DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
JENGUK


__ADS_3

Kondisi Mikola sudah stabil. Bisa bercanda dan bermain lagi walau belum di izinkan keluar dari rumah sakit.


BRAK ....


"Maaf maaf, saya tidak sengaja.." ucapku


Aku membentur tubuh seseorang yang lumayan bertubuh besar. Karna terasa sakit di bahuku.


Aku mengambil barang bawaan ku yang jatuh dan mengarahkan wajahku ke atas. Seorang pria berkumis tipis dengan mata yang tajam. Bola matanya merah seperti habis menangis dan terlihat jelas di hidupnya yang merah.


"Anda gak apa-apa?." dia menyodorkan tangannya padaku.


Aku menolak dengan sopan, "Aku tidak apa apa." bangkit ku.


"Maaf, saya tidak sengaja. Saya terburu buru." ucapnya.


"Iya tidak masalah." aku melambaikan tangan.


"Hmm, apa anda habis menjenguk Mikola?." tanyaku. Karna melihatnya keluar dari kamar Mikola.


Wajahnya terlihat panik dengan mengerakkan kepalanya kanan kiri seperti mencari sesuatu tapi apa yang di cari di lorong ini. Hanya ada kamar Mikola di ujung jalan ini.


"Tidak, saya salah masuk. Permisi." dia meninggalkan ku dengan jalan cepat melewati pos perawat.


Kenapa sepertinya ada yang aneh, ah aku berpikir yang berlebihan. Mungkin saja memang benar salah masuk.


Aku langsung masuk ke kamar Mikola. Kagetnya tidak ada satu orang pun orang dewasa di sana. Hanya Mikola yang tidur dan ada botol susu masih tersisa sedikit di tangannya.


"Dad-dy..." ucapnya mengucek matanya.


"Eh, anak ganteng sudah bangun. Sini sama Tante ya.." aku menggendongnya.


"Dad-dy.." tanyanya.


"Daddy kerja sayang.. Nanti sore Daddy-nya pasti datang ke sini." ucapku mengusap punggungnya.


Aneh, kenapa anak ini sendirian. Kemana Clara dan yang lain. Apa Mama dan Papa tidak ada di sini juga bahkan perawat pun tidak ada.


Terasa sedikit aneh di hidungku. Ada bau yang baru saja ku hirup di luar sana di tubuh Mikola. Aku mengendus aroma di pakaian Mikola dengan teliti.


Ini seperti bau yang ku cium saat bertabrakan dengan orang tadi di luar. Lalu aku ingat, bahuku sebelah kiri menyentuh tubuhnya hingga aku terguncang.


Aku mencium cium bahuku menyamakan bau baju Mikola.


"Benar.. ini tidak salah lagi. Anak ini tadi di gendong orang itu. Dan melihat dia masih memegang botol susu dengan sisa susu sepertinya baru di seduh." gumam ku.

__ADS_1


"Kemana Clara! Seorang ibu meninggalkan anaknya yang sakit sendirian tanpa pengawasan siapapun. Benar benar gila."


Aku langsung menelpon Glen dan meminta siapapun datang ke rumah sakit. Aku tidak mungkin menelpon langsung Mas Reza, aku tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya.


"Tolong beritahu siapapun, Glen. Di sini tidak ada siapapun. Di mana ibunya, jangan tanya padaku karna aku tidak tau. Aku tidak bisa lama di sini. Anakku di rumah, tolong segera beri kabar." pintaku pada Glen.


Selang waktu dua puluh menit, Davina datang dengan Mama Syarina. Dengan tergesa dia masuk ke kamar.


"Bella, bagaimana Mikola." tanya Mama dengan cemas.


"Dia tidur, Ma. Ini susunya." aku memberikan botol susu pada Davina.


"Astaga, kemana Mamamu nak? Kamu sendirian di sini kasian, sekali." Mama mengusap rambut Mikola.


"Kamu bersama Mama?." aku menoleh ke arah Davina.


"Ya, tadi Mama sedang di butik bersamaku. Glen menelpon Mama dan bertanya tentang Clara. Kami sendiri tidak tau, Mama dari siang bersamaku. Lalu kami langsung ke sini setelah tau Mikola sendirian." ucapnya.


Davina menatap Mikola yang sedang pulas dengan wajah iba


Aku mengangguk, " Baiklah, aku pulang ya. Karna Edward di rumah bersama Ricardo. Aku tidak enak meninggalkannya lama." aku membereskan tasku.


"Oh ya, Ma. Maaf, tolong lain kali persiapkan seorang perawat yang standby di sisi Mikola ya. Jangan sampai kejadian ini terjadi lagi." ucapku pada Mama.


"Iya Bell, terimakasih kamu sudah datang dan menjaga Mikola." ucap Mama menatapku.


Aku menuju kantin rumah sakit, kebetulan Edward senang sekali roti dari kantin. Mungkin karna awal kehamilan sering sekali makan roti di sini. Sampai kemarin aku beli hanya dua untuknya dia nangis minta lagi.


Memang gembul anakku itu, makannya lahap dan susunya pun kuat sekali.


"Terimakasih.." ucapku pada kasir.


Aku keluar arah parkiran. Ada sesuatu yang mengganggu pengelihatan.


