
"Kenapa Mas ? kok tegang si.." tanya Tante Rina.
Papa Surya tersadar.
Bangkit dari kursinya dan menghampiri Tante Rina.
"Hai, apa kabar kamu Rin ? Sudah bertahun tahun ya kita gak ketemu.. Betah ya di luar.." Papa Surya mengacungkan tangannya, mengajak Tante Rina duduk di sofa.
Tante Rina mengikuti Papa Surya duduk di sofa.
Menaikan kakinya di atas kaki satunya lagi.
"Ya begitulah Mas, aku lagi liburan. Kangen aja gitu kerumah Papa.." ujar Tante Rina. Yang sebenarnya sudah hampir 1 tahun di Indonesia. Dia tinggal di Depok dengan anak dan adik iparnya.
Untungnya Papa Surya tidak pernah bertemu dengannya. Dan di saat pesta pertunangan anaknya pun, Papa Surya tidak bertemu dengan Tante.
Karna tujuan Tante Rina hanya satu. Mengembalikan apa yang bukan miliknya kepada pemiliknya.
"Oh.. Kamu habis dari makam ?" tanya Papa Surya. Di anggukan Tante Rina.
"Kamu sendirian ?"
Tante menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mas, aku dengan anakku."
"Suamimu gak ikut pulang ?"
"Enggak mas, kebetulan disana gak bisa di tinggal. Lagi pula gak lama kok disini." jawab Tante Rina.
"Anak mu dimana ? kok gak di ajak kesini ?" Papa Surya menoleh ke arah pintu.
"Anakku langsung liburan mas, dia udah search daerah sini. Sudah jalan sama adik iparku."
Papa Surya mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Walau terlihat santai, tapi jelas di wajahnya kekhawatiran yang mendalam.
Tiba tiba suasana menjadi hening.
"Gimana perusahaan mas, proyek proyek lancar ?" ucap Tante Rina sontak membuat kaget Papa Surya.
"hmmm.. Alhamdulillah, lancar Rin. Kenapa, tumben kamu tanya perusahaan." tanya Papa Surya dengan nada sedikit curiga.
"Akh enggak mas, aku cuma tanya aja. Tadi si udah liat liat perubahan luar biasa banyak ya.. Jadi aku cuma pengen tanya aja." Tante Rina meminum tehnya.
Surat wasiat keluar.
Tiba tiba Rina pulang.
Apa ini gak kebetulan.
Sebaiknya ku selidiki.
"Oh iya mas, aku mau tanya.." Tante Rina memasang wajah sendunya.
"Tanya aja Rin.."
Deg
Apa lagi ini, anak ?
Apa bener semua bukan kebetulan.
Papa Surya diam seribu bahasa.
"Mas.."
"Belum Rin, aku udah coba cari sana sini.." ahli bermuka dua di mulai.
"akh.. semoga cepet ketemu ya mas, mungkin kalau ada dia sekarang sudah sebesar apa ya.. sudah dewasa pastinya. Cantik. Apa akan seperti Kaka atau Mas ya.." goda Tante Rina.
__ADS_1
"Mungkin cantik seperti Kartika Rin.."
"Iya ya Mas."
Keheningan kembali mencekam.
"Oh iya mas, anak laki laki Mas itu yang dari mbak Dewi dimana sekarang ?" dengan wajah polos Tante Rina bertanya.
Deg
Apa lagi ini ? mau ngorek semua dari aku..
"Mas.. kok diam ?"
Papa Surya menggaruk tengkuknya.
"Ada Rin, dia awalnya ikut Mamanya dan sekarang di adopsi keluarga Abraham."
Papa Surya bangkit dari sofa dan duduk di kursinya. Membuka laptopnya.
"Oh gitu, Mas sibuk ya.. maaf ya mas aku jadi ganggu. Kalau gitu aku pulang aja dulu mau istirahat."
Papa Surya tersenyum. "Kamu pulang kemana Rin ? ya aku memang selalu sibuk Rin."
Tante mengangguk dan bangkit dari sofa.
"Aku di hotel Mas..Ya udah aku pulang dulu ya bye Mas." Tante meninggalkan ruangan Papa Surya.
"*Sial.."
brak*..
Papa melempar file di hadapannya.
Tante tersenyum riang sampai di parkiran.
__ADS_1
"*Anak yang satu kau buang mas, yang satu kau berikan pada orang lain tanpa kenal kasih sayang ayahnya.."
"Sekarang sudah saatnya pecah telur mas*."