
"Aku apa... kamu ragu menceraikan istrimu? seharusnya kamu sudah ceraikan dia, sekarang dia sudah tau juga walau kamu belum kasih tau. Itu berarti, dia selama ini tidak mempercayai kamu sebagai suaminya, sayang. Selama ini dia mengawasi kamu, kamu mau hidup dengan wanita penuh kecurigaan? Sayang.. aku butuh jawaban secepatnya, kalau tidak. Jangan halangi aku pergi dari hidupmu lagi." dia mengancam akan meninggalkan aku.
Clara yang pengertian sampai merajuk seperti ini. Padahal selama ini dia tidak pernah mengancam meninggalkan aku, walau sudah aku beritahu pernikahan ku. Dia terluka pasti sakit sekali di anggap wanita simpanan, padahal dia tau kalau dia di hatiku nomor satu. Wanita lembut dan pengertian ini tersakiti. Aku mengusap rambutnya, ku kecup keningnya.
"Sekarang kita tidur dulu ya, sayang. Besok aku pikirkan jalan terbaiknya. Aku tidak akan melepaskan mu, kamu harus ingat bahwa kamu nomor satu di hatiku.
"Kami jangan lari dari pertanyaan ku.. Aku butuh jawaban segera mungkin." ucapnya dengan membenamkan wajahnya kedalam dadaku.
"Iya sayang, aku tau. Kamu tenang ya, aku sedang berpikir. Yuk kita tidur, sayang. Besok kita jalan keliling puncak ya." aku berusaha membujuknya, kali ini belum ada jawaban dariku.
Walau sebenarnya aku kecewa dengan sikap Bella, itu secara logis aku pun memaklumi. Yang jadi pertanyaannya dia tau dari mana, dia bukan wanita yang penuh curiga. Selama ini dia selalu mempercayai ku seratus persen.
Setelah kembali, aku harus tanyakan langsung.
Tapi bagaimana awalnya untuk bertanya. Rasanya aku malu untuk bertemu dengannya. Aku merasa bersalah telah menyakitinya, dia istriku yang sangat pengertian dan mandiri. Aku tidak pernah sedikitpun di buat kerepotan oleh masalah yang pernah di hadapinya.
Mungkin jika itu terjadi pada Clara, aku akan sangat repot dengan rengekannya. Aku mendekap tubuhnya yang tanpa busana, ku usap punggungnya dan ke kecup kepalanya.
__ADS_1
****
Aku menelpon Bella di taman belakang villa.
"Halo, sayang. Lagi apa?"
Terdengar suara dia sedang menguap dan mencoba bisa.
"Awuu baru bang gun.. ada apa, Mas?"
Aku tersenyum membayangkan wajah bantalnya saat menguap dan mengangkat tangannya, itulah kebiasaan di saat bangun tidur. Meregangkan otot, katanya.
"Aku di Mension kita lah, kenapa? Kamu sudah selesai pekerjaannya, ya pasti si kan kerjanya malam ya.. atau mungkin siang juga. Lanjutkan lah sesukamu, Mas." perkataannya menusuk ke hatiku, "sesukamu" ya benar memang aku telah menyakitinya dengan bersikap seperti ini.
"Kamu sudah tau tentang, Clara?" aku bertanya dengan hati hati walau pasti akan, menyakiti.
"Ya, aku tahu. Kekasih istimewa mu kan, Mas. Nikahi dia, Mas."
__ADS_1
Apa aku gak salah dengar, "nikahi dia" maksudnya Bella mau di madu?.
Aku berpikir sejenak, aku tau Bella benci dengan perselingkuhan. Karna itu yang dia rasakan akibat kedua orangtuanya. Dan parahnya itu yang aku lakukan juga.
Aku bingung harus bagaimana, tapi aku tidak mau melepas mereka berdua.
"Kamu yakin gak apa-apa, sayang. Kamu mau di madu?" ucapku lirih. Hatiku berdebar rasa takut mendengar jawaban darinya, lebih berat dari perebutan tender milyaran.
"Memang aku bilang aku mau di madu, Mas?"
Lah, lantas apa jika dia gak mau di madu memintaku menikahi Clara. Apa jangan-jangan...
"Kamu gak mikir perpisahan kan, sayang." tanyaku dengan nada sedikit menyelidik.
"Ya tentu aja, kita cerai dan kamu bisa menikah dengan kekasihmu. Oh ya, Mas.. aku sudah siapkan hadiah untukmu, empat hari kan kamu liburan di sana. Bersenang-senanglah."
TUT ....
__ADS_1
Lemas lutut ku, terasa gontai tubuh ini. Dia bilang perceraian dengan begitu lantang. Aku tau rasa sakitnya, tapi aku belum memutuskan apapun.