DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
GUNDAH


__ADS_3

Bella mengakhiri telponya.


Kini dia harus bergegas lebih cepat dari sebelumnya.


Bella dengan serius melakukan Vidio call dengan seseorang di luar sana.


Seseorang yang membantunya mendapatkan kembali apa yang harusnya di milikinya.


"Sudah 50% mbak.."


"Bagus, aku mau liat batas mana mereka akan panik.." Senyum Bella merekah mendengar laporan dari seseorang tersebut.


Ferdy Raga


Anak dari Asisten sekaligus kepercayaan alm. ibunya Bella.


Karna Ayahnya sudah tua dan kebetulan berada di bawah perhatian dari Bapak Surya Hartanto ayah Bella.


Ya dia melindungi karna merupakan pisau tanpa sarung, seakan takut menusuknya suatu saat nanti.


Tapi dia tak pernah berpikir ada orang lain yang bisa menusuknya suatu hari nanti.


"Aku tunggu kabar selanjutnya ya bang.."


Bella membaringkan tubuhnya.


Capek dan lelah selepas membersihkan seluruh kontrakan yang berantakan.


Dering telepon berbunyi.


Diliriknya nomor tanpa nama.


Bella enggan menanggapi namun beberapa kali tak berhenti menelpon.


"Hall...."


"hai ******.."


Bella di kagetkan dengan suara tak asing di telinganya.


"kamu tuh gak ada otak ya, udah di bilang berkali kali masih aja ya.. gak kapok sama apa yang terjadi hari ini." Makian Davina di ujung telepon.


Bella tertawa.

__ADS_1


"Udah selesai bicara ?"


"kamu.."


Belum selesai bicara Bella langsung mematikan ponselnya.


Huh..


Bella mendengus.


Yang gak ada otak tuh kalian tau gak.. gila aja bertahun tahun hidup sembunyi dari kenyataan.


Udah punya pilihan sendiri, giliran salah pilih kok punya orang di paksa ambil.. Gila kali..


Bella gak habis pikir kenapa alm. ibunya dlu bisa mempercayai dan mencintai orang semacam itu.


Entah cinta itu buka atau mata ibunya.


Bella tak ingin ada yang tau ribet dan ruyem nya kehidupan dia saat ini.


Menjalani hari seperti biasa.


Mendatangi rumah mertuanya.


Menutupi identitasnya sebagai istri pemilik perusahaannya.


Bahkan menyembunyikan pula rencana ia mengambil alih perusahaan ibunya.


Semua berjalan seperti biasa.


Dengan teror dari Ayahnya.


Kata kata kotor adik tirinya.


Bella cuek.


Dia berpikir belum saatnya dia bertindak selama masih batas normal menurutnya.


Rumah berantakan, kaca jendela pecah, teror telpon ya itu normal.


Tapi Bella sungguh munafik menganggap ringan ancaman ayahnya.


Entah karna apa hati Bella risau pagi ini, seharian ini seperti ada yang mengganjal.

__ADS_1


Setelah menelpon suaminya, Bella melanjutkan pekerjaannya.


***


Brak..


Semua karyawan kaget.


"Bell cepet ikut aku ke rumah sakit, darurat sekarang.." Nafas terengah-engah Glen setengah berlari.


Bella dan Sisi saling menatap satu sama lain.


Seakan bertanya "ada apa?"


Tapi Glen tak memberi waktu lama berpikir.


Glen menarik tangan Bella segera.


Glen berlari langsung tanpa perduli ocehan Bella dan tanda tanya dari semua orang yang melihat.


Sisi mengirim pesan kepada Glen.


Dia bertanya ada apa.


Dan menunggu sang pujaan hati menjawab.


Kegundahan menyelimuti hati mereka.


"Ada apa?" pertanyaan itu mengiang di pikiran semua orang yang melihat Glen menarik tangan Bella dengan tergesa-gesa.


Bella hanya mengikuti nalurinya.


Ya dia yakin Glen tak kan seperti ini jika bukan masalah penting.


Ditatap punggung Glen olehnya.


Wajah panik dan kacau berusaha dia sembunyikan.


Bella berpikir banyak kemungkinan.


Tapi tak ingin pikirannya sendiri menghancurkan keyakinannya.


Bella hanya terus diam di tarik oleh Glen walau pergelangan tangannya sakit dengan tekanan yang Glen berikan.

__ADS_1


__ADS_2