
Aku pergi ke apotik untuk menenangkan hatiku.
Tanpa ada yang tau kemana aku pergi, karna sesungguhnya aku belum yakin tentang yang ku rasa, tak enak hati jika mereka berharap dan hasilnya mengecewakan.
Aku mengetes urine pada alat tes kehamilan.
Hatiku was was, aku tak ingin menerima anugrah di saat hatiku mulai rapuh terhadap suamiku.
Tapi hasilnya membuat kakiku lemas, air mataku mengalir sendiri. Aku bahagia, sungguh bahagia. Tapi ada ketakutan juga di sisinya.
Masalah yang sedang hatiku alami, belum terpecahkan. Apakah aku harus memberitahu kabar baik ini kepada keluargaku dan Mas Reza? Sedangkan mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
Rasanya enggan hati ini, aku akan menyembunyikan dulu kehamilan ini. Aku harus tau apa yang mereka sembunyikan dariku.
"Sayang.. tumbuhlah sehat di dalam sana. Mama akan selalu menjagamu." aku mengelus perutku yang masih rata. "Besok kita akan ke dokter untuk memastikan usiamu dalam kandungan Mama ya, nak."
Aku melihat Mas Reza yang sedang fokus dengan ponselnya. Tidak seperti biasanya dia fokus dengan ponsel dalam waktu lama. Sedari aku masuk kamar mandi sampai keluar lagi belum teralihkan fokusnya. Yang ku tau, jika Mas Reza mengurus kerjaannya dia akan menggunakan Ipad-nya bukan ponsel.
__ADS_1
Sesekali aku mendengar dia mendengus kesal lalu tangannya sibuk mengetik di layar ponsel.
Dia beranjak bangkit dari duduknya, mencoba menelpon dan mungkin tidak tersambung atau tidak di angkat, sehingga dia mengumpat kasar.
"Ah, sial.. kemana si dia."
Berulang kali dia menelepon seseorang di sana. Siapakah dia yang di cemaskan suamiku, sampai raut wajahnya merah padam karna emosi dan kekhawatiran.
Dia mungkin menelpon anak buahnya. Terdengar dia meminta anak buahnya menyusul seseorang dan menyebutkan "Villa putih."
Aku segera meminta orang kepercayaan ku mengecek keadaan villa tersebut. Aku tau tempatnya, karna aku pernah tak sengaja memfoto alamat yang ada di depan gerbang villa. Segera aku mengirimkan alamat tersebut kepadanya.
Aku harus tau apa yang dia cemaskan dan kenapa harus di villa itu. Bukankah dia bilang itu villa bersejarahnya. Aku harus tau.
"Mas.. tidur yuk sudah malam." ajak ku untuk mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Karna terlalu fokus sampai aku yang berdiri di belakangnya dia tak sadar.
"Ah.. sejak kapan kamu disitu." dia terkejut saat menoleh aku di belakangnya.
__ADS_1
"Kenapa memang, Mas. Kok panik gitu."
Dia menggaruk kepalanya, aku tau dia gugup saat ini.
"Ah gak apa apa, sayang. Sudah lama di belakangku." tanyanya lagi. Ia dia pasti ingin memastikan aku tidak mendengar ucapannya. Akan aku ikuti keinginannya.
"Baru aja, Mas. Kenapa memangnya?" aku memasang wajah menyelidik.
Dia diam sesaat lalu mengecup keningku.
"Gak, sayang. Yuk tidur." dia memboyongku masuk.
"Memang ada apa, Mas. Ada yang kamu sembunyikan ya." aku merengek.
"Gak ada, sayangku. Aku cuma kaget aja, takutnya gak sengaja kamu ke pukul aku di belakang kaya gitu dirinya." aku tau dia berbohong.
"Hmmm kirain ada sesuatu yang kamu sembunyikan." aku menatap matanya dia menghindar, ya sudah jelas ada sesuatu yang di sembunyikan olehmu, Mas. Tanpa kau ucapkan pun aku bisa melihatnya. Baiklah aku akan pura pura bodoh kali ini.
__ADS_1