DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KEMALANGAN


__ADS_3

Kami semua panik berlari ke ruang UGD rumah sakit. Mendapat kabar putra dari Clara tiba tiba demam tinggi dan di larikan ke rumah sakit.


"Apa kata dokter, sayang?." tanya Tante Syarina pada Mas Reza.


"Belum ada kepastian, Ma. Masih tunggu beberapa hasil pemeriksaan, laboratorium dan yang lain." ucap Mas Reza dengan penuh cemas dan kekhawatiran. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, melirik putranya yang sedang di pasang infus di tangannya. Usianya baru delapan bulan, sudah harus merasakan sakitnya jarum infus.


Betapa hancur hati seorang ibu melihat anak bayinya harus terbaring di ranjang rumah sakit. Dengan beberapa tusukan jarum untuk pengambilan darah serta pemasangan infus. Aku mengusap dadaku yang terasa perih. Terlintas di benakku jika anakku yang terbaring di sana apakah aku akan, kuat.


Aku begitu kaget mendengar Davina menerima kabar jika anak dari Mas Reza kejang dan tak sadarkan diri. Bayi seusia itu...


Aku meninggalkan Edward bersama Ricardo. Aku tidak ingin membawa Edward ke rumah sakit, di sini bukan untuk anak anak sehat. Di tempat orang sakit yang harus berjuang sehat dan keluar dari sini.


"Hai, Bella.."


Aku menoleh saat bahuku di tepuk.


Dokter Syifa, dokter yang menangani kehamilanku saat mengandung Edward.


"Oh Hai, Dokter Syifa. Apa kabar?." ucapku seraya memeluk tubuhnya.


"Aku baik, kamu?." dia melirik ke arah Mas Gaga dan beralih ke arah Mas Reza yang sedang berdiri menatap putranya dari depan pintu.


"Ini suamiku, Dok. Yang baru." ucapku menjelaskan, agar Dokter Syifa tak salah mengucapkan kata-kata.


"Oh iya, salam kenal. Syifa, teman sekolah Bella." dia menyodorkan tangannya pada suamiku. Bukan suamiku jika dia menerima uluran tangan perempuan lain, apa lagi di hadapanku.


Aku menatapnya dan mengangguk. Memberi tanda mengijinkan dia menjabat tangan Syifa.


"Aldiraga Munawar, suami Bella." ucapnya singkat tanpa memandang Syifa.


"Hmm.. sorry ya Dok. Suamiku sedikit kaku.." ucapku malu dengan sikap dingin tanpa pandang bulu Mas Gaga.


"Iya gak apa, aku malah senang kamu punya suami yang hangat hanya pada kamu. Dari pada yang lama kan?." dia melirik Mas Reza. Syifa mengenal Mas Reza, karna saat Clara hamil Syifa pernah menanganinya sesekali.


Aku tersenyum malu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan anakmu, di mana dia?." dia mencari-cari.


"Dia sehat Dokter, sekarang sudah bisa banyak membuat Mom dan Daddy-nya pusing." ucapku sambil tertawa.


"Dia tidak ikut, di sini bukan tempat untuk anak kecil, benarkan Dokter." sambung ku.


Dokter Syifa mengangguk.


"Wah syukurlah.. biarkan dia membuat pusing kalian di usia dini nya. Nanti akan terkenang di usia dewasanya. Dia pasti anaknya aktif dan pintar, bukan?." ucapnya dengan senyum sumringah.


"Iya dokter, luar biasa sekali. Di usianya sekarang sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Membedakan hal kecil yang satu dengan yang lain. Kadang aku di buat pusing dengan segala macam pertanyaannya. Jika dia belum puas dengan jawabanku, maka akan terus berulang." aku tertawa sambil menggelengkan kepalaku.


"Pasti itu, pasti.. anakku juga demikian. Mungkin sebentar lagi akan fase seperti anakmu." ucapnya mengusap air mata yang keluar di ujung matanya karna terlalu senang tertawa.


"Lantas kamu di sini..." mengangkat alisnya.


"Aku mendengar kabar, anak Clara dan Mas Reza sakit." aku menoleh ke arah ruangan. Di sana ada keluarga Abraham sedang duduk berkeliling di antara ranjang.


"Sakit apa?." tanyanya serius.


