DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PASRAH


__ADS_3

Setelah kepergian Mas Gaga, hatiku terasa sesak.


Saat melihat wajah Clara dan Mikola yang sudah amat ku sayang. Mikola anak sekecil ini, di manfaatkan oleh ibunya hanya untuk kepentingan pribadi.


Setelah membaca semua dokumen dan bukti yang di serahkan oleh Mas Gaga, aku bingung harus bersikap.


Wajah Papa yang sudah tidak bisa menahan diri untuk menahan rasa kecewanya. Mengajak Mama pulang dan aku yakin saat ini Mama sedang menangis saat ini.


Aku menatap wajah malaikat kecil yang sedang tertidur lelap. Betapa lucunya dan bahagianya jika dia bisa sehat dan berlari kesana sini bersamaku. Seketika aku teringat Edward putra Bella. Dia putra kandungku tapi aku tidak berhak memilikinya, bahkan mendapat pengakuannya pun aku tak berhak.


Apakah boleh aku serakah untuk mendapatkan Edward. Tapi aku teringat ucapan Mas Gaga tempo lalu.


"Aku tidak berhak dan bahkan tidak mampu berharap." gumam ku.


"Ada apa, Mas? Tadi kenapa Mas Gaga menyebut nama Mikola?." tanya Clara.


Aku sudah enggan menanggapi pertanyaan dari dirinya. Melihatnya pun sudah muak.


"Mas..." tanyanya lagi.


"Nanti kamu tau sendiri. Aku pergi, jaga Mikola." aku meninggalkan Clara yang masih menatapku penuh tanya.


"Jangan pergi tanpa menjelaskan apapun, Reza!." tahannya.


Aku menepis tangannya, jijik aku mengingat wanita yang ku perjuangkan dan ku lindungi selama ini ternyata banyak bermain pria di luar sana.


"Nanti kamu akan tau, toh ini semua hasil dari apa yang kamu lakukan." ucapku.

__ADS_1


Hatiku kalut, baru kemarin aku mengenalkan Mikola sebagai putraku kepada umum dan mengumumkan Clara sebagai ibunya. Tapi kini semua itu bukan milikku. Hukuman ini terlalu berat untukku, aku menyakiti wanita yang begitu tulus padaku dan anak dalam rahimnya sekaligus. Kini aku merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya.


Tanpa terasa aku sudah ada di depan rumah Bella. Ada Edward yang sedang berlari mengejar Mas Gaga dengan berteriak memanggil "Daddy". Air mata yang tidak bisa aku tahan tiba tiba membasahi pipiku. Andai saat itu aku tidak menyakiti hati Bella, mungkin saat ini akulah orang yang di kejar Edward saat ini.


Dia begitu bahagia memeluk Mas Gaga dan menciuminya dengan mesra. Di sisinya Bella merangkul mesra pinggang Mas Gaga.


Hatiku perih melihat mereka, apakah aku manusia serakah yang jahat, hatiku tidak senang melihat mereka bahagia. Sedangkan aku sedang berduka.


Aku ingin Edward memanggilku Papa, aku ingin Bella memelukku dengan mesra. Itu semua yang harus aku miliki. Aku yang seharusnya ada di posisi bahagia itu.


Aku menuju ke mension Abraham. Aku ingin tahu pendapat dari kedua orang tuaku.


Mama Papa sedang duduk di ruang tengah saat aku sampai.


"Duduklah, Za. Mari kita bicara." ucap Papa menatapku.


"Tinggalkan, Clara. Lepaskan Mikola."


Aku menatap tak percaya kepadanya, Papa sudah bisa menerima kalau Mikola bukan cucunya. Lantas bagaimana denganku?


"Tapi, Pa. Mikola.." bantahku.


"Dia bukan anakmu! kembalikan, dia. Untuk Clara, sudah saatnya kamu melepas wanita ****** itu." ucap Papa tanpa menatapku.


Aku melirik Mama yang hanya diam, matanya merah dan pipinya masih basah. Mungkin tadi mereka menangis juga karna kecewa. Hidung Papa pun masih merah. Ini keputusan dari mereka setelah mengetahui kebenaran ini. Apa aku bisa?


