
Aku menyandarkan tubuhku pada kursi.
Aku menarik nafas lega, karna kali ini rapat bisa di selesaikan dengan damai.
Aku harus fokus dengan usahaku kali ini, pencarian Bella biar yang lain mengurusnya.
Jika Bella kembali dengan kondisi ku saat ini, apa aku bisa mengejarnya lagi.
Perusahaan nya sudah berdiri dua tahap dia atas ku dalam waktu satu tahun ini.
Aku tidak akan tertinggal, aku harus bangkit. Aku harus lebih banyak memiliki aset, karna aku harus membahagiakan Bella. Memberikan apapun yang selama ini belum aku berikan. Aku yakin Bella akan kembali.
"Lee, apa sudah ada titik terang tentang Bella?." tanyaku.
"Maaf, Tuan. Hingga kini belum ada. Kami sempat menemukan pengambilan rekening atas nama Nyonya muda di Swiss, tapi kami tidak berhasil menemukannya. Itu karna hanya terjadi sekali transaksi, kami kekurangan jejak."
Lee menyerahkan iPad ke padaku.
Ada jejak transaksi di Swiss atas nama Bella Saphira. Aku lega dia masih hidup, walau aku belum berhasil menemukannya.
"Lanjutkan pencarian." ucapku, Lee mengangguk.
Aku kembali mencoba memusatkan perhatianku pada pekerjaanku.
Aku ingin sekali bertemu Mas Gaga, aku yakin dia tau di mana Bella. Tapi selama ini hanya bisa bertemu saat yang tidak tepat. Kami bertemu dalam rapat saham, rapat tender dan rapat besar lainnya.
Dan setiap kali aku mencoba bicara, asistennya selalu menghalangiku.
Rapat kemarin pun sama.
"Mas Gaga.. tunggu sebentar, Mas. Aku mau bicara." aku mencoba meraih tangannya, tapi tanganku di tangkap asistennya.
"Maaf, Tuan. Tuan Gaga sedang sibuk, jika tidak ada janji silahkan kembali." berulang kali hanya itu jawaban asistennya.
__ADS_1
Aku sudah berusaha membuat janji, itu pun selalu tidak dapat.
***
Aku duduk di kursi sudut cafe.
Sambil asik memainkan pulpen di tanganku.
Tanpa sengaja aku melihat Mas Gaga masuk ke dalam toko pakaian dan mainan anak.
"Apa Mas Gaga sudah menikah, kapan. Kenapa tidak ada berita dan aku tidak tau." dengan penasaran aku mendekat ke toko itu.
Aku melihat Mas Gaga dengan teliti memilih pakaian anak laki laki dengan ukuran kurang dari lima tahun.
Aku melihatnya tersenyum setiap kali memilih pakaian tersebut. Dia meraba raba bahan dan bahkan menempelkannya di pipinya. Lelaki dingin itu memiliki sifat hangat dan lembut di dalam. Aku terharu melihatnya, mungkin jika anakku lahir. Aku pun akan bisa merasakan bahagia memilih pakaian untuk anakku nanti.
Dia mendekat ke arah pintu tempatku berdiri, memilih beberapa boneka berbentuk robot dan mainan lain.
"Berapa tahun usianya, Mas?" ucapku memberikan mobil truk panjang untuknya.
"18 bulan." ucapnya tanpa melihatku.
"Selamat ya, Mas. Kapan resepsinya kok aku gak di undang."
Kali ini dia sadar dengan ucapan ku, dia menatapku dengan tatapan dingin. Wajah yang tadi terlihat hangat dan lembut, berubah menjadi balok es seperti Gaga yang biasa ku kenal.
"Itu bukan urusanmu, permisi." dia pergi meninggalkan ku.
Aku menahan tangannya saat dia melangkah keluar dari toko pakaian anak.
"Mas, bisakah kita bicara sebentar. Aku mohon, lima menit." pintaku memohon padanya, aku enggan memohon kepada orang lain. Tapi demi Bella, aku harus lakukan itu.
"Untuk urusan apa?" jawabnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Pribadi." aku mengencangkan genggaman tangan ku di pergelangan tangannya.
"Aku mohon, Mas."
"Lima menit tidak lebih." aku melepas tanganku.
Melangkah mengikutinya masuk ke dalam cafe tempatku tadi melihatnya.
"Bicara sekarang." dia terus melirik jam di tangannya. Sepertinya waktu lima menit begitu mahal untukku. Aku kesal pada sikapnya, padahal dia hanya asisten Bella istriku. Demi menemukan Bella, aku harus bertahan.
"Di mana Bella, Mas?." tanyaku pada intinya.
Dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi, membuatku semakin tidak yakin dengan yang kulihat beberapa menit lalu. Dia tersenyum dan bahkan mengusap pakaian anak pada pipinya.
"Punya hak apa anda bertanya di mana, Bella."
DEG ... DEG ... DEG ...
Sakit hatiku, Mas. Benar punya hak apa, tapi apakah setidak layak itu untuk aku tau di mana keberadaannya.
Aku menatap matanya yang menatapku dingin hingga menembus ke hatiku.
Aku tidak bisa menjawab apapun, karna memang aku sudah tidak berhak. Aku hanya bisa diam dan menunduk.
"Lanjutkan lah hidupmu, jangan pernah mencari orang yang sudah pergi. Karna dia tidak akan kembali hanya untuk sesuatu yang sudah di buang."
Tepat pas mengenai hatiku, Mas. Dia pergi meninggalkan aku yang masih termangu mendengar ucapannya.
"Aku di buang.." gumam ku.
******* pojok author..
🧕 : lah iya emang di buang. Kan sampah ngapain di ambil lagi. Baru sadar Loch..
__ADS_1