DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
SURAT CINTA


__ADS_3

Sudah tiga hari aku tiba di tempat baruku. Bersyukur dalam perjalan tidak ada kendala yang ku alami bersama anakku.


"Sehat sehat ya, Nak. Terimakasih telah berjuang bersama Mommy, Nak." aku mengelus perutku sambil menikmati matahari terbit.


Aku tinggal di sebuah desa yang letaknya cukup strategis dengan rumah sakit. Karna kondisiku yang harus sering cek up kehamilan, aku tidak ingin melewatkan sedikitpun perkembangannya.


TRING ....


[Pesan Masuk Mas Gaga]


"Non, hari ini Tuan Reza kembali ke Mension. Apakah sudah bisa saya sampaikan surat perceraian kepadanya hari, ini?."


[Pesan Keluar]


"Baiklah, kirim aja sekarang, Mas."


****


Selama ini aku masih berkomunikasi dengannya. Aku hanya bersandiwara sedang perjalanan bisnis. Apa jadinya jika dia menerima surat cinta itu dariku.


KRING ... KRING ... KRING ...


"Cepat sekali responnya." aku tersenyum melihat ponselku yang berdering berulang kali.


[Pesan Masuk Mas Reza]


"Sayang angkat panggilanku, sekarang!"

__ADS_1


"Hey, siapa kamu memerintah diriku."


Berulang kali berdering membuat sakit telingaku.


"Halo, sayang. Apa maksudmu dengan semua ini. Kamu di mana sekarang!," suaranya penuh rasa kaget dan kepanikan.


"Ada apa, Mas. Kenapa gak suka dengan hadiah pernikahan dariku. Bukankah kalian menginginkan pernikahan, maka itu adalah hadiah untuk kalian dariku." ucapku santai.


"Kamu di mana? kita perlu bicarakan baik baik semuanya, sayang." bujuknya.


"Sudah tidak ada yang baik, Mas. Terimakasih kalian telah berhasil membuat hatiku mati rasa terhadap kalian. Selamat berbahagia, jangan lupa aku tunggu tanda tanganmu." aku mengakhiri telponya. Terdengar suara Mama menangis dan suara Papa yang sedang membujuknya.


"Maafkan aku telah melukai kalian, Ma Pa. Tapi kalianlah yang memulainya, aku hanya mengakhiri saja membantu meringankan beban kalian untuk terus membohongiku."


Aku melepas SIM card ponselku dan melempar ke sungai di ujung jalan desaku.


"Dapatkan tanda tangannya dengan cara apapun."


[Pesan Masuk Mas Gaga]


"Siap, Non"


Kini nomor telepon, suami, mertua dan bahkan keluargaku sudah ku lepas dengan ikhlas. Aku kembali pada diriku sendiri. Aku terbiasa sendiri. Kini hanya aku, anakku dan Mas Gaga yang tau di mana aku berada. Biar Tuhanlah yang menjaga kami, karna manusia tidak bisa di percaya apalagi cinta.


"Mbak.. dari mana?" tanya salah satu ibu tetangga yang melihatku dari arah sungai.


"Abis liat liat sungai Bu, airnya jernih dan deras ya." ucapku dan menghampiri mereka yang sedang duduk santai di teras.

__ADS_1


"Iya masih asri, Mbak. Beda ya sama di kota besar. Sini duduk, kita lagi ngerujak ni." ajaknya, aku ikut bergabung duduk bersama beberapa ibu dan wanita muda sekitar usiaku.


"Sering sering ngumpul di sini, biar gak kesepian." ucap salah satu wanita paruh baya.


"Iya Bu, terimakasih sudah menerima saya di sini." mengangguk dan tersenyum melihat ibu yang menyapaku dengan suara lembut dan menenangkan. Wajahnya cantik walau usia sudah tak muda.


"Kita ngerujak sini, ada jambu air sama manga muda. Tuh si Dira lagi ngidam." si ibu yang asik ngulek sambal gula merah menunjukan gadis muda berbaju merah di sampingku.


Melihatnya membuat air liurku menetes. Aku pun sama beberapa hari ini kadang ingin makan yang segar asam manis, tapi karna aku sendiri rasanya malas.


"Berapa bulan usia kandungannya, Mbak?" tanyaku.


"Baru masuk 4 bulan, Mbak." ucapnya malu malu sambil mengelus perutnya.


"Wah, selamat ya.. semoga sehat dan lancar semuanya." ucapku. "Perkenalkan nama saya Bella Saphira, panggil apa aja boleh." sambung ku mengulurkan tanganku.


"Iya, Mbak. Aku Dira." menerima uluran tanganku. Untuk ibu ibu yang lain kami sudah berkenalan pas hari pertama aku tinggal di sini saat beli, sayur.


"Mbak Rara juga lagi hamil, Dir." ucap ibu Darmi.


Aku mengangguk.


"Wah sama dong, sudah berapa bulan Mbak?" tanyanya.


"Baru masuk 8 Minggu kurang lebih 2 bulanan, Mbak." ucapku.


Kami menikmati santapan rujak bersama sama.

__ADS_1


__ADS_2