
Aku menuju villa puncak di mana sang kekasih suamiku tinggal.
TING ... TONG ...
"Sebentar, sayang.." teriaknya. Ya aku tau, hanya suamiku yang tau dia di sini. Dan sesuai janji suamiku, hari ini dia akan kesini.
"Hai Say..." matanya terbelalak menatapku. Wajahnya cantik tidak terlihat sedang sakit. Dari matanya nampak sinar cerah berbinar, ya tentu kekasihnya akan datang pasti senang, bukan.
"Hai.. boleh aku masuk." aku melangkah masuk tanpa di persilahkan olehnya.
Aku sudah duduk di sofa, tapi dia masih terpaku di depan pintu.
"Kenapa tidak masuk... Anggaplah villa mu sendiri, Clara." ledekku. Membuat wajahnya merona merah. Dia mendekat dan duduk di sisi kananku agak jauh di kursi terpisah.
"Gak usah takut sama aku, aku gak makan manusia kok. Lagipula kalau manusia penyakitan siapa yang, mau. Bukan begitu, Clara?." aku menatapnya yang tampak gugup.
Dia hanya diam mematung. Tangannya mengepal bergetar.
"Kenapa diam, takut? Seharusnya kalau kamu takut seharusnya dari awal sudah pergi, Clara. Bukankah kamu tau aku sudah menikah, bahkan sudah dua tahun." aku menyilang kakiku di hadapannya.
"Tolong panggil bibi, aku haus. Oh ya kamu di sini numpang ya bukan majikan. Biar aku saja."
Aku memanggil bibi meminta di buatkan air. Bibi nampak kaget dan ketakutan. Mungkin dia takut aku jambak jambak kan di sini.
__ADS_1
"Eh, Non kapan datang. Tuan di mana?." tanyanya.
"Sebentar lagi datang, Bi. Mau jemput seseorang." aku melirik tajam ke arah Clara. Bibi mengangguk.
"Yang dingin ya, Bi. Soalny suasana kali ini panas." aku mengibaskan tanganku.
Bibi mengangguk dan meninggalkan kami.
"Kamu gak tanya aku ke sini mau ngapain?" bersandar pada sofa, ya cukup lelah selama perjalanan membuat pinggangku sakit dan kram perut.
"A-a-ku gak tau.." ucapnya terbata bata.
"Gak usah ketakutan gitu, emang aku apain. Mau cari muka sama suamiku lagi. Belum waktunya, dia belum sampai." ucapku sinis.
"Kalau kamu memang tau hubunganku, bahkan sebelum kalian menikah. Kenapa kamu mau melanjutkan pernikahanmu." ucapnya sedikit dengan nada tinggi.
"Haha.. kalau aku tau, gak mungkin aku mau nikah, Clara. Sebaliknya, kamu sudah tau aku sudah menikah kok masih mau di simpan di sini. Bahkan datang di hari pernikahan ku, bukan. Aku bukan wanita yang kekurangan laki laki sepertimu, Clara. Hingga mengejar laki laki yang sudah beristri." cetus ku.
"Sekarang kamu sudah taukan, bahkan suamimu melindungi ku. Kenapa aku harus pergi jika dia memilihku." ucapnya dengan bangga.
"hmm.. baiklah, kamu suka dengan lelaki yang bekas ya. Ambillah.. Aku tak butuh merebut laki laki dengan wanita penyakitan, apa itu benar, Clara." aku mengangkat alisku sebelah. Menampilkan wajah yang menjijikan untuk menatapnya. Wajahnya merah, entah emosi atau malu. Tapi untuk malu kayanya tidak mungkin, toh dia masih bangga dengan hasil yang di rebut olehnya.
Bibi membawakan minuman dan cemilan.
__ADS_1
Aku menerima dengan ramah, "Terimakasih ya, Bi. Bibi tau aja aku kangen gorengan ini." usap ku pada bahu Bibi yang sudah masuk usia sepuh.
"Jangan terlalu capek ya, Bi. Kalau dia menyulitkan Bibi karna katanya dia penyakitan. Suruh aja Tuan panggil nanny ya, Bi. Jangan sungkan, ya. Apa nanti aku saja yang bilang ya.. Kasian kan Bibi kalau harus menjaga orang penyakitan." aku melirik wajahnya yang merah padam dengan sorotan matanya yang mau memangsa.
"Iya, Non. Terimakasih.. Tapi memangnya Non Clara akan lama di sini, Non." tanyanya polos.
"Ya mungkin saja, Bi. Kan dia mau merebut suamiku. Harus bertahan lama lah dia di sini." aku menatap rendah wajahnya.
"Bibi kembali ke dapur, sekarang!!!." bentaknya.
Bibi kaget, tubuhnya bergetar.
Aku menatap tajam kearahnya, "kamu siapa, Clara. Beraninya membentak Bibi di hadapanku. Kamu yang seharusnya pergi dari sini, bukan Bibi."
"Dasar wanita murahan." ucapku lantang.
"Apa maksudmu!!! Siapa wanita murahan!!." bentaknya.
"Entahlah siapa yang merasa menyodorkan diri kepada laki laki di saat mabuk." sinis ku.
Aku meminta Bibi kembali ke dapur, setelah tubuhnya sedikit tenang.
"Bibi pulanglah, istirahat dulu di rumah ya. Besok aja ke sini lagi." ucapku lembut.
__ADS_1
"Baik, Non. Tapi kalau nanti Tuan marah gimana? Soalnya Bibi gak boleh pulang selama Non Clara di sini." Bibi menunduk lesu, terlihat di wajahnya rasa lelah. Biasanya Bibi akan datang di waktu pagi dan sore aja, itu pun kalau kami pinta. Sekarang dia harus seharian dan bahkan menginap untuk menemani wanita simpanan itu, Mas Reza keterlaluan.
"Pulanglah, Bi. Biar Tuan urusan saya. Dan jika Bibi di marahin makan berhentilah. Nanti setiap bulan saya yang akan membayar Bibi tanpa harus bekerja melayani wanita simpanan ini. Bibi juga gak mau kena dosa berzinah kan, pergilah." pintaku dan di anggukan cepat oleh Bibi.