Aku menunduk diam. Aku sangat menyayangi Mikola. Untuk Clara aku tidak perduli lagi padanya, tapi Mikola.. Dia sudah ku anggap putraku sendiri selama ini. Dia yang membawaku dari keterpurukan saat kehilangan Bella. Kini dia juga menjadi bom waktu yang menghancurkan hatiku.

__ADS_1


"Baik, Pa. Aku akan lakukan apa yang kalian minta." aku menunduk menahan air mataku.


Aku ingin bercerita bahwa Edward adalah putraku pada mereka, tapi aku teringat akan diriku sendiri. Aku tidak ingin membuat mereka merasa bahagia hanya sesaat. Bagaimana jika nanti mereka tidak bisa menerima kesepakatan ku dengan Mas Gaga?.


Mereka sudah lama menyalahkan ku karna menyakiti Bella dan sampai kehadiran Mikola. Tapi jika mereka tau, bahwa Bella pergi dalam keadaan hamil muda dan sendirian. Aku akan di amuk dan entah apa lagi yang akan terjadi. Untuk saat ini aku tidak mampu menerima kebencian lagi. Hatiku sedang terluka, aku butuh kedua orang tuaku.


"Ingat, Za. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab mulai hari ini. Untuk masa depanmu dan kehidupan lebih baik. Inilah balasan atas keegoisan mu dan Papa harap ini jadi pelajaran sekaligus kesalahan yang tidak akan kamu ulangi lagi." nasihat Papa untukku. Aku mengangguk.


"Nak.. Mama harap sekarang kamu bisa mendapatkan wanita yang tulus dan segera memiliki keluarga yang bahagia." Mama mengusap kepalaku.


"Dan ingat! Jangan pernah kamu mengganggu kehidupan Bella. Walau pun itu baru niat di hatimu. Papa tidak akan mentolerir apapun tindakanmu yang akan menganggu kebahagiaan mereka." ancaman Papa seakan sudah bisa membaca hatiku. Hatiku iri dan dengki melihat kebahagiaan Bella saat ini. Aku memang sempat memiliki niat ingin mencari cara mendapatkan hak asuh Edward. Tapi sepertinya Papa bisa membacanya.


"Lupakan masa lalu, jalani hidupmu yang baru nak. Jika kamu perlu waktu mengobati luka mu, pulanglah ke Mension putih biarkan Papa Mama di sini sementara waktu ya kan, Pa?." saran Mama memang benar, untuk menghilangkan niat jahat ku sepertinya aku harus pergi sementara mungkin selamanya.


Papa tidak menjawab, hanya mengangguk kecil.


"Baiklah, Ma Pa. Besok aku pulang ke mension putih. Aku akan mengantikan pekerjaan Papa di sana." ucapku.


Mereka mengangguk.


Aku pergi ke kamar untuk mengemas pakaian dan beberapa barang yang akan ku bawa nanti. Setelah mengetahui kalau Edward putraku, aku mengambil fotonya saat ulang tahunnya tempo lalu. Aku mengusap fotonya yang mengemaskan, hatiku ingin sekali membawa foto tersebut. Tapi aku harus fokus pada diriku saat ini, biarkan mereka bahagia pada jalurnya dan aku pun harus mencari kebahagiaanku sendiri.


Aku meletakkan fotonya pada dadaku. Menatap wajahnya yang mungil membuat hatiku tenang.


"Andai saat itu Papa menyadari kehadiranmu, Nak. Mungkin saat ini kita bersama. Tapi saat itu Papa bodoh, Nak. Kehadiranmu bukan hanya tidak di sadari olehku, bahkan aku melepaskan Mamamu dengan nafsuku sendiri. Jalan yang Papa ambil suram, Nak. Semoga kelak kamu menjadi lelaki yang penuh tanggung jawab dan penuh kehangatan. Papa mencintaimu, sekali saja datang pada mimpi Papa nak, panggil Papa untukku yang pertama dan terakhir. Papa tidak akan meminta banyak padamu, karna Papa banyak berhutang kepada kalian. Datanglah nak, panggil Papa untukku." aku mendekap erat fotonya yang sedang tersenyum duduk di atas kursi. Di depannya ada kue ulang tahun.


"Edward Putra Gaga.. harusnya Edward putra Reza atau Edward putra Lincoln. Karna kamu anakku, Nak." tak terasa aku menangis. Kenapa nama orang lain yang tertulis di namamu, membuat hatiku semakin sakit.

__ADS_1


__ADS_2