
Persidangan mengenai Mikola menguras emosiku.
Clara yang menangis tak henti henti membuatku jengkel. Entah menangis karna takut kehilangan apa, yang pasti dia tidak takut kehilangan anaknya. Bukti semua sudah jelas, bahwa dia hanya menjadikan Mikola sebagai alat untuk hidup bersamaku.
Entah bagaimana selama ini aku bisa tergila gila pada wanita gila seperti dia.
Andai saja waktu itu aku tidak terburu-buru membuat akte nikah, mungkin kali ini aku tidak akan kerepotan untuk menjalani sidang yang berbelit belit.
"Kamu mau nya, apa! Dia bukan anakku, maka kembalikan dia. Dan dia anak kalian, maka pergilah bersamanya. Jangan mempersulit hidupku, Clara." dengan nada pelan namun dalam, aku mengeratkan genggaman tanganku sampai dia menunjukan ekspresi kesakitan.
AW ...
Dia menatapku sendu dan memohon agar aku melepaskan tanganku.
"Hentikan sekarang, pergilah dari hidupku, Clara. Aku sudah muak dengan, dirimu!." aku menatapnya tajam.
Dia meronta mencoba melepaskan tanganku.
Aku menghempas tangannya dengan kasar.
Aku berdiri di hadapan hakim dan jaksa, serta kekasih sekaligus Papa kandung Mikola.
"Mohon maaf, Pak Hakim, Pak Jaksa." aku menundukkan kepalaku dengan sopan.
"Kami sudah sepakat akan melepaskan, Ananda Mikola. Dia berhak hidup dengan keluarga yang lengkap, bersama ayah dan ibu biologisnya. Maka dari itu, saya sudah tidak ada keberatan akan perpindahan hak asuh Mikola, dan tentang persidangan ini sekaligus ingin memutuskan pernikahan saya bersama, Nyonya Clara. Mulai hari ini, saya Reza Abraham Lincoln menceraikan Clara Aditama putri dan membebaskannya dari segala ikatan kepada saya. Terimakasih atas segalanya." aku menundukkan kepala kembali kepada semuanya.
Mata Clara menatapku tajam, dengan air mata yang terus mengalir. Mudah sekali air matanya keluar, walau tanpa sebab. Kenapa selama ini aku tidak sadar kalau dia wanita yang pandai akting. Mana mungkin dari tadi dia menangisi Mikola, padahal sudah jelas sekali sikapnya saat Mikola di rumah sakit, acuh tak acuh.
Setelah menjalani serangkaian prosedur, akhirnya keputusan sudah di tentukan. Aku resmi berpisah dengan Clara langsung di hadapan kuasa hukum kami, begitupun Mikola resmi di boyong kembali kerumah Ayah kandungnya, Freddy.
__ADS_1
Lega rasanya mengakhiri segala drama ini. Di saat aku tengah bersantai sambil menikmati kopi di cafe tempat persidangan. Menunggu kuasa hukum ku merapikan segala dokumen yang di perlukan.
Mataku tertuju pada sosok wanita yang sangat ku kenal, Bella.
Dia datang bersama Edward dan Ricardo. Edward di gendong Ricardo, sedangkan Bella berlari dalam pelukan Gaga.
Mereka bertiga nampak sekali bahagia di atas kehancuran ku. Aku yang sedang hancur berkeping-keping, eh mereka malah asik saling rangkul. Apa mereka lupa, anak yang mereka peluk adalah anak biologis ku, anak kandungku. Sesantai itu mereka tertawa bersama di hadapanku.
"Kita tunggu saja, sampai kapan kebahagiaan kalian!. Aku akan cari cara agar bisa memenangkan hak asuh Edward secepatnya. Lihat bagaimana kalian akan hancur karna harus kehilangan. Dan tentu saja, jika Bella ingin bersama Edward, maka harus memenuhi persyaratan dariku." aku melipat tanganku di atas dada. Aku ingin menghancurkan wajah dingin dan bahagia Gaga. Yang dengan bangga dan arogan mendatangiku, memberi kebahagiaan sekaligus luka untukku. Kita lihat, bagaimana wajahnya jika kehancuran ini di rasakan padanya. Aku yakin, Bella akan pergi kemanapun Edward berada. Karna dia seorang wanita lembut penuh kasih sayang, tidak mungkin akan meninggalkan anaknya.
