DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
MERIANG,


__ADS_3

"Sayang... lagi apa?" melingkarkan tangannya ke pinggulku.


"Ah, mengagetkanku saja, Mas."


Hembusan nafasnya menderu menganggu lamunanku. ******* dajjal seenaknya keluar dari mulutku. Membuat Mas Gaga semakin liar. Mas Gaga menghujani kecupan kecil di sepanjang leherku.


Aku menggeliat geli, 'Dasar tubuh tidak bisa di ajak kompromi. Aku sedang tidak mood tapi tubuhku menginginkannya.'


"Sayang, beri aku waktumu malam ini, ya." mengecup tulang selangka ku. "Fokuslah padaku malam ini, sayang." ******* nafasnya menggodaku.


Aku mengangguk, berbalik memeluknya.


'Kasian sekali suamiku, beberapa Minggu ini selalu ku tinggal tidur atau tinggal menginap di rumah sakit.'


Dia membasahi wajahku dengan ciumannya, hingga nafasnya tersengal. Ciuman kami bertemu begitu lama, tubuh kami saling merindu. Rindu akan kasih sayang dan sentuhan demi sentuhan yang nikmat.


Menikmati malam indah yang panjang, kami saling beradu mencari kenikmatan yang kami inginkan.


"S - sayang..." erangku.


"Kenapa sayang, ada yang gak nyaman?." nafasnya tersengal menghentikan permainannya.


"Bu - kaan, sayang... lebih keras." wajahku sudah semerah udang rebus, mungkin. Menikmati permainan lembutnya yang menantang ku.


Senyumnya bangga, "Siap melayani, Nyonya." bibir kami beradu hingga nafas menggebu.


Permainannya semakin menantang, aku semakin tertantang.


"Ah.. Mas, kamu nakal.." aku membalik tubuhku. Kini ia berada di bawah kungkungan ku. Dia tertawa puas.


"Sekarang biarkan Nyonya, yang memberikan pelajaran." gemasku sudah tak tahan merasakan kenikmatan yang ku dambakan. Dia sengaja mempermainkanku.


"Baiklah, Nyonya." dia mengangkat kedua tangannya keatas. Dengan pasrah menyerahkan dirinya padaku. Tanpa basa basi, ku serang sebrutal naluriku.


Dia mengerang menikmati serangan yang kulakukan.


"Aah say - yang... Jangan di buat tanda di situ.." rintihnya saat ku kecup dalam lehernya.


"Kenapa, sayang. Kamu tak suka dengan tanda cintaku?." godaku dengan menyentuh dadanya. Meraba bagian bagian sensitifny, menyiksanya dengan nikmat.


Erangannya semakin dalam, "Nyonya... tolong perlihatkan cara pelayanan yang terbaik." desahnya.


"Tunggu dong, masih banyak waktu." godaku.


"Jangan menyiksaku, sayang..." rengeknya.


Aku puas berhasil membuatnya tak tahan.


"Jawab dulu, kenapa tidak mau ada tanda cintaku di lehermu?." aku mengerucutkan bibirku.


"Aku besok ada meeting penting, sayang. Kalau hari biasa terserah mau kamu buat berapa pun. Kali ini please, jangan ya.." pintanya.


Aku mengangguk. 'Tapi sayangnya, aku sudah membuat sedikit tanda itu berwarna.' Hihi


Aku bermain dengan puas, saat detik detik pecahnya lumpur Lapindo. Dia yang sudah tidak tahan membalikkan tubuhku kembali, dengan sekali hentakan dalam lepaslah semua benih benih cinta kami malam ini.

__ADS_1


Peluh membasahi wajah kami, tapi saling mengulum bibir hingga detik terakhir menikmati kenikmatan bercinta.


"Rasanya semakin hari permainanmu semakin ganas, sayang." belainya.


"Aku belajar darimu, Mas." tawaku.


"Aku semakin hari semakin mencintaimu." kecupnya pada keningku.


"Akupun sama, Mas. Semoga tidak ada penghalang dalam rumah tangga kita ya, Mas." aku memeluk tubuhnya yang polos yang terasa hangat.


"Aamiin sayang, jika ada salahku, kurangku jangan kamu pendam. Bicaralah denganku langsung ya, sayang." pintanya.


Aku mengangguk, "Begitupun diriku ya, Mas. Jangan pernah bosan dengan diriku, sifatku dan sikapku." aku membenamkan wajahku di dalam dada bidangnya. Hingga kami berdua terlelap dalam keadaan polos dalam selimut.


Malam yang indah berganti dengan udara segar dan fajar yang menyingsing.


"Sayang... tutup dong tirainya. Aku masih ngantuk.." rasanya cahaya menusuk mataku.


"Nyonya ku sayang, hari sudah siang. Anak anak sudah menunggu untuk makan siang." dia mengecup keningku dan bibirku.


"Oh astaga, aku lupa. Apakah waktu sarapan sudah lewat?." aku mengucek mataku, mengumpulkan nyawaku yang masih berserakan.


"Lihatlah jam di depan sana." Mas Gaga menunjuk jam dinding tepat lurus di depanku.


"Ya Allah, sudah jam segini.." aku bangkit dari tempat tidurku. Menarik selimut ke dadaku.


"Kamu nakal ya, sayang. Tanda cintamu ini membuat aku di goda Ricardo." menyodorkan teh hangat.