Lelaki yang tadi menabrak ku dan yang aroma tubuhnya menempel pada Mikola ada di ujung basemen rumah sakit.


Sedang berbicara dengan seseorang, walau tidak terdengar. Tapi bisa di pastikan mereka sedang bertengkar. Raut wajah serta gerakan tangannya terlihat jelas emosinya.


Dengan siapa dia berbicara? Seketika jiwa detektif ku muncul.


Aku penasaran, kenapa dia berani mengendong Mikola apa alasannya. Dan kenapa dia bilang salah masuk bahkan setelah dia menggendongnya. Lantas wajahnya yang di penuhi basah dan genangan air di matanya.


Aku mendekat perlahan secara natural. Toh arahnya sama saja jika kita mau ke parkiran.


"Clara, cukup!." bentak lelaki tersebut.

__ADS_1


Aku hampir saja melepaskan kantong roti di tanganku karna kaget mendengar dia menyebut nama "Clara".


Jantungku dag dig dug. Apa benar Clara itu?


Aku duduk di bangku di deretan basemen.


Kakiku sedikit lemas, tapi jiwa detektif ku belum hilang.


Kejanggalan dalam raut wajah Clara selama Mikola sakit, sikapnya merawat Mikola sampai saat tadi lelaki itu masuk tanpa ada dirinya di dalam membuatku semakin penasaran.


"Clara, dia anakku. Biarkan aku membawanya. Dia akan sembuh jika aku membawanya. Aku tau cara mengobatinya, Clara. Tolong biarkan dia pergi bersamaku demi hidup, nya." lirih lelaki itu. Jelas aku mendengar percakapan mereka. Karna aku di sebelah mereka.


Walau wajah "Clara" itu tidak terlihat.


"Cukup, aku sudah bilang kan. Dia milikku dan kamu tidak berhak untuk mengakuinya. Ya walaupun dia anakmu, tapi aku tidak perduli dia sehat atau sakit. Yang penting dia hidup. Fredy.. sekarang kamu kembali ke tempatmu." ucapnya.


Astaga... kejam sekali ucapannya itu. Dia wanita, seorang ibu pastinya. Karna mereka sedang memperebutkan seorang anak.


"Kamu egois, Clara. Kamu tidak pantas menjadi seorang ibu!." bentaknya.


"Aku tidak pernah ingin menjadi ibu, aku hanya ingin memiliki semua yang seharusnya milikku, mengerti." jawabnya.


Aku menelan saliva dengan kasar. Menghembuskan nafasku dengan kasar.


"Kamu serakah, Clara. Semua yang kamu inginkan bukan milikmu. Aku bisa memberikan apa yang ku miliki, semua. Tapi kamu hanya terobsesi dengan gelar nyonya Lincoln Abraham. Bukan begitu Nyonya Clara Lincoln." ucapannya penuh kata sindiran dan ledekan.


"Apa Tuan Lincoln tidak bisa memberikanmu anak! Kasian sekali sampai harus mencari sumbangan ****** dari lelaki lain. Sampah!." umpatnya.


PRAK ..


"Cukup! Jangan bangga kamu Fredy. Hanya kebetulan milikmu yang tumbuh di rahimku. Lagipula bukan kah kamu tau, siapa saja yang tidur denganku. Aku tidak mau hartamu yang sedikit itu. Pergi kamu!."


Kali ini aku benar benar bergetar hingga tidak mampu bergerak. Kaki dan seluruh tubuhku lemas mendengar kenyataan ini. Mereka yang berbuat, kenapa aku yang merasakan malu. Tidak bisakah mereka berbicara tidak sefrontal itu mengenai hidup seorang anak kecil. Aku takut ada orang lain yang mendengar ucapan mereka, aku melirik sekelilingku. Banyak orang yang berlalu lalang. Tapi aku bersyukur karna mereka semua tidak peduli dengan mereka berdua di ujung basemen.


Aku bangkit dan lari kembali ke ruangan Mikola. Aku menahan tangis ku sepanjang jalan. Hingga aku berhasil memeluk tubuhnya yang mungil. Aku memeluk erat tubuh bayi yang tidak berdosa ini. Yang harus hidup sebagai topeng ibunya dan bahkan di pisahkan dari ayahnya.


Aku meneteskan air mata, kembali teringat saat tadi dia memanggil dad-dy di hadapanku. Mungkin benar, lelaki itu Daddy-nya dan tadi mereka bersama.


"Bella. Ada apa, Nak?" Mama Syarina mengusap bahuku. Aku menggelengkan kepalaku.


Aku mengembalikan Mikola ke tangan Davina yang masih kaget karna tadi aku merebutnya.


"Aku tidak apa, Ma. Aku hanya teringat Mikola saat.. " aku melirik kantong roti di kakiku. "Saat membeli roti untuk Edward tadi." aku mengusap air mataku.


"Cepat sehat, Nak. Biar bisa main dengan kakak Edward ya." usap kepalanya.

__ADS_1


"Aku pamit, Ma. Dav. Dah sayang, Mikola nya tante." aku meninggalkan ruangan untuk ke dua kali. Aku melirik wajah Mama dan Davina yang nampak kaget dan penasaran. Tapi aku tidak ingin menjelaskan apapun.


__ADS_2