
Rencana yang telah ku susun hancur.
Berharap ada kata "Maaf" ternyata malah dapat penolakan.
Ya mungkin aku terlalu besar hati mengharap kata maaf itu dari "dia" yang telah memberikan hidupnya.
Tanpa dia aku takkan ada di dunia ini.
Aku bukan orang baik yang bersifat mulia, tapi aku hanya manusia yang berusaha keras untuk menjadi lebih baik.
"Pah, terimakasih. Luka ini terus menganga. Andai papa bisa melihatnya, apa papa akan terus melukai perasaan ku ?"
Perdebatan sengit membuat kepalaku pusing dan mual.
Brak.. Aku memukul meja.
"Sudah selesaikan kalian berdebat. Jika belum silahkan di lanjutkan, acara makan malam selesai. Terimakasih." aku menyatukan kedua telapak tangan ku di depan dada.
Aku pergi meninggalkan mereka yang menatapku.
Di susul suamiku dan Tante Rina.
"Sayang, kamu harus tenang." Mas Reza memelukku di dalam mobil.
"Bell, sebenarnya apa rencana mu ?" Tante Rina menepuk bahuku.
Aku menjelaskan maksud ku sebenarnya.
Tante mengangguk sambil mengelus punggungku dalam pelukan mas Reza.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, kita tunggu aja. Manusia yang tidak mengerti dan tidak menyukai kita, sebaik apapun perlakuan kita mereka akan menganggap semua salah." nasehat Tante Rina.
Hati adalah lautan tak berdasar.
***
Semenjak masalah itu, Davina tidak pernah lagi menghampiri ku. Bahkan yang biasanya akan datang kerumah saat hari libur, tapi kini tidak.
Hari pesta pernikahan ku dan Mas Reza sudah mendekat. Memang sudah takdirku mungkin tidak di dampingi orang tuaku.
Sempat bermimpi di dampingi Sang Papa tapi apa daya, sampai saat ini kami belum bersatu malah semakin menjauh.
"Kamu sudah fitting baju pengantin, sayang ?" Tante Rina membawa beberapa lempar gambar dekorasi pelaminan.
"Hmm, belum Tan. Mungkin Minggu ini aku berangkat tunggu Mas Reza ada waktu luang." ucapku.
"Ya kalau Reza gak bisa Tante kan, ada." Tante menyodorkan lembaran lembaran yang di bawanya.
"Kan kamu yang nikah, sayang. Selera mu lah, masa Tante." ucapnya sambil menatap satu persatu lembaran di tangannya.
"Ya, tapi Tante aja yang pilih nanti tinggal bilang Mas Reza cocok apa gak. Aku gak masalah pakai gaya apapun, Tan." aku ikut melihat lihat.
"Oh iya Bell, udah ada kabar dari Papamu ?" pertanyaan Tante membuat mood ku yang baru saja ku tata hancur kembali. Tante dengan santai melihat lihat gambar tanpa menatapku.
"Arg bikin kesel aja ah."
"Bell.."
"Belum, Tan. Nanti aku coba cari waktu dan cara lagi untuk hubungi mereka Tan."
__ADS_1
"Baiklah.. Sekarang fokus aja dulu sama dekorasi pernikahan mu ini."
TRING ... TRING ...
Ponselku berdering.
Panggilan masuk dari "Mas Reza ❤️".
"Sebentar, Tan. Aku angkat telpon dulu ya." tante mengangguk aku langsung bergegas pindah tempat.
"Pyuh.. akhirnya bisa lari juga dari Tante."
"Iya, Mas ada apa maaf lama angkat." ucapku.
Mas Reza menceritakan bahwa hari ini dia tidak sengaja bertemu papa Surya dan sempat berbincang sebentar.
Mas Reza mengungkapkan bahwa dia meminta izin dan restu sekaligus mengundang Papa Surya untuk hadir di pernikahanku nanti, sebagai wali.
"Lalu bagaimana, Mas tanggapan Papa ?" aku berdebar menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut papaku.
DEG .. DEG ...
"Papa akan datang, sayang. Beliau merestui kita dan akan hadir sebagai, wali."
BYUR ...
Seperti tanah kering di siram air. Betapa sejuk hatiku sampai tak terasa air mata ini mengalir.
"T-terima ka-kasih Mas." aku tersendu sendu menahan gejolak hatiku. Kegundahan yang menyelimuti hatiku sekejap hilang.
__ADS_1
Walau aku tak tau nanti harus bersikap seperti apa di hadapan beliau dan aku belum tau bagaimana caranya Mas Reza bisa membujuk beliau.
Tapi aku lega dan senang.