
"Hari ini bolehkah Bella ikut, papa ?" ucap Papa Surya.
Mas Reza menatapku. Aku mengangkat alisku.
"Papa cuma mau ajak Bella nginep dirumah, Reza. Gak apa apa kan ?" papa meminta izin pada Mas Reza.
Mas Reza menatapku penuh harap, tersirat di wajahnya "Jangan pergi". Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi wajah yang dia tunjukan, siapapun tau maksudnya.
"Itu pun jika kamu sebagai suami mengizinkan." tambah papa yang tau kalau Mas Reza enggan mengizinkan.
"Aku mau kok Pa, malam ini aku menginap dirumah Papa. Bolehkan, Mas ?" tanyaku asal, karna aku tau dia tak ingin aku pergi.
Mas Reza menatapku dengan kesal di wajahnya.
"Ya gak apa-apa kali, kan dirumah Papanya sendiri." tambah Tante Rina.
Davina mengangguk dan aku pun antusias mengangguk.
Mas Reza mengangguk walau tanpa senyuman di wajahnya.
Lucu sekali suamiku ini cemburu kok ya sama Papaku sendiri.
TRING ...
"Malam ini aja, selanjutnya gak ada acara nginep nginep lain lagi. Awas aja, aku gak izinin."
Rasanya aku ingin tertawa terbahak bahak membaca pesannya. Duduk bersebelahan tapi dia mengirimkan pesan ancamannya padaku lewat chat.
Mas Reza sungguh konyol sikapmu.
Malam ini aku menginap untuk yang pertama kali dirumah Papaku. Rumah sejarah dimana Mama di besarkan.
__ADS_1
Aku berkeliling ke setiap penjuru rumah.
Sampai di sebuah kamar yang di kunci.
"Ini kamar yang gak pernah aku lihat semenjak aku kecil. Entah isinya apa, Mamaku pun enggan bercerita." jelas Davina yang menjadi pemandu ku.
Aku mengangguk.
"Kalian mau masuk ?"
Suara tiba tiba Papa membuat kami kaget dalam lamunan.
Kami menoleh ke arah Papa dan mengangguk.
"Apakah boleh Pa, bukankan selama ini selalu di kunci rapat ?" tanya Davina.
"Boleh, karna pemiliknya sudah datang." Papa melirikku.
Apa maksud Papa berkata "pemilik" kepadaku.
Mataku membulat, mulutku menganga.
Apa yang kulihat, ini benar ?
Kamar bayi dengan dekorasi peach dan putih.
Kamar yang di tata indah dan lucu.
Tempat tidur dengan kelambu renda.
Boneka boneka terpajang indah.
__ADS_1
Kamar untuk siapakah ini ?
Apa untukku ?
Simple dan elegan.
"Ini kamar yang khusus di buat untuk menyambut kelahiran bayi ku dan Kartika, Bella Saphira." ujar Papa.
"Aku yang bodoh tidak mengenal putriku dari awal. Kartika selalu bilang, jika anaknya perempuan akan di beri nama "Bella Saphira" sedangkan jika laki laki itu menjadi hak ku memberi nama."
"Kamar ini di buat saat usia pernikahan kami baru beberapa bulan, Kartika sudah antusias mempersiapkan semuanya."
Papa duduk dengan air mata yang berlinang.
"Mungkin jika kesalahan itu tidak ku lakukan, kamu akan lahir dan tumbuh besar di rumah ini, Bella." Papa mengusap air matanya.
Aku yang masih mematung di depan pintu begitu pun dengan Davina.
Entah apa yang di rasakan dirinya, menjadi putri yang lahir setelah "kesalahan".
Aku menggenggam tangannya, menguatkan hatinya.
Ini semua bukan kesalahannya.
"Maafkan aku nak, kesalahanku membuat kalian banyak menderita. Kamar ini tidak pernah di sentuh atau di lihat orang lain selain Mamamu dan diriku."
Aku melangkah masuk mendekati Papa. Menuntun Davina bersama.
"Pa semua sudah berlalu, biarkanlah pergi. Aku sudah bahagia sekarang. Memiliki Papa, Tante, adik adik serta suami yang menyayangi ku."
__ADS_1
Aku merangkul lengan Papa.
Mungkin jika, aku memang bisa lahir di rumah ini alangkah indahnya. Tapi takdir tidak bersamaku dirumah ini saat itu. Mama anak bayi yang kau harapkan ada di kamar ini, sekarang dia ada Ma, aku hadir di kamar ini. Terimakasih Ma, kamarnya indah sekali. Aku suka.