"Aku gak tau, Dok. Baru melakukan serangkaian tes tadi, mungkin sedang menunggu hasil. Tapi tadi aku mendengar dia kejang sampai tidak sadarkan diri. Anak sekecil itu sakit sampai pingsan mungkin sakitnya teramat sakit ya kan, Dok. Ada yang pernah bilang, "Bahwa anak bayi tidak di berikan rasa sakit yang berlebih saat mengalami sakit. Karna mereka di lindungi malaikat." kenapa anak ini sampai pingsan, Dok. Malah sekarang sepertinya belum sadar.


"Kasian sekali dia, korban keegoisan ibunya." gumam Dokter Syifa.


"Kenapa, Dok?." tanyaku samar mendengar gumamnya.


"Ah tidak apa, itu hanya prediksi saja Bell. Karna jarang sekali bayi yang sampai tidak sadar jika bukan karna saraf. Semoga apapun itu, bisa di lewati dengan baik dan kembali pulih. Aamiin."


"Aamiin." kami serempak mengucap doa.


"Oh ya, Bell. Sekarang kamu tinggal di sini lagi?." tanyanya.


"Iya rencananya, tapi lihat nanti saja. Bagaimana pun tergantung suamiku." aku memandang Mas Gaga.


"Baiklah, baiklah.. " Dokter Syifa tersenyum dengan menggodaku.

__ADS_1


Aku tertawa kecil.


"Kapan kamu ada waktu, kita ngopi cantik di cafe." tanyanya mencolek tanganku.


Aku tidak berani menjawab, karna selama menikah dengan Mas Gaga aku tidak pernah keluar rumah tanpa dirinya sekalipun.


"Mas.." aku mengadahkan wajahku ke wajahnya. Tapi dia hanya diam membentuk bibirnya tipis. Itu sudah tanda bagiku. Meminta ijin padanya keluar rumah sendiri itu bagaikan meminta mandat kepada raja yang agung.


Aku tidak enak dengan Syifa yang terus tersenyum menatapku. Dia menggodaku berulang kali membuat wajahku terasa panas.


"Nanti aku kabarin ya, Dok. Pasti secepatnya. Sudah lama juga kita gak temu kangen, manja.." ucapku sambil tersenyum.


"Ok, ku tunggu kabarmu. Aku balik kerja lagi ya. Tuan Raga, peluk erat terus istrimu ini ya. Dia sedikit genit." dia tersenyum licik dan berlari kecil setelah menggodaku.


Pipiku di cubit Mas Gaga. Wajahnya plat batu es. Jika sudah begini, tugas ektra untukku nanti malam, menunggu.


Kami masuk ke ruangan setelah berganti dengan Papa dan Mama Abraham.


"Sudah ada hasil, Clara?." tanyaku sambil mengucap kaki jagoan kecil yang sedang tertidur atau entah sedang apa. Dia begitu tenang berbaring di atas ranjang.


Clara menggelengkan kepalanya.


Aku melihat sekilas sorot matanya yang enggan melihat putranya berbaring. Bukan rasa khawatir, tapi entahlah itu ekspresi apa.


Tapi dia ibunya, mana mungkin dia tidak hancur melihat putranya seperti ini. Mungkin itu cara baginya agar tidak terlalu hancur hingga terpuruk. Bagaimana kita harus selalu sehat dan semangat saat ada salah satu dari keluarga kita sakit.


Mereka butuh motivasi, dorongan dan bukti nyata cinta dari kita. Bukan hanya obat yang bisa menyembuhkan, melainkan kehadiran orang yang memberinya penuh rasa sayang dan kasih bisa membuat semangat jiwanya bangkit untuk pulih.


"Yang sabar dan kuat ya, kalian." aku mengucap kepala putra mereka.


"Jangan lemah, seorang ayah di larang terlihat lemah di hadapan anaknya." Mas Gaga menepuk pundak Mas Reza.


Mas Reza mengusap air matanya dan mengangguk.


"Kalau ayahnya menangis dan lemah, lantas siapa yang akan menguatkan jiwanya." sambung Mas Gaga.

__ADS_1


"Terimakasih, Mas." ucap Mas Reza.


Aku masih ganjil dengan ekspresi wajah Clara. Dan sedari tadi aku perhatikan memang benar, ini bukan ekspresi yang biasa di tunjukan seorang ibu ataupun orang lain, yang anggota keluarganya sakit.


__ADS_2