat.


Mengendong pun aku tidak bisa lama, Mas Gaga selalu berusaha mengambil alih dengan dalilnya yang membuat para staf tersipu.


"Sudah jangan lama lama, kamu capek. Istirahat saja ya, sini bayinya aku gendong. Biar sekarang jadi tanggung jawab ku, kamu sudah puas membawanya selama kehamilan."


Dengan ringan ucapannya mengalir begitu saja tanpa melihat situasi. Membuat siapapun yang mendengar pasti langsung menerka bahwa dia adalah Daddy dari bayiku.


"Perhatian sekali ya.."


"So sweet.."


"Masih ada gak ya lelaki seperti ini.."


Banyak lagi ucapan yang di lontarkan para staf medis dan karyawan yang membantu di kamarku.


"Sepertinya, pesonaku terkalahkan oleh bayi itu." ucapku lirih yang ternyata di dengar oleh suster yang menyiapkan obat untukku.


Tawanya membuatku sadar dan menoleh kearahnya, aku malu sampai salah tingkah saat ocehan tak jelas di dengar orang lain.


"Tapi jarang Loch Bu, suami yang siaga seperti suami Ibu. Saya sudah lama di rumah sakit, walau banyak suami siaga lainnya. Tapi caranya, sikapnya, ucapannya berbeda dengan para Ayah muda yang biasa." ucapnya menimpali ucapku.


"Masa si, Sus. Bukannya semua Ayah baru akan seperti itu?" aku melirik Mas Gaga yang asik dengan bayiku di sofa.


"Gak semua, Bu. Merasa senang pasti, tapi gak natural Bapak. Beliau tanpa ragu, tanpa malu mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya memiliki buah hati. Lelaki kan jarang Bu yang mengungkapkan isi hatinya dengan tulus tanpa gengsi seperti itu. Suami ibu mau belajar merawat bayi, membersihkan kotorannya, mengganti pakaian dan membalut tubuh mungil bayinya. Beliau sampai keruangan perawat meminta di ajari, Bu." dia menjelaskan sambil tertawa kecil.


Aku tidak menyangka, Mas Gaga sampai mengambil alih segalanya. Dia sibuk dengan kerjaan di kantor yang ku titipkan padanya. Dia juga masih jadi penasehat hukum di firma kecil yang di dirikan olehnya. Sekarang bertambah lagi pekerjaannya merawat ku serta bayiku.

__ADS_1


Dia tertidur di sisi bayiku dengan posisi seperti ibu menyusui. Membuat aku dan suster tertawa.


Aku meminta suster memindahkan bayiku, takut tertimpa tubuhnya nanti. Tapi ternyata dia tidak tidur lelap, tangan suster di tangkis tanpa sadar olehnya.


"Oh.. Maaf, Sus. Saya reflek." ucapnya ketika sadar saat Suster mengeluh di tangis tangannya.


Aku tersenyum melihatnya begitu melindungi walau di saat lelahnya.


"Mau saya pindahkan, Pak. Takut tertimpa tubuh Bapak, nanti." ucap Suster meminta ijin.


Dia menggelengkan kepalanya, "tidak usah, biar saya saja. Terimakasih, Sus." ucapnya langsung menggendong bayiku di letakan di box bayi.


Posesif sekali dia terhadap putraku, sampai aku pun tidak di ijinkan menggendong lama.


"Aduh, Sus. Jangankan Suster, aku aja Mommy nya tidak di ijinkan menggendong lama bayiku." godaku sambil menahan senyum aku mengalihkan pandanganku.


Suster tersenyum senyum dengan ucapku, karna dia tau memang begitu adanya.


"Aku bukan tidak ijinkan, kamu kan harus banyak istirahat. Lagi pula sudah cukup dia ada di perutmu selama ini, sekarang giliran aku menjaganya selama di sini. Harus gantian dong, ya sayang." dia menepuk tepuk tubuh bayiku dengan lembut membuat ketenangan untuk sang jagoan.


Suster menutup mulutnya, mungkin ingin tertawa tapi di tahan dan pamit keluar.


Aku yakin Suster itu akan tertawa terbahak bahak di luar sana.


Aku pun ingin tertawa tapi ku tahan. Karna Mas Gaga berbicara tanpa melihatku dan sama sekali tidak merasa canggung dengan posisinya. Apa dia sangat menjiwai peran seorang ayah, sampai lupa bahwa di hadapannya bukan anaknya.


Aku menggelengkan kepalaku, saat dia mengambil beberapa gambar bayiku dengan ponselnya. Aku sendiri belum memiliki foto bayiku semenjak lahir dua hari yang lalu. Mungkin di galeri Mas Gaga sudah penuh gambar bayiku, setiap saat dia akan memotret dengan senang sendiri.


Malah wallpaper ponselnya pun, gambar bayiku saat baru beberapa menit lahir.

__ADS_1


Dia tersenyum senyum sendiri melihat hasil foto di ponselnya.


Lantas menarik kursi di sisi box bayi dengan mode serius kini dia memainkan iPad-nya. Ya dia kini bekerja dan aku sedari tadi belum di sapa nya. Apa apaan ini, Mas!.


__ADS_2