DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KELAHIRAN


__ADS_3

Aku kesal mendengar ucapan Reza langsung mengunci pintu, kamar.


Melihat dia menangis meraung keras seperti orang gila hanya karna bertemu Bella. Kenapa juga harus menangis, bukannya itu yang dia harapkan? Apa mungkin Bella sudah tak ingin kembali bersamanya.


Dengan darah yang bercucuran di lantai, dia terus meratapi nasibnya.


"Kesalahan di buat sendiri, sekarang malah aku yang di salahin. Yang mutusin milih aku ya kamu, kok aku yang di bilang menghancurkan." aku mendengus kesal mendengar ucapannya. Seakan semua salahku.


"Dia yang di anggap sampah sama mantan istrinya, gak mungkin juga Bella mau menerimanya lagi. Pisahnya aja di tinggal gitu aja, baguslah gak usah capek-capek drama lagi." aku menyisir rambutku.


"Adu duh.. sak kit..." aku mengelus perutku. Terasa sakit, panas, mules, perih dan gak nyaman.


"Ada apa si, kamu mau apa lagi. Kenapa gak bisa diem aja di dalam." aku meringis kesakitan.


"Apa kamu mau keluar? Bener kamu mau keluar?"


Aku ingat sekarang sudah masuk bulan di mana perkiraan aku melahirkan.


Aku berjalan menahan sakit, menggapai gagang pintu.


Berteriak sekuat tenaga yang ada, "Reza... Mbok, Glen, siapapun tolong.. bayiku mau lahir!!!."


Aku sudah tidak tahan berdiri, tubuhku ambruk di depan pintu sambil *******-***** bajuku.


"Argh ... tolong!!!"


Glen berlari ke arahku dari lantai bawah. Tangannya penuh darah, mungkin darah Reza.


"Tolong aku Glen!!!." teriakku melihatnya mematung menatapku.


"Ka- kamu.. mau melahirkan?" tanyanya tergagap.


"Iyaa bantu aku.." aku melambaikan tanganku.


"Tunggu, aku mau ambil dompet Mas Reza dulu." dia meninggalkan ku yang terdampar di depan pintu.

__ADS_1


"Glen!!!" teriakku.


Glen mengendong ku menuruni tangga.


Di dalam mobil sudah ada Reza yang dalam keadaan setengah sadar. Tangannya yang tersayat sudah di balut kain, hanya sedikit luka di wajah yang masih mengeluarkan darah.


Aku segera di larikan ke ruang bersalin, tapi aku sudah tidak sanggup untuk persalinan normal. Dan bahkan aku memang tidak ingin melakukan persalinan normal. Aku meminta di lakukan secara operasi. Aku di pindahkan keruang operasi dan aku berharap Reza menemaniku. Tapi apa daya dia sedang sekarat sekarang.


Aku harus melahirkan sendiri, hanya ada Glen yang membantu mengurus administrasi kami berdua.


Setelah selesai operasi selama masa pemulihan dari obat bius. Aku sendirian di ruang pemulihan. Melihat beberapa orang yang sedang melahirkan di temani suaminya hatiku merasa, pilu.


Aku baru merasakan hidupku kekurangan, di mana selama ini aku selalu menikmati setiap waktu yang ku miliki semauku. Tapi melihat tangis haru bahagia di dalam ruangan ini, hidupku benar benar kosong. Bahkan aku belum melihat wajah anak yang selama sembilan bulan itu di dalam perutku.


Yang aku tau, dia adalah seorang anak laki laki. Ada rasa bangga, aku melahirkan anak laki laki sebagai penerus keluarga Abraham yang selama ini ku inginkan. Tapi aku merasakan kekurangan dalam kebahagiaan ini, entah apa.


"Bu, tadi Ayah sudah mengadzani anak kita. Bayinya sehat tubuhnya bulat, Bu." cerita sebelahku.


"Mirip siapa, Yah?" antusias si ibu.


Iya benar, anakku mirip siapa ya? Aku jadi kepikiran, mirip diriku atau papanya. Jika mirip Reza aku sangat bersyukur, tapi jika mirip yang lain.. Aku harus jawab apa!.


Matanya, hidungnya, bibirnya akan mirip siapa. Aku jadi tidak sabar ingin melihat segera. Siapa yang mengadzani anakku, apa Reza sudah sadar saat ini.


Aku ingin memanggil Glen, ingin tahu kondisi Reza saat ini. Tapi tidak ada suster yang datang ke ruangan ini. Dan aku tidak di perbolehkan mempergunakan ponsel sementara waktu pemulihan.


Dokter bilang aku sedikit mengalami pendarahan, untung saja stok darah di rumah sakit ini ada golonganku. Jadi tidak merepotkan untuk mencari donor darah. Lagipula jika harus mencari, siapa yang carikan.