Aku tersenyum nakal, "Di goda di rumah apa di kantor, Mas?." suara manjaku.


"Di rumah, pas sarapan. Edward sampai menggelengkan kepala, aku malu jadinya." menyuapiku buah pepaya.


"Yeh puas sekali ya kamu menggodaku, sayang. Aku minta pertanggung jawabanmu." gigit tipis telingaku. Membuat panas wajahku.


"Ma-as... jangan main main, ah. Tanggung jawab ap - paa" desahku.


"Boleh kalau mau di lanjut, meetingku sudah selesai. Yuk yuk.." menarik selimut di dadaku.


"Mas.. kasian anak anak tunggu." aku bangkit dari tempat tidur dengan tergesa gesa meninggalkan singa yang meraung.


"Yah.. curang kamu.. Tunggu saja nanti malam.." setengah teriak.


Aku berlari masuk ke kamar mandi.


Ku pandangi tanda yang tertinggal di sekujur tubuhku. Rasanya tak adil bagiku, Mas Gaga hanya satu tanda di lehernya. Lihatlah tubuhku, dari atas hingga ke bawah penuh dengan tanda.


Aku membasahi tubuhku dengan air dingin, sejuknya menembus syaraf yang lelah akibat pertempuran semalam. Tubuhku kembali segar, rasa lemas hilang. Aku bergegas membersihkan tubuhku yang kembali kepengaturan normal.


Aku bergegas menuju ruang makan, melihat anak dan suamiku menungguku sambil bercengkrama ria.


"Hai, Mom.." sapa Edward.


"Hai, sayang.. Hai, Wina.." aku menatap putriku yang asik memainkan makanannya dengan sendok.


"Maaf ya, sayang. Mommy kesiangan." aku malu setengah mati. Ini semua akibat nafsuku yang kelewat semalam. Aku sampai melakukan berulang kali dalam semalam.

__ADS_1


Aku melirik Mas Gaga yang senyum senyum tipis.


"Ya, Mom. No problem. Bisa makan sekarang?." tanyanya dengan ekspresi datar.


"Iya sayang, kita makan." aku sudah terbiasa dengan ekspresi wajah anakku. Dia hanya bersikap manis pada adiknya.


Di depan kedua orang tua, dia malah terlihat dewasa tanpa ekspresi. Hanya ada wajah datar, suara berat dan cueknya. Tapi dia anakku yang luar biasa.


"Ma-mam.. Ma-mam.. " celoteh Wina yang kini sudah masuk fase MPASI.


"Wah... pintarnya anak, Mommy. Sudah bisa makan sendiri, ya. Makan yang banyak ya sayang, Mommy." aku mengecup kepalanya. Aku membiasakan Wina makan sendiri dengan tangannya, walau baju berlumpur makanan tapi aku suka mengajarkan anak sedari diri tentang kemandirian.


"Mom, Dad.. aku sudah selesai. Aku akan bersiap untuk berangkat les. Silahkan lanjutkan makan kalian." Edward pamit.


Aku mengangguk.


"Iya, silahkan Nak. Nanti berangkat bersama Daddy, ya." ucap Mas Gaga.


"Iya, Dad."


"Kamu berangkat ke kantor lagi, Mas?." tanyaku sembari mengelap kening Wina yang berhamburan makanan.


"Iya sayang, masih ada yang harus aku kerjakan. Aku pulang hanya untuk membangunkanmu, karna selain aku. Tidak ada yang akan membangunkanmu." mengedipkan mata menggodaku.


Aku menepuk lengannya pelan.


"Sudah makannya, sayang. Sini Mommy bantu rapihkan, ya." aku mengelap wajah Wina.


"Bi.. Bibi.."


"Iya, Non.." sahut Bibi.


"Maaf, Bu. Wina sudah selesai makannya. Tolong bereskan ya, biar Wina saya yang bersihkan." aku mengangkat Wina dari kursi makan bayi.


"Mih-mih.. " celotehnya.


Dia menganggil diriku dengan suara khasnya.


"Aku bersihkan Wina dulu ya, Mas." pamitku pada Mas Gaga yang sedang minum.


"Iya, sayang."


"Mih-mih, mam-mam, neh... "


"Tadi habis makan, sekarang minta susu. Nanti ya, bersihkan badan dulu. Baru nanti kita minum susu, ya." aku mengelap tubuh mungil yang penuh dengan daging.


Aku mengenakan dress panjang lengan pendek berwarna pink. Ku tambahkan sepasang pita kecil di rambunya yang ku kuncil kuda. rambunya lebat tapi masih pendek, jadi kuncir rambutnya tertutup oleh pita yang kupasang. Ku kenakan kaos kaki tipis serta parfum khas bayi.


"Sayang.. Wina.." panggil Mas Gaga.


"Iya, sebentar."


"Sayang, Daddy dan kakak sudah menunggu, yuk kita keluar." ajakku pada Wina. Bergegas keluar kamar.


"Wah.. cantik sekali anak Daddy, ini." dengan nada manja anak kecil.

__ADS_1


"Iya dong, Daddy." jawabku menirukan suara bayi.


"Sayang, kakak berangkat dulu ya. Nanti kita main lagi ya." Edward mencium pipi adiknya dan bersalaman pada Wina. Dia mengajarkan Wina untuk belajar bersalaman.


__ADS_2