Hanya dengan membayangkan kehancurannya aku sudah bahagia, maka dari itu tekat ku sudah bulat. Aku akan berusaha bagaimana pun caranya.
Aku bukan egois atau kejam, tapi Edward dan Bella adalah milikku. Siapapun tidak berhak bahagia bersama mereka tanpa diriku dan tidak ada yang berhak di cintai Bella selain diriku. Hanya aku yang berhak di panggil Daddy oleh Edward.
***
"Kamu kenapa kesini, sayang?." tanyanya sambil membelaiku.
"Aku takut, Mas. Entah takut kenapa, tapi hatiku tidak tenang." ucapku padanya. Sedari masalah Mikola masuk persidangan, hatiku selalu ada gangguan. Apalagi beberapa kali Reza menghampiriku dengan ucapan dan sikapnya yang kasar.
"Sayang... tenanglah. Semua belum terjadi, apapun belum terjadi dan tidak akan terjadi. Kamu harus yakin, setiap masalah yang datang.. Tuhan memberikan jalan untuk keluar." Mas Gaga mengeluarkan petuahnya.
Dia selalu menampilkan wajah tenangnya di hadapanku. Aku hanya sekali melihatnya panik dan cemas saat aku melahirkan Edward dua tahun yang lalu dan saat kami menikah. Setelah itu, walau masalah datang bergantian tapi wajahnya tidak pernah ku lihat panik atau cemas. Dia lelaki yang selalu bisa menenangkan hatiku dan juga melindungi kami.
"Sayang.. Daddy kangen banget sama Edward.." dia melambaikan tangannya kepada Edward. Aku melepaskan pelukan ku dan berdiri di sisinya.
"Bagaimana, Mas. Semua selesai dengan baik?." tanya Ricardo yang sedikit tau tentang persidangan ini dariku.
"Hmmm.. iya. Reza memutuskan hal yang bagus di hadapan hakim dan itu mempermudah prosesnya. Tindakannya kali ini aku akui terbaik, dari pada terus berlarut dan membuang waktu." ucapnya seraya mengendong Edward.
__ADS_1
"Baguslah dia bisa berpikir jernih." balas Ricardo. "Apapun yang bukan miliknya, harus di kembalikan pada pemiliknya." tambahnya.
Aku termenung dengan ucapannya, hatiku bertambah risau. Aku takut Reza berpaling pada Edward dan mencoba merebutnya dariku.
"Walaupun Reza cukup bertanggung jawab atas Mikola, itu tidak cukup karna dia bukan ayah biologisnya. Begitupun sebaliknya, walaupun dia ayah biologis kalau tidak bertanggungjawab apa yang mampu, di milikinya?." Ricardo menambahkan ucapannya seraya berjalan di hadapanku masuk ke toko kue yang kami tuju.
"Sayang, hmmm kamu mau kue apa?." tepuk Mas Gaga pada bahuku membuat lamunanku buyar. Aku menoleh padanya yang sedang memperhatikan wajahku dengan menaikan satu alisnya. Aku tersenyum dan beralih menatap kue di hadapanku.
"Hmmm... ini enak, Mas. Rasa tiramisu dengan topping coklat." aku menunjuk kue tart yang berbentuk bulat di hadapanku.
"Hmmm... boleh tuh. Oh iya, Tante dimana ?." Mas Gaga mencari Tante Rina dan Ricardo juga sudah menghilang entah kemana.
Aku melirik sekelilingku tapi tidak menemukan mereka.
"Entah, Mas. Kok gak ada ya.. Coba aku tanya mereka di mana ya, Mas." aku mengeluarkan ponselnya.
[Pesan Keluar Tante Rina]
"Tante dimana? bersama Ricardo? Aku di toko kue bagian depan, Tan."
TRING ...
[Pesan Masuk Tante Rina]
"Iya, sayang. Tante dan Ricardo sedang melihat proses dekor kuenya di atas. Kesini saja."
Setelah membaca pesan dari Tante, aku memberitahu Mas Gaga.
"Biar deh mereka sedang sibuk, sayang. Kita nikmati kue dan kopi di meja sudut sana saja, ya." Mas Gaga menunjuk satu meja di sudut ruangan. Aku mengangguk dan memesan kue dan kopi pada pelayan toko.
__ADS_1