
"Kamu jangan sembarangan bergerak Dav, kamu gak mau nurut apa kata Papa hah ?" Bentaknya.
Davina terisak-isak menangis.
Tak mampu menjawab hanya air mata yang terus mengalir.
"Sudah Papa bilang, tinggalkan benalu itu. Kamu harus fokus untuk masa depanmu. Kamu mau hidup jadi gelandangan Dav ?" Bentakan bentakan terus terucap.
"Tapi Pa, aku cuma mau kehangatan keluarga. Kekayaan aku sudah biasa rasakan Pah.." lirih Davina.
Mata Papa Surya menanar merah, membulat seperti akan lompat keluar.
"Kehangatan keluarga ? sudah biasa merasakan kekayaan ? Kamu tau sudah biasa, apa kamu pikir akan mampu jika kamu jatuh miskin ! Jangan naif Dav, demi cinta yang gak ada arti. Bahagia dengan cinta. Makan pakaian tempat tidur. Apa kamu bisa hidup di gubug reot, tidur di alas tikar. Jangan gila Dav." Makian Papa semakin meningkat.
Papa Surya duduk di sofa. Davina tersungkur lemas di lantai.
"Kamu enak enakan nangis nangis gak guna di pelukan lelaki gak berkemampuan. Harusnya kamu mikir bantu Papa cari solusi buat masalah kantor. Malah seenaknya bilang pengen hidup sederhana." Papa melempar file ke wajah Davina.
Davina mengambilnya dengan tangan gemetar.
Di baca perlahan di sela sela isakan tangisnya.
"Perusahaan di ambil alih ?" Tanya Davina ke Papanya.
"Iya, itu yang buat Papa pusing. Kalau kamu mau hidup susah, kalau Papa tidak Dav. Papa akan perjuangkan apa yang Papa miliki."
__ADS_1
Papa menyilang kan tangan pada dadanya.
"Tapi disini tertulis sang waris adalah anak dari Ibu Kartika. Berarti anak Papa juga kan ?"
Davina menatap Papanya.
Papa mengangguk dan mengusap kepalanya.
"Ya gak apa apa Pah. Kan dia tetap anak Papa, di bicarakan aja dulu Pah, kan bisa biar Papa aja yang jalanin walau atas namanya." Sungguh pikiran polos apa yang ada di otak Davina membuat Papanya makin murka.
Mata Papa membulat sempurna seakan ingin menerkam mangsanya.
"Apa aku salah Pah ?" Davina ketakutan melihat raut wajah Papanya.
"Kamu bener bener ya Dav, kenapa aku harus mempertahankan, mendidik anak yang gak berguna kaya kamu. Gak bisa membantu sama sekali" Papa bangkit dan mendekati Davina.
Davina hanya diam sedikit mengerti kenapa Papanya ketakutan dengan peralihan perusahaan ini.
Ya siapa juga akan mengakui orang yang sudah membuangnya.
***
Davina duduk di tepi tempat tidurnya.
Di telpon berkali kali kekasihnya tanpa jawaban.
__ADS_1
Davina khawatir dengan kondisinya.
Setelah di pukul berkali kali oleh Papanya di taman.
Apakah dia baik baik saja ?
Gimana kondisinya ?
Apa dia akan pergi meninggalkanku ?
Apa dia akan menyerah ?
Davina terus mencoba menghubungi, tapi tak ada jawaban.
Dengan pasrah Davina membanting tubuhnya di kasur.
Menutup kedua matanya dengan tangannya.
Menangis meraung sendiri.
Kenapa semua harus begini.
Kenapa Papanya gak mau mengerti arti kebahagiaan untuk dia putrinya sendiri.
"Mah.. kata Mama Papa adalah lelaki yang sangat menyayangi Mama. Dengan bukti meninggalkan semua kekasih dan bahkan di istrinya. Mah.. apa benar itu tanda sayangnya pada kita Mah.." Lirih Davina mengingat ucapan alm. Mamanya.
__ADS_1
"Mah, apa aku harus nurut apa kata Papa. Menghancurkan kebahagiaan orang demi ambisi Papa ? Aku gak suka drama ini mah." isakan Davina dalam tangisnya.