Entah kenapa perasaan ini muncul, aku yang selalu menikmati semuanya tiba tiba merasakan kehampaan yang mendalam. Tidak ada seorangpun di sisiku, bahkan Reza yang selalu menginginkan diriku kini hilang entah kemana.


"Apa benar kata Bella, aku ini simpanan yang akan di simpan saat tidak di pergunakan. Sekarang aku tidak di butuhkan jadi mana mungkin aku di cari." hatiku sakit, terasa sayatan tipis yang pedih terasa. Kenapa aku harus merasakan kepedihan ini.


Aku bahagia dan akan selalu bahagia. Aku mengusap air mata yang tiba tiba mengalir tanpa ijinku.


Aku merasa kehilangan diriku saat ini, diriku yang selalu merasa bangga dengan kebahagiaanku. Kini pilu yang ku rasa.

__ADS_1


Melihat drama romantis pasangan yang baru saja mendapatkan buah hati. Melihat mata setiap lelaki yang begitu haru menatap istrinya. Mengelus kepalanya dengan hangat dan mengecup tangannya, mengucapkan terimakasih dan selamat kepada istrinya.


Tapi aku!!!. Tidak ada siapapun di sisiku. Bahkan mungkin jika hari ini aku mati, tidak akan ada yang bersedih. Padahal hari ini aku telah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan seorang anak. Tapi jangan kan ucapan terimakasih bahkan ucapan selamat pun tidak ada. Hanya dari beberapa dokter di dalam ruang operasi tadi.


Aku sudah kehilangan banyak darah dalam pertempuran tadi, tapi tidak ada yang tahu sama sekali. Bahkan di luar sana banyak yang menunggu keluar dari ruang pemulihan ini, tapi aku tidak ada seorangpun yang menungguku.


Perih di hatiku mengalahkan perih di perutku. Mataku berkunang-kunang, merasakan kepedihan mendalam ini.


Siapapun tidakkah ada yang ingin memberiku selamat atau ucapan terimakasih telah berjuang. Aku berharap siapapun ada walau hanya satu orang saja.


Tiba tiba ada yang membuka tirai penutup tempatku berbaring, hatiku senang. Berpikir mungkin Reza yang masuk.


Aku sudah menantikan dengan harap.


"Hai Clara, selamat ya sudah melahirkan putra yang tampan dengan luar biasa."


Mataku terbelalak terkejut melihat sosok yang tidak terpikirkan akan menemui ku bahkan aku tidak mengharapkan kedatangannya.


Malah dia yang mengucapkan kata selamat yang pertama kali untukku.


Dia meletakkan buket bunga di mejaku dan mengulurkan tangannya. Aku dengan enggan meraih tangannya.


"Iya terimakasih." baru kali ini aku merasakan malu menghadapi orang lain. Aku malu dengan keadaanku saat ini.


"Kamu hebat Clara, bisa bertahan melahirkannya seorang diri. Bahkan dokter bilang kamu sempat mengalami pendarahan, benar?. Kamu luar biasa, terimakasih telah berjuang untuk hidup mu dan anakmu." dia mengusap tanganku. Egoku ingin menangkisnya tapi hatiku melarang. Aku hanya mengangguk kecil.


"Aku tadi sudah lihat anakmu, Clara. Bayinya sehat, tubuhnya tinggi dan hidungnya sangat mancung. Dan tadi maaf aku meminta Glen mengadzani bayimu, soalnya kamu taukan bahwa suamimu masih belum sadar akibat operasi kecil di lengannya." ucapnya lagi. Aku menatap tajam kearahnya.


"Siapa yang memberimu ijin membiarkan Glen mengadzani bayiku?."


"Maaf Clara, tapi bayi baru lahir harus segera di adzanin, kamu tahukan itu. Tapi sayangnya, Papanya tidak bisa karna kondisinya tidak memungkinkan. Jadi aku terpaksa meminta Glen yang mengadzani. Karna tidak ada lelaki lain selain Glen yang hadir, suamiku tidak ikut ke rumah sakit. Maaf ya." dia meraih tanganku menggenggamnya.


Benar, siapa lagi yang ada di sini kecuali Glen dan Reza yang sedang terkapar. Lagipula Glen juga yang tadi menggendongku kesini, lantas aku berharap siapa. Aku hanya bisa diam tanpa kata, aku kalah kali ini.


"Oh iya, Apa Papa eh Om Abraham dan Tante Syarina sudah di beri kabar, Clara?." tanyanya. Dia menatapku dengan lembut, di matanya tidak ada kebencian padaku. Bahkan dia juga orang yang pertama datang menghampiri ku saat ini. Apa Tuhan juga yang mengirimnya untukku saat aku meminta. Kenapa bukan orang lain, aku hanya akan bertambah malu dan terus merasa kalah di hadapan wanita ini.

__ADS_1


__ADS_2